Gotong Royong dalam Islam Menguatkan Persaudaraan dan Membangun Negeri
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Gotong Royong dalam Islam
Gotong royong adalah nilai mulia yang dekat dengan ajaran Islam. Islam memerintahkan umatnya untuk saling menolong dalam kebaikan, saling menguatkan dalam ketakwaan, saling peduli dalam kesulitan, dan tidak hidup egois hanya memikirkan diri sendiri. Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang setiap orang berjalan sendiri-sendiri, tetapi masyarakat yang saling menopang dalam kebenaran.
Dalam kehidupan berbangsa, gotong royong menjadi kekuatan besar. Jalan rusak diperbaiki bersama, lingkungan dibersihkan bersama, orang sakit dijenguk, yang miskin dibantu, korban musibah ditolong, masjid dimakmurkan, pendidikan didukung, dan keamanan lingkungan dijaga. Semua itu jika diniatkan karena Allah dapat menjadi amal saleh sosial yang besar nilainya.
Dalil:
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma'idah: 2)
1. Manusia Tidak Diciptakan untuk Hidup Sendiri
Saudaraku kaum muslimin, manusia adalah makhluk sosial. Tidak ada manusia yang benar-benar mampu hidup sendiri. Kita membutuhkan keluarga, tetangga, guru, petani, nelayan, pedagang, pekerja, aparat, ulama, dokter, dan banyak orang lainnya. Kehidupan ini berjalan karena Allah menjadikan manusia saling membutuhkan.
Karena itu, kesombongan sosial adalah penyakit. Jangan merasa tidak membutuhkan orang lain. Jangan merasa masalah masyarakat bukan urusan kita. Bila tetangga lapar, lingkungan rusak, jalan terganggu, anak-anak kehilangan pendidikan, dan masyarakat dilanda musibah, maka hati orang beriman tidak boleh diam tanpa kepedulian.
Dalil:
“Kami jadikan sebagian kamu sebagai ujian bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?” (QS. Al-Furqan: 20)
Apakah kita menjadi beban bagi masyarakat,
atau menjadi rahmat dan manfaat bagi sesama?
2. Tolong-Menolong adalah Tanda Iman yang Hidup
Jamaah yang dirahmati Allah, orang beriman tidak tega melihat saudaranya dalam kesulitan. Ia tidak menutup mata ketika ada yang membutuhkan bantuan. Ia tidak hanya bertanya, “Apa untungnya bagi saya?” tetapi bertanya, “Kebaikan apa yang bisa saya lakukan karena Allah?”
Tolong-menolong tidak harus menunggu kaya. Ada yang menolong dengan tenaga, ada yang dengan harta, ada yang dengan ilmu, ada yang dengan doa, ada yang dengan nasihat, ada yang dengan menghubungkan kepada orang yang mampu membantu. Dalam Islam, kebaikan sekecil apa pun tidak boleh diremehkan.
Dalil:
“Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Gotong Royong Membangun Persaudaraan
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, gotong royong bukan hanya menyelesaikan pekerjaan. Gotong royong juga menyambung hati. Orang yang jarang berbicara bisa saling mengenal ketika bekerja bersama. Tetangga yang jauh bisa menjadi dekat. Perbedaan suku, usia, pekerjaan, dan status sosial menjadi ringan ketika semua berkumpul untuk kebaikan.
Inilah salah satu rahasia kekuatan masyarakat. Bila orang saling mengenal, fitnah lebih sulit masuk. Bila warga saling membantu, permusuhan lebih mudah reda. Bila masyarakat biasa bekerja bersama, maka masalah besar lebih mudah dihadapi. Persaudaraan tidak cukup hanya diucapkan; ia perlu dirawat dengan kerja nyata dan kepedulian.
Dalil:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Kepedulian akan tampak bila ada tindakan.
Tindakan bersama itulah ruh gotong royong.
4. Membangun Negeri Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Jamaah Jumat yang berbahagia, membangun negeri tidak selalu dimulai dari hal besar. Negeri dibangun dari kampung-kampung yang tertib, desa-desa yang rukun, keluarga-keluarga yang kuat, masjid-masjid yang hidup, sekolah-sekolah yang diperhatikan, dan lingkungan yang dijaga bersama.
Bersihkan parit, rawat jalan, jaga masjid, bantu kegiatan pendidikan, peduli kepada anak yatim, jaga keamanan lingkungan, dan jangan merusak fasilitas umum. Semua itu adalah bagian dari membangun negeri. Jangan menunggu menjadi pejabat untuk berkontribusi. Setiap warga punya ruang amal di tempatnya masing-masing.
Dalil:
“Katakanlah: Bekerjalah kalian, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaan kalian.” (QS. At-Taubah: 105)
5. Jangan Gotong Royong dalam Dosa dan Kerusakan
Jamaah yang dirahmati Allah, Islam memerintahkan gotong royong dalam kebaikan, tetapi melarang kerja sama dalam dosa. Tidak semua kebersamaan bernilai baik. Bila orang berkumpul untuk menipu, merusak, menyebarkan fitnah, melakukan maksiat, mengadu domba, korupsi, atau menzalimi orang lain, maka itu bukan gotong royong yang diridhai Allah.
Karena itu, seorang muslim harus selektif. Jangan ikut-ikutan hanya karena banyak orang melakukannya. Jangan membantu keburukan hanya karena teman, keluarga, kelompok, atau kepentingan. Kebenaran tidak diukur dari jumlah orang yang mendukungnya, tetapi dari kesesuaiannya dengan perintah Allah.
Dalil:
“Janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma'idah: 2)
Kebersamaan dalam dosa adalah bahaya.
Maka pilihlah barisan yang membawa ridha Allah.
6. Gotong Royong Menguatkan Bangsa Saat Musibah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, musibah sering memperlihatkan siapa yang benar-benar peduli. Saat banjir, kebakaran, kecelakaan, kehilangan, sakit, kemiskinan, dan kesulitan datang, masyarakat membutuhkan tangan-tangan yang ringan membantu. Di sinilah gotong royong menjadi cahaya.
Bangsa yang kuat bukan bangsa yang tidak pernah terkena musibah. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang ketika musibah datang, rakyatnya saling menolong, tidak saling menyalahkan secara membabi buta, tidak mengambil keuntungan dari penderitaan, dan tidak meninggalkan yang lemah sendirian. Kepedulian sosial adalah kekuatan nasional yang lahir dari iman.
Dalil:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan kepedulian mereka seperti satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Gotong Royong Membutuhkan Ikhlas dan Adab
Saudaraku kaum muslimin, gotong royong akan indah bila dijalankan dengan ikhlas dan adab. Jangan membantu hanya untuk dipuji. Jangan bekerja hanya agar dianggap paling berjasa. Jangan merendahkan yang tidak mampu memberi banyak. Jangan menjadikan kegiatan bersama sebagai tempat pamer, sindiran, atau pertengkaran.
Ikhlas membuat amal kecil menjadi besar. Adab membuat kerja bersama menjadi ringan. Bila ada kekurangan, nasihati dengan baik. Bila ada perbedaan cara, musyawarahkan. Bila ada yang lemah, bantu. Bila ada yang berbuat baik, doakan. Dengan ikhlas dan adab, gotong royong tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga membersihkan hati.
Dalil:
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Gotong royong tanpa adab mudah berubah menjadi pertengkaran.
Maka luruskan niat dan indahkan akhlak.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita sudah menjadi orang yang ringan membantu? Apakah kita peduli kepada lingkungan? Apakah kita ikut menjaga masjid, jalan, sekolah, tetangga, dan masyarakat? Apakah kita hanya menuntut negeri ini baik, tetapi enggan ikut berbuat baik?
Gotong royong dalam Islam adalah amal mulia. Ia menguatkan persaudaraan, meringankan beban, membangun lingkungan, dan menjaga negeri. Bangsa akan kuat bila warganya tidak egois. Masyarakat akan berkah bila penduduknya saling menolong dalam kebaikan dan takwa.
Jauhkan kami dari egoisme, kemalasan, permusuhan, dan sikap tidak peduli kepada sesama.
Satukan hati masyarakat kami dalam kebaikan, kuatkan persaudaraan kami, dan jadikan lingkungan kami tempat tumbuhnya iman, adab, serta kepedulian.
Bimbing kami agar mampu membangun negeri melalui amal saleh, kerja bersama, dan gotong royong yang Engkau ridhai.
Sebab gotong royong dalam Islam adalah jalan membangun bangsa: saling menolong dalam kebaikan, menguatkan persaudaraan, dan menghadirkan rahmat Allah dalam kehidupan bersama.
Semoga Allah menjadikan kita warga yang bermanfaat, masyarakat yang rukun, bangsa yang kuat, amal yang diterima, dosa yang diampuni, dan akhir hidup yang husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit