Birrul Walidain Jalan Mulia Menuju Ridha Allah
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Birrul Walidain
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Birrul walidain bukan sekadar memberi uang kepada orang tua. Ia adalah akhlak yang luas: berkata lembut, merendahkan diri, melayani, mendoakan, menjaga perasaan, tidak membentak, tidak menyakiti, menunaikan kebutuhan mereka, dan tetap menghormati mereka meskipun kita telah dewasa, berilmu, bekerja, atau memiliki keluarga sendiri.
Islam menempatkan hak orang tua pada kedudukan yang sangat agung. Allah sering menyandingkan perintah beribadah kepada-Nya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua. Ini menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua bukan adab kecil, tetapi ibadah besar yang sangat dekat dengan ridha Allah.
Allah berfirman:
"Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua." (QS. Al-Isra: 23)
1. Orang Tua adalah Pintu Ridha Allah
Saudaraku kaum muslimin,
Ridha orang tua memiliki kedudukan yang sangat besar. Seorang anak mungkin mengejar banyak keberhasilan, tetapi jangan sampai lupa mencari ridha orang tua. Sebab ridha mereka dapat menjadi sebab terbukanya keberkahan hidup, lapangnya rezeki, tenangnya hati, dan mudahnya urusan.
Betapa banyak anak yang jauh mencari kebahagiaan, padahal ada pintu kebahagiaan yang dekat: menyenangkan hati ibu dan ayah. Betapa banyak orang ingin dihormati manusia, tetapi lupa menghormati orang yang paling besar jasanya. Maka jangan menunggu mereka tiada baru menyadari bahwa ridha mereka sangat mahal.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Ridha Allah berada pada ridha orang tua, dan murka Allah berada pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi)
Jangan remehkan doa mereka.
Jangan remehkan hati mereka yang pernah lelah membesarkan kita.
2. Ibu dan Ayah Memiliki Jasa yang Tidak Terbalas
Jamaah yang dirahmati Allah,
Seorang ibu mengandung dalam lemah yang bertambah-tambah, melahirkan dengan sakit yang tidak mudah digambarkan, menyusui, merawat, berjaga malam, dan sering menahan lelah agar anaknya tetap tenang. Seorang ayah bekerja, memikirkan nafkah, menanggung beban, menyembunyikan lelah, dan sering diam dalam pengorbanan.
Jasa mereka tidak akan lunas hanya dengan harta. Uang tidak cukup membayar air mata ibu. Pemberian tidak cukup membayar peluh ayah. Tetapi Allah membuka pintu bakti agar seorang anak dapat menunjukkan syukur, adab, dan cinta kepada orang tua.
Allah berfirman:
"Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah." (QS. Luqman: 14)
3. Berbakti Dimulai dari Lisan yang Lembut
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Banyak anak mampu bersikap sopan kepada orang lain, tetapi kasar kepada orang tua. Bisa lembut kepada teman, tetapi mudah membentak ibu. Bisa sabar kepada atasan, tetapi mudah kesal kepada ayah. Padahal orang tua lebih berhak mendapatkan kelembutan daripada siapa pun.
Berbakti dimulai dari lisan. Jangan membentak. Jangan berkata kasar. Jangan menjawab dengan nada tinggi. Jangan menunjukkan wajah jengkel. Jangan membuat mereka merasa menjadi beban. Jika kepada orang lain kita bisa menjaga kata, kepada orang tua seharusnya lebih dijaga lagi.
Allah berfirman:
"Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', janganlah membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23)
bagaimana dengan membentak?
Bagaimana dengan menghina?
Bagaimana dengan membuat hati orang tua pecah karena lisan anaknya?
4. Rendahkan Diri di Hadapan Orang Tua
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Ketika seorang anak tumbuh dewasa, terkadang ia merasa sudah lebih pintar, lebih kuat, lebih kaya, atau lebih mengerti dunia daripada orang tuanya. Dari sinilah muncul sikap meremehkan. Padahal sebesar apa pun kedudukan seorang anak, ia tetap anak dari orang tuanya.
Rendahkan diri di hadapan mereka. Bukan rendah karena hina, tetapi rendah karena cinta dan adab. Duduklah dengan sopan. Dengarkan ucapan mereka. Jawablah dengan lembut. Bantu kebutuhan mereka. Tanyakan keadaan mereka. Jangan membuat mereka merasa sendirian setelah dahulu mereka tidak pernah membiarkan kita sendirian.
Allah berfirman:
"Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang." (QS. Al-Isra: 24)
5. Doa untuk Orang Tua Jangan Terputus
Jamaah yang dirahmati Allah,
Salah satu bentuk bakti yang sangat indah adalah mendoakan orang tua. Doa anak untuk orang tua adalah hadiah yang lembut tetapi sangat besar nilainya. Doakan mereka saat hidup, doakan mereka saat sakit, doakan mereka saat jauh, dan doakan mereka setelah wafat.
Jangan hanya ingat orang tua saat membutuhkan sesuatu. Jadikan nama mereka hadir dalam doa. Mungkin mereka tidak selalu mendengar ucapan cinta kita, tetapi Allah mendengar doa kita untuk mereka. Dan bagi orang tua yang telah wafat, doa anak saleh adalah salah satu bakti yang terus sampai.
Allah mengajarkan doa:
"Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil." (QS. Al-Isra: 24)
Bila mereka masih hidup, bahagiakan mereka.
Bila mereka telah tiada, hadiahkan doa dan amal saleh untuk mereka.
6. Jangan Menunda Bakti sampai Penyesalan Datang
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Banyak orang baru merasakan mahalnya orang tua setelah mereka pergi. Dulu sering menunda menjenguk, menunda meminta maaf, menunda mencium tangan, menunda membantu, menunda berbicara lembut. Ketika mereka telah dipanggil Allah, yang tersisa hanya penyesalan dan air mata.
Selagi orang tua masih ada, jangan tunda bakti. Datangi mereka. Telepon mereka. Tanyakan kabar mereka. Ringankan beban mereka. Minta maaf kepada mereka. Jangan malu mengatakan sayang. Jangan gengsi mencium tangan. Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita lupa kepada pintu surga yang masih terbuka.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda ketika ditanya amal yang paling dicintai Allah:
"Shalat pada waktunya." Aku bertanya, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." (HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa diri. Bagaimana lisan kita kepada orang tua? Bagaimana sikap kita saat mereka meminta bantuan? Apakah kita mudah sabar menghadapi mereka? Apakah kita mendoakan mereka? Apakah kita pernah membuat mereka menangis karena ucapan atau sikap kita?
Birrul walidain adalah jalan mulia menuju ridha Allah. Jangan remehkan bakti kecil: senyum, salam, kunjungan, bantuan, doa, pelukan, atau sekadar mendengarkan cerita mereka. Bisa jadi amal sederhana itu menjadi sebab Allah melapangkan hidup kita dan mengampuni dosa-dosa kita.
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami ketika kecil.
Lembutkan lisan kami di hadapan mereka dan lapangkan hati kami untuk berbakti kepada mereka.
Jika mereka masih hidup, berilah kami kesempatan membahagiakan dan melayani mereka.
Jika mereka telah wafat, lapangkan kubur mereka, terangi tempat mereka, dan terimalah amal saleh mereka.
Sebab birrul walidain adalah jalan mulia menuju ridha Allah, dan anak yang berbakti tidak akan merugi di dunia maupun akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, melembutkan hati kita kepada orang tua, mengampuni kelalaian kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit