Adab kepada Mertua Bagian dari Kemuliaan Akhlak Keluarga
Jumat

Adab kepada Mertua Bagian dari Kemuliaan Akhlak Keluarga

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Adab kepada Mertua

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Memuliakan mertua adalah bagian dari kemuliaan akhlak keluarga. Islam mengajarkan berbuat baik, menjaga silaturahim, memuliakan orang yang lebih tua, dan menjauhi ucapan yang menyakiti. Maka seorang menantu yang beriman hendaknya menjaga adab kepada mertua, sebagaimana ia ingin pasangannya menjaga adab kepada orang tuanya sendiri.

Hubungan menantu dan mertua tidak selalu mudah. Ada perbedaan kebiasaan, cara berpikir, cara mendidik, dan cara melihat rumah tangga. Tetapi perbedaan itu tidak boleh menjadi alasan untuk kasar, menghina, memutus hubungan, atau mengadu domba. Di sinilah akhlak diuji: apakah kita mampu tetap beradab ketika keadaan tidak selalu sesuai harapan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

"Sesungguhnya di antara orang terbaik dari kalian adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebaikan akhlak tidak hanya tampak di masjid atau di hadapan orang luar, tetapi juga tampak di dalam keluarga, termasuk kepada mertua dan keluarga pasangan.

1. Mertua adalah Orang Tua dari Pasangan Kita

Saudaraku kaum muslimin,

Mertua adalah ayah dan ibu dari orang yang menjadi pasangan hidup kita. Mereka pernah merawat, membesarkan, mendidik, dan mendoakan pasangan kita sebelum ia hidup bersama kita. Bila kita mencintai pasangan karena Allah, maka selayaknya kita juga menghormati orang tua yang menjadi sebab hadirnya pasangan itu dalam hidup kita.

Tidak pantas seseorang menuntut pasangannya memuliakan orang tuanya, tetapi ia sendiri merendahkan mertua. Tidak pantas ia ingin keluarganya dihormati, tetapi keluarga pasangan sering dicela. Keadilan akhlak menuntut kita memperlakukan keluarga pasangan dengan adab yang baik.

Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

"Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)

Jika kepada manusia umum saja kita diperintahkan berkata baik,
maka kepada mertua yang menjadi keluarga melalui pernikahan tentu lebih layak kita jaga adabnya.

2. Menjaga Lisan dari Mencela Mertua

Jamaah yang dirahmati Allah,

Banyak keretakan rumah tangga bermula dari lisan yang tidak dijaga. Mertua dicela di hadapan pasangan. Kekurangan mereka dijadikan bahan keluhan. Kebiasaan mereka diperolok. Nasihat mereka dibalas dengan sindiran. Akhirnya pasangan merasa orang tuanya direndahkan, lalu rumah tangga menjadi panas.

Jika ada yang tidak sesuai, bicarakan dengan adab. Jika ada batas yang perlu dijaga, sampaikan dengan hikmah. Jika ada luka, cari jalan penyelesaian yang baik. Jangan jadikan lisan sebagai api yang membakar hubungan. Sebab menghina mertua berarti melukai hati pasangan, dan melukai pasangan sering membawa kerusakan panjang dalam rumah tangga.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hubungan keluarga, diam dari ucapan yang melukai sering lebih selamat daripada berkata benar tetapi dengan cara yang merusak.

3. Berbuat Baik tanpa Kehilangan Batas yang Sehat

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Adab kepada mertua bukan berarti semua hal harus diikuti tanpa batas. Rumah tangga tetap memiliki wilayah yang harus dijaga oleh suami dan istri. Ada keputusan yang harus dimusyawarahkan berdua. Ada rahasia rumah tangga yang tidak perlu dibuka kepada keluarga besar. Ada batas yang perlu disampaikan agar hubungan tetap sehat.

Namun batas yang sehat harus disampaikan dengan adab. Jangan kasar. Jangan mempermalukan. Jangan berkata, "Jangan ikut campur!" dengan nada menghina. Sampaikan dengan lembut dan hormat. Minta pasangan menjadi penghubung bila lebih maslahat. Tujuannya bukan memutus hubungan, tetapi menjaga agar hubungan tetap baik dan rumah tangga tetap tenang.

Allah berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Tolaklah dengan cara yang lebih baik." (QS. Fussilat: 34)

Batas tetap perlu.
Tetapi batas tanpa adab akan terasa seperti penghinaan.
Sampaikan dengan hikmah agar keluarga tetap terjaga.

4. Jangan Jadikan Pasangan Terjepit antara Orang Tua dan Rumah Tangga

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Di antara kesalahan yang sering terjadi adalah membuat pasangan selalu harus memilih secara keras antara orang tua dan rumah tangga. Seorang suami atau istri memang harus menjaga rumah tangganya, tetapi ia juga tidak boleh memutus bakti kepada orang tuanya. Maka pasangan yang baik tidak memancing permusuhan, tetapi membantu menjaga keseimbangan.

Jangan berkata, "Pilih aku atau orang tuamu," kecuali dalam keadaan darurat yang benar-benar memerlukan perlindungan dari bahaya nyata. Dalam keadaan umum, bantulah pasangan tetap berbakti kepada orang tuanya. Sebab suatu hari kita pun ingin anak-anak kita tetap berbakti ketika mereka telah menikah.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

"Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Pasangan yang saleh bukan memutus jalan bakti, tetapi membantu pasangannya berbuat baik kepada orang tua dengan tetap menjaga kehormatan rumah tangga.

5. Muliakan Mertua dengan Perhatian yang Wajar

Jamaah yang dirahmati Allah,

Memuliakan mertua tidak selalu dengan sesuatu yang besar. Kadang cukup dengan menyapa, menanyakan kabar, mengunjungi sewajarnya, membantu ketika mampu, berbicara dengan sopan, mendoakan, dan tidak membuat mereka merasa kehilangan anak setelah anaknya menikah.

Seorang menantu yang baik tidak memutus hubungan pasangannya dengan orang tua. Ia tidak cemburu kepada bakti yang benar. Ia tidak merasa tersaingi oleh kasih sayang pasangan kepada orang tua. Sebab cinta rumah tangga yang sehat tidak memadamkan bakti, tetapi mengaturnya dengan adil dan penuh hikmah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak menghormati yang tua." (HR. Tirmidzi)

Mertua adalah orang tua yang lebih tua dari kita.
Hormati usia mereka, hargai perasaan mereka, dan jaga hubungan dengan adab yang mulia.

6. Selesaikan Masalah Keluarga dengan Hikmah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Tidak semua hubungan menantu dan mertua berjalan mudah. Ada yang terluka oleh ucapan, ada yang merasa terlalu diatur, ada yang merasa tidak dihargai, ada yang sulit menyesuaikan kebiasaan. Dalam keadaan seperti ini, Islam mengajarkan penyelesaian dengan hikmah, bukan dengan membuka aib dan memperbesar api.

Berbicaralah baik-baik dengan pasangan. Pilih waktu yang tenang. Bedakan antara masalah yang harus dibicarakan dan hal kecil yang lebih baik dimaafkan. Jangan membawa semua masalah ke media sosial. Jangan menjadikan keluarga besar sebagai medan perang. Bila perlu, mintalah nasihat kepada orang yang berilmu, bijak, dan menjaga rahasia.

Allah berfirman:

وَالصُّلْحُ خَيْرٌ

"Perdamaian itu lebih baik." (QS. An-Nisa: 128)

Dalam keluarga, tidak semua yang benar harus dimenangkan dengan keras. Kadang yang lebih mulia adalah berdamai, memaafkan, dan menjaga hubungan agar tidak hancur.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Bagaimana adab kita kepada mertua? Apakah kita menjaga lisan dari mencela mereka? Apakah kita membantu pasangan tetap berbakti kepada orang tuanya? Apakah kita memperlakukan keluarga pasangan sebagaimana kita ingin keluarga kita diperlakukan?

Adab kepada mertua adalah bagian dari kemuliaan akhlak keluarga. Ia bukan menggantikan bakti kepada orang tua kandung, tetapi melengkapi keindahan rumah tangga. Mertua adalah orang tua pasangan kita. Memuliakan mereka dengan adab yang baik dapat menjadi sebab rumah tangga lebih teduh, pasangan lebih tenang, dan keluarga besar lebih terjaga.

Ya Allah, perindahlah akhlak kami di dalam keluarga.
Lembutkan lisan kami kepada orang tua, mertua, pasangan, dan keluarga besar kami.
Jauhkan kami dari ucapan yang memecah, sikap yang merendahkan, dan ego yang merusak hubungan.
Bimbing kami agar mampu menjaga batas dengan adab, menyelesaikan masalah dengan hikmah, dan memuliakan orang tua pasangan kami dengan cara yang Engkau ridhai.
Jadikan rumah tangga kami rumah tangga yang penuh rahmat, adab, saling menghormati, dan keberkahan.

Sebab adab kepada mertua adalah bagian dari kemuliaan akhlak keluarga, dan akhlak yang baik adalah perhiasan rumah tangga yang diberkahi Allah.

Semoga Allah memperbaiki hubungan keluarga kita, menjaga rumah tangga kaum muslimin, menerima amal bakti kita, mengampuni kelalaian kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَهْلِينَا، وَأَصْلِحْ مَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ آبَاءِ أَزْوَاجِنَا وَأُمَّهَاتِهِمْ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخُلُقِ وَحُسْنَ الْقَوْلِ وَحِفْظَ الْحُدُودِ بِالْأَدَبِ وَالرَّحْمَةِ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ سَكِينَةٍ وَمَوَدَّةٍ وَرَحْمَةٍ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit