Buruk Sangka Racun yang Merusak Persaudaraan
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Buruk Sangka
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Buruk sangka atau su'uzan adalah menilai orang lain dengan prasangka buruk tanpa dasar yang benar. Kadang seseorang hanya melihat potongan kejadian, mendengar kabar sepihak, membaca pesan yang belum lengkap, atau menafsirkan diamnya seseorang sebagai kebencian. Dari sana lahirlah penilaian yang belum tentu benar.
Betapa banyak hubungan rusak bukan karena kenyataan, tetapi karena prasangka. Saudara menjadi jauh karena salah menafsirkan. Tetangga menjadi dingin karena kabar yang belum jelas. Teman menjadi bermusuhan karena dugaan yang dipelihara. Padahal bila ditabayyuni, mungkin masalahnya tidak seperti yang disangka.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa." (QS. Al-Hujurat: 12)
1. Prasangka Buruk Merusak Hati Sebelum Merusak Hubungan
Saudaraku kaum muslimin,
Orang yang memelihara buruk sangka akan sulit tenang. Ia mudah curiga, mudah tersinggung, mudah menafsirkan ucapan orang lain sebagai serangan, dan mudah merasa dirinya sedang dibicarakan. Hatinya tidak lapang karena dipenuhi dugaan yang belum tentu benar.
Buruk sangka adalah racun yang pertama kali merusak pemiliknya. Ia membuat hati gelap, pandangan sempit, dan persaudaraan terasa berat. Bahkan kebaikan orang lain bisa ditafsirkan sebagai kepura-puraan. Nasihat dianggap kebencian. Diam dianggap penghinaan. Inilah bahayanya hati yang dikuasai prasangka.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya ucapan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak semua dugaan layak dipercaya.
Hati yang bertakwa belajar menahan prasangka sebelum berubah menjadi dosa.
2. Jangan Menuduh Tanpa Bukti
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di antara buah buruk sangka yang paling berbahaya adalah tuduhan. Seseorang menuduh orang lain sombong, munafik, iri, jahat, tidak ikhlas, atau punya niat buruk, padahal ia tidak mengetahui isi hati. Menilai amal lahir saja harus berhati-hati, apalagi menilai niat yang tersembunyi.
Seorang mukmin tidak boleh membangun keputusan di atas dugaan kosong. Kehormatan manusia bukan tempat melempar tuduhan. Bila ada masalah, cari kejelasan. Bila ada kabar, periksa sumbernya. Bila ada kesalahan, nasihati dengan adab. Jangan menjadikan prasangka sebagai bukti dan jangan menjadikan perasaan sebagai hakim.
Allah berfirman:
"Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra: 36)
3. Buruk Sangka Membuka Pintu Ghibah dan Fitnah
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Buruk sangka jarang berhenti di hati. Ia biasanya mencari jalan keluar melalui lisan. Orang yang awalnya hanya menduga, lalu mulai bercerita: "Sepertinya dia begini", "Saya rasa dia begitu", "Kelihatannya ada maksud tertentu." Dari ucapan seperti ini, ghibah dan fitnah mudah tumbuh.
Betapa banyak aib yang sebenarnya tidak ada, tetapi menjadi besar karena prasangka disebarkan. Betapa banyak orang yang tidak bersalah, tetapi namanya rusak karena dugaan orang lain. Maka berhati-hatilah. Jangan biarkan prasangka pribadi menjadi bahan obrolan umum. Jangan membawa racun hati ke telinga orang lain.
Allah berfirman:
"Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12)
Tajassus melahirkan ghibah.
Ghibah melahirkan permusuhan.
Maka putuslah rantai itu sejak dari hati.
4. Tabayyun adalah Akhlak Orang Beriman
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Islam mengajarkan tabayyun, yaitu mencari kejelasan sebelum mengambil sikap. Jangan mudah percaya kabar yang belum jelas. Jangan tergesa-gesa menyimpulkan dari potongan cerita. Jangan menghukum orang hanya dari satu sisi. Orang yang beriman harus adil, teliti, dan takut menzalimi manusia.
Tabayyun menyelamatkan banyak hubungan. Dengan tabayyun, salah paham bisa hilang. Dengan tabayyun, tuduhan bisa dicegah. Dengan tabayyun, hati menjadi lebih adil. Kadang yang kita sangka buruk ternyata ada alasan yang tidak kita ketahui. Kadang yang kita dengar tidak sesuai kenyataan. Karena itu, jangan malas mencari kebenaran.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)
5. Biasakan Husnuzan dan Doa
Jamaah yang dirahmati Allah,
Obat buruk sangka adalah husnuzan, yaitu berusaha memberi penilaian baik selama masih ada kemungkinan baik. Husnuzan bukan berarti membenarkan kezaliman dan bukan berarti menutup mata dari bukti yang nyata. Husnuzan adalah tidak tergesa-gesa menuduh, tidak senang mencari salah, dan tidak menghakimi hati orang lain.
Jika melihat saudara kita melakukan sesuatu yang belum jelas, tahan dulu lisan. Jika ada kabar buruk tentangnya, jangan langsung percaya. Jika hati mulai curiga, doakan kebaikan untuknya. Doa dapat melembutkan hati dan memadamkan prasangka. Kadang yang paling kita butuhkan bukan tambahan informasi, tetapi hati yang lebih bersih.
Allah berfirman tentang kaum beriman:
"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman." (QS. Al-Hasyr: 10)
Hati yang beriman lebih suka mendoakan daripada menyebarkan prasangka.
Hati yang bertakwa takut menzalimi kehormatan saudara.
6. Jaga Persaudaraan dari Racun Prasangka
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Persaudaraan adalah nikmat besar. Jangan dirusak oleh prasangka yang belum tentu benar. Jangan biarkan setan masuk melalui celah salah paham. Bila ada yang mengganjal, bicarakan dengan adab. Bila ada kabar, periksa. Bila ada luka, selesaikan dengan bijak. Bila belum jelas, tahan diri dari menyimpulkan.
Seorang muslim yang matang imannya tidak mudah meledak karena dugaan. Ia sabar, adil, dan memilih jalan yang menyelamatkan hubungan. Ia tahu bahwa membangun persaudaraan membutuhkan waktu, tetapi merusaknya bisa terjadi hanya dengan satu prasangka yang disebarkan.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu." (QS. Al-Hujurat: 10)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa hati kita. Apakah kita mudah curiga? Apakah kita sering menilai orang tanpa bukti? Apakah kita pernah menyebarkan dugaan sebagai kebenaran? Apakah kita pernah merusak nama saudara hanya karena perasaan dan kabar yang belum jelas?
Buruk sangka adalah racun yang merusak persaudaraan. Ia membuat hati sempit, lisan tajam, dan hubungan retak. Maka bersihkan hati sebelum prasangka berubah menjadi dosa. Tahan lisan sebelum dugaan berubah menjadi ghibah. Lakukan tabayyun sebelum keputusan berubah menjadi kezaliman.
Jaga lisan kami dari tuduhan yang tidak benar dan kabar yang belum jelas.
Ajarkan kami tabayyun, adil, dan husnuzan dalam pergaulan.
Perbaikilah persaudaraan kaum muslimin dan jauhkan kami dari fitnah yang merusak hubungan.
Jadikan hati kami lapang, lisan kami lembut, dan sikap kami penuh rahmat kepada sesama.
Sebab buruk sangka adalah racun yang merusak persaudaraan, sedangkan husnuzan dan tabayyun adalah jalan menjaga hati dari kezaliman.
Semoga Allah membersihkan hati kita, memperbaiki hubungan kita dengan sesama, menjauhkan masyarakat kita dari fitnah prasangka, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit