Bahaya Perpecahan Ketika Fitnah Merusak Persaudaraan Bangsa
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Bahaya Perpecahan
Perpecahan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang melalui bisikan kecil, berita yang belum jelas, sindiran yang menyakitkan, unggahan yang memanas-manasi, atau fanatisme yang membuat seseorang buta dari kebenaran. Awalnya hanya kata-kata, akhirnya menjadi permusuhan. Awalnya hanya prasangka, akhirnya menjadi putus persaudaraan.
Islam sangat memperingatkan bahaya perpecahan. Umat yang terpecah akan lemah. Bangsa yang saling curiga akan sulit maju. Masyarakat yang penuh fitnah akan kehilangan ketenteraman. Karena itu, menjaga persatuan bukan sekadar urusan sosial, tetapi bagian dari ketaatan kepada Allah.
Allah berfirman:
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
1. Fitnah Lebih Cepat Merusak daripada Nasihat Membangun
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, satu fitnah bisa merusak hubungan yang dibangun bertahun-tahun. Satu kabar bohong bisa menghancurkan kepercayaan. Satu tuduhan tanpa bukti bisa membuat saudara saling menjauh. Karena itu, Islam memerintahkan tabayyun sebelum menerima dan menyebarkan berita.
Jangan mudah percaya kepada kabar yang memancing emosi. Jangan tergesa-gesa menyebarkan berita karena sesuai dengan kebencian kita. Jangan merasa berjasa hanya karena menjadi orang pertama yang menyampaikan kabar panas. Bisa jadi yang kita sebarkan adalah dosa yang terus berjalan.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Tanpa tabayyun, lisan dan jari mudah menjadi alat perpecahan.
2. Adu Domba adalah Dosa yang Menghancurkan Persaudaraan
Saudaraku kaum muslimin, adu domba adalah perbuatan yang sangat berbahaya. Ia memindahkan ucapan dari satu pihak kepada pihak lain dengan tujuan merusak hubungan. Ia membuat orang yang semula dekat menjadi saling curiga. Ia membuat masyarakat yang damai menjadi panas. Ia membuat saudara menjadi musuh.
Orang yang suka mengadu domba sering tampak seolah-olah memberi informasi, padahal ia menyalakan api. Seorang mukmin harus berhati-hati. Jangan menjadi telinga bagi fitnah. Jangan menjadi mulut bagi namimah. Jangan menjadi jembatan bagi permusuhan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Fanatisme Kelompok Membutakan Kebenaran
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, di antara sebab perpecahan adalah fanatisme kelompok. Seseorang membela kelompoknya walau salah, menolak kebenaran dari pihak lain, dan melihat manusia hanya dengan kacamata “kami” dan “mereka”. Akhirnya keadilan hilang, nasihat ditolak, dan persaudaraan hancur.
Islam mengajarkan agar kita mencintai kebenaran lebih daripada mencintai kelompok. Bila kelompok kita benar, dukung dengan adab. Bila salah, nasihati dengan jujur. Jangan menjadi pembela kebatilan hanya karena nama keluarga, organisasi, suku, partai, atau golongan.
Allah berfirman:
“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma'idah: 8)
Persaudaraan tidak boleh dikorbankan demi ego dan kepentingan sempit.
4. Lisan yang Tidak Dijaga Bisa Membakar Bangsa
Jamaah yang dirahmati Allah, lisan adalah amanah. Dengan lisan orang bisa berdakwah, menasihati, mendamaikan, dan menguatkan. Namun dengan lisan pula orang bisa menghina, memfitnah, menghasut, dan memecah belah. Di zaman sekarang, lisan itu meluas menjadi jari yang menulis di media sosial.
Jangan merasa aman karena hanya menulis dari balik layar. Setiap kata dicatat. Setiap unggahan akan dimintai pertanggungjawaban. Bila tulisan kita membuat orang saling benci, menyebarkan fitnah, dan merusak persaudaraan, maka dosa itu bisa lebih panjang dari usia kita.
Allah berfirman:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
5. Perbedaan Tidak Harus Menjadi Permusuhan
Jamaah Jumat yang berbahagia, dalam kehidupan berbangsa pasti ada perbedaan. Berbeda suku, bahasa, adat, pendapat, pilihan, dan cara pandang. Perbedaan tidak selalu buruk. Yang buruk adalah ketika perbedaan dikelola dengan hawa nafsu, caci maki, kebencian, dan penghinaan.
Orang beriman harus dewasa dalam berbeda. Jika berbeda pendapat, sampaikan dengan adab. Jika tidak sepakat, jangan memutus persaudaraan. Jika menang, jangan sombong. Jika kalah, jangan merusak. Jika melihat kesalahan, nasihati dengan cara yang benar.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Ukhuwah lebih berharga daripada ego pribadi.
6. Pemimpin, Tokoh, dan Orang Berilmu Harus Mendinginkan Keadaan
Saudaraku kaum muslimin, ketika masyarakat panas, orang berilmu, tokoh agama, pemimpin, guru, dan orang tua harus menjadi penenang. Jangan ikut menyulut api. Jangan memperkeruh keadaan. Jangan menjadikan mimbar, jabatan, atau pengaruh sebagai alat memecah belah.
Semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar tanggung jawab lisannya. Satu ucapan tokoh bisa mendamaikan banyak orang, tetapi juga bisa memecah banyak hati. Maka berbicaralah dengan ilmu, keadilan, dan rasa takut kepada Allah. Jadilah pemadam api, bukan penyebar bara.
Allah berfirman:
“Perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisa: 128)
7. Persatuan Bangsa Harus Dirawat dengan Iman dan Akhlak
Jamaah yang dimuliakan Allah, persatuan tidak cukup dijaga dengan slogan. Ia harus dirawat dengan iman, akhlak, keadilan, dan kepedulian. Jika masyarakat saling menolong, saling menghormati, menjaga lisan, dan menolak fitnah, maka persatuan akan kuat.
Namun bila masyarakat saling mencurigai, mudah tersulut, gemar memfitnah, dan lebih senang melihat saudara jatuh, maka persatuan akan rapuh. Bangsa yang rapuh mudah dipermainkan. Umat yang terpecah mudah dilemahkan. Karena itu, menjaga persatuan adalah bagian dari menjaga amanah Allah.
Allah berfirman:
“Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfal: 46)
Persatuan menguatkan.
Fitnah menghancurkan.
Akhlak menyelamatkan.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita pernah menjadi sebab orang saling membenci? Apakah kita mudah menyebarkan berita tanpa tabayyun? Apakah lisan dan jari kita menjaga persaudaraan atau merusaknya? Apakah kita lebih mencintai kebenaran atau lebih membela kelompok sendiri?
Bahaya perpecahan harus kita waspadai. Fitnah yang dibiarkan akan memakan persaudaraan. Adu domba yang disebarkan akan merusak masyarakat. Fanatisme yang dipelihara akan menutup mata dari keadilan. Maka jagalah hati, lisan, jari, dan sikap kita.
Jauhkan kami dari fitnah, adu domba, kebencian, fanatisme buta, dan ucapan yang merusak persaudaraan.
Jadikan kami hamba-hamba yang membawa damai, menasihati dengan adab, menolak berita palsu, dan merawat persatuan bangsa.
Selamatkan negeri kami dari perpecahan, permusuhan, dan orang-orang yang sengaja menyalakan api fitnah.
Sebab bahaya perpecahan adalah rusaknya persaudaraan, lemahnya umat, dan rapuhnya bangsa; sedangkan persatuan yang dijaga dengan iman dan akhlak adalah jalan menuju keberkahan Allah.
Semoga Allah menjaga persatuan kita, membersihkan lisan kita, menguatkan ukhuwah kita, menerima amal kita, mengampuni dosa kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit