Hati yang Selamat Bekal Terindah Menghadap Allah
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Hati yang Selamat
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di antara bekal terbesar ketika kembali kepada Allah adalah qalbun salim, hati yang selamat. Hati yang selamat bukan hati yang tidak pernah terluka, tetapi hati yang tidak kehilangan iman. Bukan hati yang tidak pernah sedih, tetapi hati yang tetap kembali kepada Allah dalam sedihnya. Bukan hati yang tidak pernah diuji, tetapi hati yang tetap tunduk kepada Allah dalam ujiannya.
Hati yang selamat adalah hati yang mengenal Allah, mencintai Allah, takut kepada Allah, berharap kepada Allah, dan tidak menjadikan dunia lebih besar daripada akhirat.
Allah berfirman:
"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat." (QS. Asy-Syu'ara: 88-89)
1. Hati yang Selamat adalah Hati yang Bertauhid
Saudaraku kaum muslimin,
Fondasi hati yang selamat adalah tauhid. Hati itu hanya menggantungkan harapan kepada Allah, takut kepada Allah, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak menjadikan selain Allah sebagai tempat bergantung yang utama.
Banyak hati lelah karena terlalu bergantung kepada manusia. Terlalu berharap dipuji, terlalu takut ditinggalkan, terlalu kecewa ketika tidak dihargai. Hati yang selamat belajar meletakkan manusia pada tempatnya, sedangkan Allah tetap menjadi sandaran tertinggi.
Allah berfirman:
"Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah." (QS. Muhammad: 19)
2. Hati yang Selamat Menjaga Ikhlas
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ikhlas adalah ruh amal. Amal yang terlihat besar bisa rusak bila ingin dipuji. Amal yang terlihat kecil bisa menjadi agung bila dilakukan karena Allah. Karena itu, hati yang selamat selalu memeriksa niatnya: untuk siapa aku beramal? Untuk siapa aku berbicara? Untuk siapa aku memberi? Untuk siapa aku terlihat baik?
Ikhlas bukan berarti tidak ada yang melihat, tetapi hati tidak bergantung kepada penglihatan manusia. Ikhlas bukan berarti tidak dipuji, tetapi hati tidak hidup dari pujian itu. Ikhlas adalah ketika Allah menjadi tujuan, baik manusia melihat maupun tidak melihat.
Allah berfirman:
"Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 5)
3. Hati yang Selamat Bersih dari Sombong
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sombong adalah penyakit hati yang sangat halus. Kadang ia masuk melalui ilmu, ibadah, harta, keturunan, jabatan, bahkan penampilan. Seseorang merasa lebih baik, lebih suci, lebih mulia, lalu memandang rendah orang lain.
Hati yang selamat tidak mudah merendahkan. Ia tahu bahwa semua kelebihan adalah titipan Allah. Ia takut bila amalnya tidak diterima. Ia takut bila yang ia anggap rendah justru lebih mulia di sisi Allah karena taubat dan keikhlasannya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarrah." (HR. Muslim)
Bila diberi harta, dermawanlah.
Bila diberi kedudukan, adillah.
Bila diberi ibadah, takutlah kalau-kalau belum diterima.
4. Hati yang Selamat Tidak Menyimpan Hasad dan Dendam
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Hasad membuat hati panas melihat nikmat orang lain. Dendam membuat hati terus membawa luka yang tidak diserahkan kepada Allah. Dua penyakit ini membuat hati sulit tenang, sulit khusyuk, dan sulit merasakan manisnya iman.
Hati yang selamat senang melihat kebaikan pada orang lain. Ia tidak merasa berkurang ketika saudaranya diberi nikmat. Ia belajar memaafkan, bukan karena luka itu ringan, tetapi karena ridha Allah lebih besar daripada dendam dunia.
Allah berfirman:
"Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah." (QS. Asy-Syura: 40)
5. Hati yang Selamat Cepat Kembali Ketika Jatuh
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hati yang selamat bukan hati yang tidak pernah salah. Setiap manusia bisa tergelincir. Tetapi hati yang selamat tidak betah dalam dosa. Bila salah, ia segera ingat Allah. Bila lalai, ia segera istighfar. Bila jauh, ia mencari jalan pulang.
Jangan ukur keselamatan hati hanya dari banyaknya amal lahir. Ukurlah juga dari seberapa cepat hati kembali kepada Allah setelah menyadari kesalahan.
Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka." (QS. Ali 'Imran: 135)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kelak ketika kita menghadap Allah, yang paling kita butuhkan adalah hati yang selamat. Bukan hati yang penuh riya. Bukan hati yang dipenuhi sombong. Bukan hati yang menyimpan hasad. Bukan hati yang menuhankan dunia. Tetapi hati yang mengenal Allah, mencintai Allah, takut kepada Allah, dan kembali kepada Allah.
Mari mulai membersihkan hati dari hari ini. Periksa niat sebelum beramal. Rendahkan hati ketika diberi nikmat. Maafkan orang lain karena mengharap ridha Allah. Perbanyak istighfar. Dekatkan hati dengan Al-Qur'an. Jaga shalat. Sebab hati yang selamat tidak lahir dari kelalaian, tetapi dari perjuangan panjang melawan penyakit batin.
Bersihkan hati kami dari sombong.
Bersihkan hati kami dari hasad dan dendam.
Jangan jadikan dunia lebih besar dalam hati kami daripada akhirat.
Karuniakan kepada kami qalbun salim, hati yang selamat saat menghadap-Mu.
Semoga Allah memperbaiki hati kita, menerima amal kita, mengampuni dosa kita, membersihkan batin kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan membawa hati yang selamat.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit