Bahaya Ghibah Ketika Lisan Memakan Kehormatan Saudara Sendiri
Jumat

Bahaya Ghibah Ketika Lisan Memakan Kehormatan Saudara Sendiri

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Bahaya Ghibah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ghibah adalah membicarakan saudara kita dengan sesuatu yang ia tidak sukai bila mendengarnya, walaupun yang dibicarakan itu benar. Jika yang dibicarakan tidak benar, maka dosanya lebih berat karena berubah menjadi fitnah. Maka jangan merasa aman hanya karena ucapan kita sesuai kenyataan. Bila ucapan itu membuka aib tanpa kebutuhan syar'i, maka ia tetap berbahaya.

Ghibah terasa ringan di lidah, tetapi berat dalam timbangan dosa. Ia merusak persaudaraan, mengotori hati, menyuburkan buruk sangka, dan menghancurkan kehormatan manusia. Orang yang dighibahi mungkin tidak hadir membela dirinya, tetapi Allah hadir menyaksikan setiap kata yang diucapkan.

Allah berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

"Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik." (QS. Al-Hujurat: 12)

Allah menggambarkan ghibah dengan gambaran yang sangat mengerikan: memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Ini menunjukkan betapa buruknya ghibah di sisi Allah.

1. Ghibah Sering Disamarkan dengan Alasan Baik

Saudaraku kaum muslimin,

Ghibah sering datang dengan pakaian yang halus. Ada yang berkata, "Saya hanya cerita." Ada yang berkata, "Ini fakta." Ada yang berkata, "Biar jadi pelajaran." Ada yang berkata, "Jangan bilang siapa-siapa." Ada pula yang memulai dengan kalimat, "Bukan mau menjelekkan, tapi..." Lisan seperti ini harus sangat diwaspadai.

Memang ada keadaan tertentu ketika menyebut keburukan seseorang dibolehkan oleh syariat, seperti untuk mengadukan kezaliman, meminta fatwa, memberi peringatan dari bahaya nyata, atau menyelesaikan masalah. Tetapi semua itu harus dengan niat benar, kadar seperlunya, dan bukan karena senang membongkar aib.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjelaskan:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

"Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak sukai." Para sahabat bertanya tentang bila hal itu benar ada padanya, lalu beliau menjelaskan bahwa itulah ghibah. (HR. Muslim)

Tidak semua yang benar boleh dibicarakan.
Tidak semua yang kita tahu harus disebarkan.
Tidak semua aib orang lain menjadi hak lisan kita.

2. Ghibah Merusak Kehormatan Sesama Muslim

Jamaah yang dirahmati Allah,

Islam menjaga kehormatan manusia. Seorang muslim tidak boleh dizalimi hartanya, darahnya, maupun kehormatannya. Ketika kita membuka aib saudara kita, menertawakan kekurangannya, atau menyebarkan kesalahannya, kita sedang melukai kehormatannya.

Betapa sedih bila ada orang yang tidak hadir dalam majelis, tetapi namanya dipotong-potong oleh lisan banyak orang. Ia tidak bisa menjelaskan, tidak bisa membela diri, tidak tahu bahwa kehormatannya sedang dimakan. Maka seorang mukmin harus malu kepada Allah sebelum membuka aib saudaranya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

"Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya." (HR. Muslim)

Kehormatan seorang muslim bukan bahan obrolan. Ia adalah hak yang dijaga oleh syariat dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

3. Ghibah Menghabiskan Amal Kebaikan

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Seseorang mungkin rajin shalat, berpuasa, bersedekah, dan menghadiri majelis ilmu. Tetapi jika lisannya ringan mengghibah, maka ia sedang membahayakan amalnya sendiri. Sebab ghibah berkaitan dengan hak manusia. Jika tidak diselesaikan, ia bisa menjadi tuntutan di hari kiamat.

Di akhirat, orang yang kita ghibahi dapat menuntut haknya. Bukan dengan uang, tetapi dengan pahala. Betapa rugi jika amal yang susah payah kita kumpulkan berpindah kepada orang lain karena lisan yang tidak dijaga. Maka jangan menukar pahala ibadah dengan kepuasan obrolan sesaat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang orang bangkrut:

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا

"Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia pernah mencaci ini, menuduh ini, dan memakan harta ini." (HR. Muslim)

Jangan biarkan lisan menghancurkan amal.
Jangan biarkan obrolan sesaat merampas pahala yang kita butuhkan di akhirat.
Hak manusia adalah urusan berat di hadapan Allah.

4. Ghibah Digital Tetap Ghibah

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Pada zaman ini, ghibah tidak hanya keluar dari mulut. Ia juga keluar melalui jari. Komentar merendahkan, status sindiran, tangkapan layar percakapan pribadi, menyebarkan aib orang, membagikan video memalukan, atau menulis keburukan seseorang di media sosial, semuanya dapat menjadi dosa lisan dalam bentuk tulisan.

Bahkan ghibah digital bisa lebih berbahaya, karena menyebar cepat, tersimpan lama, dan dibaca oleh banyak orang. Sekali dikirim, sulit ditarik kembali. Maka sebelum menulis, sebelum membagikan, sebelum berkomentar, tanyakan kepada hati: apakah Allah ridha dengan ini? Apakah ini membuka aib? Apakah ini akan menjadi saksi buruk pada hari kiamat?

Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

"Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat." (QS. Qaf: 18)

Ucapan dicatat, tulisan pun dicatat. Lisan dan jari sama-sama harus dijaga karena keduanya dapat menjadi jalan pahala atau dosa.

5. Cara Selamat dari Ghibah

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ada beberapa jalan untuk menyelamatkan diri dari ghibah. Pertama, biasakan diam bila tidak ada kebaikan. Kedua, ubah pembicaraan ketika majelis mulai membicarakan aib. Ketiga, ingat aib sendiri sebelum menyebut aib orang lain. Keempat, doakan orang yang ingin kita bicarakan. Kelima, sibukkan lisan dengan dzikir dan shalawat.

Jika berada dalam majelis ghibah, jangan ikut menikmati. Bila mampu, nasihati dengan lembut. Bila tidak mampu, tinggalkan pembicaraan atau alihkan kepada hal yang baik. Orang yang menjaga kehormatan saudaranya di belakangnya sedang menanam kebaikan besar di sisi Allah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barang siapa membela kehormatan saudaranya, Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka pada hari kiamat." (HR. Tirmidzi)

Jangan hanya tidak ikut ghibah,
tetapi jadilah penjaga kehormatan saudara.
Lisan yang membela kebaikan akan dibela oleh Allah.

6. Taubat dari Ghibah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Jika kita pernah mengghibah, maka bertaubatlah kepada Allah. Hentikan ghibah itu, menyesali perbuatan, bertekad tidak mengulanginya, dan perbanyak memohon ampun. Jika ghibah itu sudah sampai kepada orang yang digunjing dan menimbulkan luka, maka minta maaflah dengan cara yang baik. Jika menyampaikan permintaan maaf justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar, perbanyaklah mendoakan kebaikan dan memohon ampun untuknya.

Taubat dari ghibah juga harus dibuktikan dengan menjaga lisan setelahnya. Jangan mengulang pola lama. Jangan mencari-cari aib. Jangan merasa senang ketika mendengar keburukan orang. Hati yang bertaubat akan lebih sibuk memperbaiki diri daripada membicarakan kekurangan manusia.

Allah berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)

Tidak ada lisan yang sempurna tanpa taubat. Maka siapa yang pernah jatuh dalam ghibah, jangan putus asa. Segera kembali kepada Allah dan perbaiki lisan.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita periksa lisan kita. Berapa banyak aib yang pernah kita buka? Berapa banyak nama orang yang pernah kita bicarakan di belakangnya? Berapa banyak obrolan yang kita anggap ringan, padahal di sisi Allah berat? Berapa banyak pahala yang mungkin hilang karena lisan yang tidak dijaga?

Jangan jadikan kehormatan saudara sebagai santapan obrolan. Jangan jadikan kelemahan orang lain sebagai bahan tertawa. Jangan merasa aman dari dosa hanya karena yang dibicarakan itu benar. Sebab ghibah adalah ketika lisan memakan kehormatan saudara sendiri, dan kehormatan manusia akan dituntut di hadapan Allah.

Ya Allah, jagalah lisan kami dari ghibah, fitnah, namimah, dan ucapan yang merusak kehormatan sesama.
Ampuni dosa-dosa lisan kami yang kami ingat maupun yang telah kami lupakan.
Jadikan kami hamba yang menutup aib, menjaga kehormatan, dan membela kebaikan saudara kami.
Sibukkan lisan kami dengan dzikir, shalawat, doa, dan perkataan yang Engkau ridhai.
Selamatkan amal kami dari kerusakan sebab lisan yang tidak terjaga.

Sebab ghibah terasa ringan di lidah, tetapi dapat menjadi beban berat pada hari ketika semua amal ditimbang.

Semoga Allah membersihkan lisan kita, memperbaiki majelis-majelis kita, menjauhkan kita dari membicarakan aib manusia, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْبُهْتَانِ وَسُوءِ الْقَوْلِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَسُوءِ الظَّنِّ، وَاجْعَلْ مَجَالِسَنَا مَجَالِسَ ذِكْرٍ وَرَحْمَةٍ وَإِصْلَاحٍ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِمَنْ اغْتَبْنَاهُمْ وَظَلَمْنَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit