Hati yang Hidup di Tengah Zaman yang Lalai
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Hati yang Hidup di Tengah Zaman yang Lalai
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hati adalah pusat kehidupan seorang hamba. Bila hati hidup, maka anggota badan mudah diajak taat. Bila hati lembut, nasihat mudah masuk. Bila hati dekat dengan Allah, dunia tidak mudah menipunya.
Namun bila hati mati, ayat Al-Qur'an tidak lagi menggugah. Azan hanya terdengar di telinga, tetapi tidak menggerakkan kaki menuju shalat. Nasihat hanya lewat sebentar, tetapi tidak mengubah jalan hidup. Inilah bahaya kelalaian: tubuh masih berjalan, tetapi hati perlahan menjauh dari Allah.
Allah berfirman:
"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun?" (QS. Al-Hadid: 16)
1. Hati yang Hidup Mudah Tersentuh oleh Nasihat
Saudaraku kaum muslimin,
Tanda hati yang masih hidup adalah mudah tersentuh ketika diingatkan kepada Allah. Ia tidak marah ketika dinasihati. Ia tidak sombong ketika ditegur. Ia tidak merasa sudah cukup baik. Ia justru takut bila amalnya belum diterima, takut bila dosanya belum diampuni, dan takut bila akhir hidupnya tidak baik.
Hati yang hidup akan bertanya kepada dirinya sendiri: apakah shalatku sudah benar? Apakah lisanku sudah terjaga? Apakah hartaku sudah bersih? Apakah waktuku habis untuk Allah atau hanya untuk dunia?
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Kelalaian Membuat Hati Perlahan Mengeras
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hati tidak langsung mati dalam satu hari. Ia perlahan mengeras karena dosa yang diremehkan, shalat yang ditunda, Al-Qur'an yang ditinggalkan, istighfar yang jarang, dan dunia yang terlalu sering dipikirkan.
Awalnya seseorang hanya sekali meninggalkan kebaikan. Lama-lama ia terbiasa. Awalnya dosa membuat gelisah. Lama-lama dosa terasa biasa. Awalnya nasihat membuat menangis. Lama-lama nasihat tidak lagi menyentuh hati.
Allah berfirman:
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)
3. Dzikir Menghidupkan Hati
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Obat hati yang lalai adalah dzikir. Hati yang jauh dari dzikir akan kering. Tetapi hati yang banyak mengingat Allah akan diberi ketenangan, cahaya, dan kekuatan untuk menghadapi kehidupan.
Dzikir bukan hanya ucapan di lisan, tetapi kesadaran bahwa Allah selalu dekat, melihat, mendengar, dan mengetahui keadaan kita. Ketika seseorang mengingat Allah, ia tidak mudah putus asa. Ketika seseorang mengingat Allah, ia tidak mudah sombong. Ketika seseorang mengingat Allah, ia tahu kepada siapa harus kembali.
Allah berfirman:
"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Bila jiwa lelah, berdzikirlah.
Bila dosa terasa banyak, beristighfarlah.
Bila hidup terasa sempit, dekatkan hati kepada Allah.
4. Al-Qur'an adalah Cahaya bagi Hati
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Di antara sebab hidupnya hati adalah dekat dengan Al-Qur'an. Al-Qur'an bukan hanya bacaan, tetapi petunjuk, obat, cahaya, dan rahmat. Rumah yang dihidupkan dengan Al-Qur'an akan berbeda dengan rumah yang hanya ramai oleh suara dunia.
Jangan biarkan hari-hari kita berlalu tanpa ayat Allah. Walau sedikit, bacalah. Walau belum lancar, belajarlah. Walau belum mampu banyak, mulailah. Sebab hati yang sering mendengar kalam Allah akan lebih mudah kembali ketika jauh.
Allah berfirman:
"Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang jelas." (QS. Al-Ma'idah: 15)
5. Hidupkan Hati Sebelum Terlambat
Jamaah yang dirahmati Allah,
Jangan menunggu hati keras baru kita menangis. Jangan menunggu shalat terasa asing baru kita mencari jalan pulang. Jangan menunggu kubur baru sadar bahwa hati yang hidup adalah nikmat yang besar.
Hidupkan hati mulai hari ini. Perbaiki shalat. Basahi lisan dengan istighfar. Kurangi dosa yang tersembunyi. Maafkan orang yang pernah menyakiti. Dekati Al-Qur'an. Pilih lingkungan yang mengingatkan kepada Allah.
Hati yang hidup adalah hati yang tetap mencari Allah dalam sedihnya.
Hati yang hidup bukan hati yang tidak pernah berdosa.
Hati yang hidup adalah hati yang cepat kembali ketika tersadar dari dosa.
Di tengah zaman yang lalai, jadilah hamba yang ingat. Di tengah dunia yang bising, jagalah hati agar tetap mendengar panggilan Allah.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mungkin selama ini hati kita terlalu sibuk dengan dunia. Terlalu sering gelisah karena manusia. Terlalu jarang menangis karena dosa. Terlalu lama jauh dari Al-Qur'an. Namun hari ini Allah masih memberi kesempatan untuk menghidupkan hati kembali.
Jangan biarkan dunia ramai, tetapi hati kosong dari Allah.
Jangan biarkan umur berjalan, tetapi taubat tertunda.
Jangan biarkan azan terdengar, tetapi hati tidak bergerak.
Hidupkan hati dengan dzikir, shalat, Al-Qur'an, dan taubat kepada Allah.
Semoga Allah menghidupkan hati kita dengan iman, melembutkan hati kita dengan Al-Qur'an, menjauhkan kita dari kelalaian, menerima taubat kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit