Adab Bermedia Sosial Jari yang Menulis Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Jumat

Adab Bermedia Sosial Jari yang Menulis Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Adab Bermedia Sosial

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dahulu dosa lisan keluar melalui mulut. Hari ini, dosa lisan juga keluar melalui jari. Komentar yang kasar, status yang menyindir, unggahan yang membuka aib, pesan yang menyebarkan fitnah, dan berita yang dibagikan tanpa tabayyun, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Seorang mukmin tidak boleh merasa bebas hanya karena berada di balik layar. Allah tetap melihat. Malaikat tetap mencatat. Tulisan yang kita anggap ringan bisa menjadi saksi. Unggahan yang kita lupa bisa terus dibaca orang. Maka bertakwalah kepada Allah dalam setiap kata yang kita tulis dan setiap konten yang kita sebarkan.

Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

"Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat." (QS. Qaf: 18)

Ayat ini mengingatkan bahwa ucapan dicatat. Pada zaman ini, tulisan, komentar, dan unggahan juga menjadi bagian dari jejak kata yang akan dipertanggungjawabkan.

1. Jari yang Menulis Akan Menjadi Saksi

Saudaraku kaum muslimin,

Jari yang kita gunakan untuk menulis pesan, membalas komentar, menekan tombol bagikan, dan menyukai suatu konten bukanlah anggota tubuh yang bebas dari hisab. Pada hari kiamat, tangan akan bersaksi atas apa yang pernah dilakukan. Termasuk apa yang pernah ditulis dan disebarkan.

Karena itu, sebelum menulis, berhentilah sejenak. Apakah tulisan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah menyakiti? Apakah membuka aib? Apakah mengundang fitnah? Apakah Allah ridha bila catatan ini dibuka di hadapan-Nya? Pertanyaan sederhana ini dapat menyelamatkan kita dari banyak dosa.

Allah berfirman:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berbicara kepada Kami, dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. Yasin: 65)

Jangan merasa aman karena manusia tidak melihat.
Jangan merasa bebas karena berada di balik layar.
Tangan yang menulis akan menjadi saksi di hadapan Allah.

2. Tabayyun Sebelum Membagikan Kabar

Jamaah yang dirahmati Allah,

Salah satu dosa besar dalam media sosial adalah menyebarkan kabar tanpa memeriksa kebenarannya. Kadang seseorang hanya membaca judul, lalu langsung membagikan. Kadang hanya menerima pesan dari grup, lalu menyebarkan ke grup lain. Padahal kabar itu bisa jadi dusta, fitnah, atau menimbulkan keresahan.

Seorang mukmin tidak boleh menjadi jembatan kebohongan. Jangan berkata, "Saya hanya meneruskan." Bila kita ikut menyebarkan kabar yang salah, kita ikut menanggung akibatnya. Maka telitilah sebelum membagikan. Diam dari berita yang belum jelas lebih selamat daripada tergesa-gesa menjadi penyebar dosa.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)

Tabayyun adalah adab besar. Ia menjaga kita dari menzalimi orang lain dan menjaga masyarakat dari fitnah kabar yang tidak benar.

3. Jangan Jadikan Media Sosial Tempat Ghibah dan Fitnah

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ghibah di media sosial sering lebih berbahaya daripada ghibah lisan biasa. Sebab ia dapat menyebar luas, dibaca banyak orang, disimpan, disalin, dan muncul kembali walaupun kita sudah lupa. Aib seseorang yang disebarkan di dunia maya bisa melukai keluarganya, pekerjaannya, kehormatannya, dan masa depannya.

Jangan membuka aib orang dengan alasan "biar viral." Jangan mempermalukan orang dengan alasan "sekadar hiburan." Jangan menyebarkan video kesalahan orang hanya karena ingin ikut ramai. Seorang muslim adalah penjaga kehormatan saudaranya, bukan pemburu aibnya.

Allah berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

"Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12)

Ghibah tetap ghibah meskipun ditulis.
Fitnah tetap fitnah meskipun dibagikan ulang.
Membuka aib tetap dosa meskipun banyak orang ikut melakukannya.

4. Komentar adalah Cermin Akhlak

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Komentar yang kita tulis menunjukkan keadaan akhlak kita. Ada orang yang di dunia nyata tampak sopan, tetapi di media sosial lisannya kasar melalui tulisan. Ia mudah menghina, mengejek, memaki, merendahkan, dan menyakiti orang lain. Padahal adab tidak hanya berlaku saat bertatap muka, tetapi juga saat menulis di ruang digital.

Jangan menulis komentar yang akan kita sesali di akhirat. Jangan menghina rupa, pekerjaan, keluarga, suku, keadaan ekonomi, atau kesalahan masa lalu seseorang. Bisa jadi orang yang kita hina lebih mulia di sisi Allah. Bisa jadi satu komentar menyakitkan menjadi luka yang panjang bagi orang lain.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada media sosial, lisan dan tangan seakan bersatu. Hati yang beriman harus menjaga keduanya agar manusia selamat dari keburukan kita.

5. Hati-hati dengan Pamer dan Mencari Pujian

Jamaah yang dirahmati Allah,

Media sosial juga dapat menjadi tempat tumbuhnya riya, ujub, dan cinta pujian. Tidak semua yang kita lakukan harus ditampilkan. Tidak semua kebaikan harus diketahui orang. Tidak semua nikmat harus dipertontonkan. Ada amal yang lebih selamat bila disembunyikan, ada nikmat yang lebih berkah bila dijaga dari pandangan dan komentar manusia.

Bukan berarti semua unggahan kebaikan dilarang. Kadang berbagi kebaikan dapat menjadi motivasi dan dakwah. Tetapi hati harus dijaga. Jangan sampai niat berubah dari mencari ridha Allah menjadi mencari pengakuan manusia. Jangan sampai kebahagiaan kita bergantung pada pujian, jumlah suka, dan komentar orang.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

"Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebelum mengunggah kebaikan, periksa niat.
Sebelum menampilkan nikmat, periksa hati.
Jangan sampai yang terlihat indah di mata manusia menjadi kosong di sisi Allah.

6. Jadikan Media Sosial Ladang Kebaikan

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Media sosial tidak harus menjadi tempat dosa. Ia bisa menjadi ladang pahala bila digunakan dengan benar. Tulislah nasihat yang lembut. Bagikan ilmu yang benar. Sebarkan doa. Sambung silaturahim. Tawarkan bantuan. Hiburlah orang yang sedih. Ajak kepada kebaikan tanpa merasa paling suci.

Jangan jadikan akun kita sebagai tempat orang terluka. Jadikan ia sebagai tempat orang mendapat manfaat. Jangan jadikan jari kita penyebar fitnah. Jadikan ia penyebar ilmu. Jangan jadikan waktu kita habis untuk perdebatan yang mengeraskan hati. Jadikan waktu kita untuk kebaikan yang mendekatkan kepada Allah.

Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

"Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)

Kata baik tidak hanya berlaku di mimbar dan majelis. Kata baik juga berlaku di pesan, komentar, status, dan setiap ruang komunikasi yang kita gunakan.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita periksa jejak digital kita. Apakah ada komentar yang melukai? Apakah ada berita yang pernah kita sebar tanpa tabayyun? Apakah ada aib orang yang pernah kita buka? Apakah ada unggahan yang membuat hati kita riya? Apakah ada waktu yang terlalu banyak habis untuk hal yang tidak mendekatkan kita kepada Allah?

Media sosial adalah ujian zaman ini. Ia bisa menjadi jalan pahala atau jalan penyesalan. Jari yang menulis akan dimintai pertanggungjawaban. Maka gunakanlah dengan taqwa. Tahanlah diri dari yang haram. Sebarkan yang bermanfaat. Diamlah dari yang tidak jelas. Dan ingatlah, setiap unggahan akan kembali kepada pemiliknya di hadapan Allah.

Ya Allah, jagalah lisan dan jari kami dari dosa di dunia nyata maupun dunia maya.
Ampuni komentar, tulisan, unggahan, dan kabar salah yang pernah kami sebarkan.
Jauhkan kami dari hoaks, ghibah, fitnah, riya, dan perdebatan yang mengeraskan hati.
Jadikan media sosial kami sarana dakwah, ilmu, silaturahim, dan kebaikan.
Bimbing kami agar selalu tabayyun, berkata baik, dan menjaga kehormatan sesama.

Sebab jari yang menulis akan dimintai pertanggungjawaban, dan sebaik-baik jejak digital adalah yang menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah.

Semoga Allah menjaga kita dari dosa-dosa digital, membersihkan jejak kita dari keburukan, menjadikan setiap tulisan kita bernilai manfaat, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَيْدِيَنَا وَأَعْيُنَنَا وَأَسْمَاعَنَا مِنَ الْحَرَامِ، وَطَهِّرْ كَلَامَنَا وَكِتَابَاتِنَا وَمَجَالِسَنَا مِنَ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْكَذِبِ وَالْبُهْتَانِ، وَاجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَوَفِّقْنَا لِلتَّبَيُّنِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit