Berbakti Walau Orang Tua Banyak Kekurangan
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Berbakti Walau Orang Tua Banyak Kekurangan
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam memerintahkan birrul walidain bukan karena orang tua pasti sempurna, tetapi karena kedudukan mereka sangat besar. Allah tidak memerintahkan berbakti hanya kepada orang tua yang ideal, orang tua yang selalu lembut, atau orang tua yang tidak pernah salah. Perintah berbakti tetap berlaku karena jasa mereka besar dan hak mereka agung.
Namun Islam juga adil. Berbakti bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Berbakti bukan berarti mengikuti perintah maksiat. Berbakti bukan berarti membiarkan diri terus dizalimi tanpa ikhtiar menjaga keselamatan. Berbakti berarti tetap menjaga adab, tetap berbuat baik sesuai kemampuan, tetap mendoakan, dan tetap tidak membalas keburukan dengan kedurhakaan.
Allah berfirman:
"Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, tetapi pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (QS. Luqman: 15)
1. Orang Tua Manusia, Bukan Malaikat
Saudaraku kaum muslimin,
Sering kali hati anak terluka karena menuntut orang tua menjadi sempurna. Padahal orang tua juga tumbuh dari masa lalu mereka sendiri. Mereka mungkin dibesarkan dalam keadaan sulit, kurang pendidikan, kurang kasih sayang, atau penuh tekanan. Kekurangan itu tidak membenarkan kesalahan mereka, tetapi membantu kita melihat mereka dengan lebih luas dan tidak hanya dari sisi lukanya.
Orang tua bisa salah dalam mendidik, salah dalam memilih kata, salah dalam menunjukkan kasih sayang. Tetapi jangan lupa, di balik kekurangan itu sering ada jasa yang besar. Mereka pernah menjaga kita ketika lemah, menafkahi sesuai kemampuan, mendoakan, dan berusaha dengan cara yang mereka pahami. Maka anak yang beriman berusaha adil melihat orang tua: tidak menutup mata dari kesalahan, tetapi juga tidak menghapus jasa.
Allah berfirman:
"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah tempat kembali." (QS. Luqman: 14)
Tetapi karena melalui mereka Allah menghadirkan kita ke dunia dan memberi banyak jalan kebaikan.
2. Kekurangan Mereka Tidak Menghalalkan Kedurhakaan Kita
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kadang seorang anak berkata, "Orang tua saya juga salah." Bisa jadi benar. Tetapi kesalahan orang tua tidak otomatis membolehkan anak bersikap kasar. Kekurangan mereka tidak menghalalkan bentakan. Kerasnya mereka tidak menghalalkan penghinaan. Lalainya mereka tidak menghalalkan kita memutus doa dan bakti.
Seorang mukmin tidak membalas dosa dengan dosa. Jika orang tua pernah kurang tepat, kita tetap dituntut menjaga batas Allah. Jangan biarkan luka membuat kita terjerumus ke dalam durhaka. Tetaplah menjaga ucapan, tetaplah mendoakan, dan jika perlu menjaga jarak dari mudarat, lakukan dengan cara yang paling beradab dan tidak memutus kebaikan.
Allah berfirman:
"Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', janganlah membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23)
3. Tidak Taat dalam Maksiat, Tetapi Tetap Beradab
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ada batas yang jelas dalam Islam: tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah. Jika orang tua memerintahkan meninggalkan shalat, berbuat zalim, memutus silaturahim tanpa alasan benar, mengambil hak orang lain, atau melakukan sesuatu yang haram, maka anak tidak boleh menaati perintah maksiat tersebut.
Namun menolak maksiat harus tetap dengan adab. Jangan berkata kasar dengan alasan membela agama. Jangan membentak dengan alasan menegakkan kebenaran. Jelaskan dengan lembut. Pilih waktu yang baik. Tunjukkan akhlak yang mulia. Sebab kebenaran yang disampaikan dengan kesombongan dapat melukai, sedangkan kebenaran yang dibawa dengan adab lebih dekat kepada hidayah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Tidak ada ketaatan dalam maksiat. Ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tetapi menjaga adab kepada orang tua tetap kewajiban.
Tegas dalam prinsip, lembut dalam ucapan.
4. Memaafkan Kekurangan Mereka adalah Jalan Lapang bagi Hati
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Di antara cara memperbaiki bakti adalah belajar memaafkan. Memaafkan bukan berarti melupakan semua luka dengan mudah. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan berarti menyerahkan urusan kepada Allah, tidak membiarkan dendam membakar hati, dan tidak menjadikan masa lalu sebagai penghalang untuk melakukan kebaikan yang masih mampu dilakukan.
Banyak orang tua tidak pandai meminta maaf kepada anaknya. Sebagian karena gengsi, sebagian karena tidak terbiasa, sebagian karena tidak memahami luka yang terjadi. Anak yang beriman dapat berusaha memaafkan karena Allah, sambil tetap menjaga batas yang sehat dan berusaha memperbaiki hubungan dengan hikmah.
Allah berfirman:
"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu suka Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22)
5. Berbuat Baik Sesuai Kemampuan dan Keadaan
Jamaah yang dirahmati Allah,
Tidak semua keluarga memiliki keadaan yang sama. Ada yang dekat dan harmonis, ada yang jauh dan penuh luka, ada yang orang tuanya sakit, ada yang orang tuanya sulit dinasihati, ada yang hubungannya perlu ditata dengan bijak. Islam tidak menuntut sesuatu di luar kemampuan, tetapi Islam tetap menuntut kita menjaga kebaikan sesuai kemampuan.
Jika mampu menemani, temanilah. Jika mampu memberi nafkah, bantulah. Jika belum mampu dekat karena keadaan tertentu, tetaplah mendoakan dan mencari cara aman untuk berbuat baik. Jika ada mudarat yang nyata, mintalah nasihat orang saleh dan ahli yang amanah agar tetap bisa menjaga bakti tanpa membahayakan diri atau orang lain.
Allah berfirman:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)
Tetapi prinsipnya tetap satu: jangan tinggalkan adab, doa, kebaikan, dan usaha memperbaiki hubungan.
6. Jangan Menunggu Mereka Sempurna Baru Kita Berbakti
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Jika kita menunggu orang tua sempurna baru berbakti, mungkin kita tidak akan pernah berbakti. Sebab manusia tidak sempurna. Kita pun sebagai anak juga banyak kekurangan. Bisa jadi orang tua sabar melihat kekurangan kita, tetapi kita sulit sabar melihat kekurangan mereka.
Maka berbaktilah karena Allah, bukan hanya karena orang tua selalu sesuai harapan. Berdoalah untuk mereka, meskipun mereka punya kekurangan. Berbuat baiklah, meskipun hati perlu berjuang. Jaga lisan, meskipun kadang tidak mudah. Sebab bakti yang dilakukan saat sulit sering lebih mahal nilainya daripada bakti yang dilakukan ketika semuanya menyenangkan.
Allah mengajarkan doa:
"Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil." (QS. Al-Isra: 24)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita menjadikan kekurangan orang tua sebagai alasan untuk kasar? Apakah kita hanya mengingat luka dan melupakan jasa? Apakah kita menuntut mereka sempurna, padahal kita pun sebagai anak banyak salah? Apakah kita masih mendoakan mereka dengan tulus?
Berbakti walau orang tua banyak kekurangan adalah tanda kedewasaan iman. Bukan karena semua luka mudah dilupakan, tetapi karena Allah memerintahkan kita menjaga adab. Bukan karena semua kesalahan harus dibenarkan, tetapi karena dosa tidak boleh dibalas dengan dosa. Bukan karena orang tua sempurna, tetapi karena ridha Allah terlalu mahal untuk dikorbankan oleh ego dan dendam.
Ampuni kekurangan mereka dan ampuni kekurangan kami sebagai anak.
Jika ada luka di hati kami, sembuhkanlah dengan rahmat-Mu dan jangan jadikan luka itu sebab kami durhaka.
Bimbing kami agar tegas menolak maksiat, tetapi tetap lembut dalam adab dan ucapan.
Jadikan kami anak yang mampu melihat jasa, memaafkan kekurangan, mendoakan dengan tulus, dan berbuat baik sesuai kemampuan.
Sebab berbakti kepada orang tua bukan karena mereka sempurna, tetapi karena Allah memuliakan kedudukan mereka dan memerintahkan kita berbuat baik kepada keduanya.
Semoga Allah memperbaiki hubungan kita dengan orang tua, menyembuhkan luka keluarga, menerima bakti kita, mengampuni kelalaian kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit