Hati yang Ridha Tenang Menerima Takdir Allah
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Hati yang Ridha
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hati yang ridha adalah hati yang tidak terus-menerus bertengkar dengan takdir. Ia boleh sedih, tetapi tidak mencela Allah. Ia boleh kecewa, tetapi tidak berputus asa. Ia boleh menangis, tetapi tetap percaya bahwa Allah tidak pernah zalim kepada hamba-Nya.
Banyak keresahan hidup lahir bukan hanya dari beratnya takdir, tetapi dari hati yang belum menerima bahwa Allah lebih tahu daripada kita. Kita ingin satu jalan, Allah pilihkan jalan lain. Kita ingin cepat, Allah tunda. Kita ingin sesuatu tetap tinggal, Allah ambil. Di situlah iman diuji: apakah kita percaya kepada pilihan Allah?
Allah berfirman:
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah memberi petunjuk kepada hatinya." (QS. At-Taghabun: 11)
1. Ridha Saat Takdir Tidak Sesuai Harapan
Saudaraku kaum muslimin,
Sering kali manusia gelisah karena takdir tidak mengikuti keinginannya. Ia sudah merancang, tetapi Allah mengubah. Ia sudah berharap, tetapi Allah menunda. Ia sudah menggenggam, tetapi Allah mengambil. Hati yang ridha belajar berkata: Ya Allah, aku tidak selalu paham, tetapi aku percaya kepada-Mu.
Allah tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tetapi Allah selalu mengetahui apa yang paling baik untuk kita. Kadang yang kita cintai membawa mudarat, dan yang kita benci ternyata menyimpan kebaikan. Karena itu jangan terlalu cepat menilai takdir hanya dari rasa sakit di awalnya.
Allah berfirman:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Tidak semua yang tertunda adalah penolakan.
Tidak semua yang menyakitkan adalah keburukan.
Kadang Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang belum kita pahami.
2. Ridha Menghapus Keluhan yang Melemahkan Iman
Jamaah yang dirahmati Allah,
Keluhan yang manusiawi berbeda dengan keluhan yang melemahkan iman. Mengadu kepada Allah adalah ibadah. Tetapi mencela takdir, merasa Allah tidak adil, dan terus-menerus memprotes ketetapan-Nya adalah penyakit hati.
Hati yang ridha tetap mengadukan luka kepada Allah, bukan mengadukan Allah kepada manusia. Ia tidak menjadikan lisannya sebagai tempat protes terhadap Rabb-nya. Ia memilih sabar, doa, dan prasangka baik, karena ia yakin Allah Maha Lembut dalam mengatur hidup hamba-Nya.
Allah berfirman:
"Katakanlah, tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang beriman bertawakal." (QS. At-Taubah: 51)
3. Ridha Bukan Pasrah Tanpa Ikhtiar
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Perlu kita pahami, ridha bukan alasan untuk malas. Orang yang ridha tetap bekerja, tetap berobat ketika sakit, tetap mencari rezeki yang halal, tetap memperbaiki diri, tetap belajar, tetap meminta maaf, dan tetap menempuh sebab-sebab yang Allah halalkan.
Ridha berada setelah ikhtiar dan doa. Kita berusaha karena itu perintah Allah. Kita berdoa karena kita hamba yang lemah. Kita ridha karena hasil akhirnya milik Allah. Inilah keseimbangan iman: tangan bekerja, lisan berdoa, hati bertawakal.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah." (HR. Muslim)
Ridha adalah berjuang tanpa merasa lebih tahu daripada Allah.
Ridha adalah berikhtiar, lalu menerima hasil dengan hati yang tunduk.
4. Ridha Membuat Hidup Terasa Lebih Ringan
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Orang yang ridha tidak berarti hidupnya bebas masalah. Tetapi hatinya lebih ringan, karena ia tidak memikul beban yang bukan miliknya. Ia tidak memaksa semua hal harus sesuai kehendaknya. Ia sadar bahwa tugas manusia adalah berusaha, sedangkan mengatur hasil adalah hak Allah.
Ridha membuat rezeki yang sedikit terasa cukup. Ridha membuat ujian yang berat terasa memiliki makna. Ridha membuat kehilangan tidak menghapus keyakinan. Ridha membuat hati tidak iri kepada takdir orang lain, karena ia yakin Allah membagi dengan ilmu dan hikmah-Nya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Akan merasakan manisnya iman orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul." (HR. Muslim)
5. Cara Menumbuhkan Ridha
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ridha tidak tumbuh seketika. Ia dilatih dengan mengenal Allah, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, mengingat bahwa dunia sementara, dan sering mengulang keyakinan bahwa pilihan Allah lebih baik daripada pilihan diri sendiri.
Obat hati yang sulit ridha adalah memperbanyak husnuzan kepada Allah. Katakan kepada hati: Allah tidak zalim. Allah Maha Tahu. Allah Maha Lembut. Allah Maha Penyayang. Bila hari ini aku belum paham, bukan berarti takdir ini tanpa hikmah.
Allah berfirman:
"Bertawakallah kepada Allah jika kamu benar-benar orang beriman." (QS. Al-Ma'idah: 23)
Perbanyak dzikir agar hati tidak liar dalam kecemasan.
Kurangi membandingkan takdir dengan orang lain.
Lakukan ikhtiar terbaik, lalu serahkan hasil kepada Allah.
Latih lisan mengucap: رضيت بالله ربًّا.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa hati. Apakah kita masih sering bertengkar dengan takdir? Apakah kita terus memprotes apa yang Allah pilihkan? Apakah kita hanya tenang ketika hidup sesuai keinginan, tetapi gelisah dan mencela ketika Allah menguji?
Hati yang ridha bukan hati yang tidak pernah sedih. Hati yang ridha adalah hati yang tetap tunduk dalam sedihnya. Ia tetap berdoa, tetap berusaha, tetap berharap, dan tetap percaya bahwa Allah tidak pernah salah memilihkan jalan bagi hamba-Nya.
Lapangkan dada kami menerima ketetapan-Mu.
Kuatkan kami untuk berikhtiar tanpa memberontak kepada takdir-Mu.
Jauhkan kami dari keluhan yang melemahkan iman.
Jadikan kami hamba yang sabar, tawakal, dan berbaik sangka kepada-Mu.
Sebab hati yang ridha tidak selalu memahami semua takdir, tetapi selalu percaya bahwa Allah Maha Baik dalam setiap ketetapan.
Semoga Allah memberi kita hati yang ridha, menenangkan jiwa kita dalam ujian, memberkahi ikhtiar kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit