Hati yang Tawadhu Rendah di Hadapan Allah, Mulia di Sisi-Nya
Jumat

Hati yang Tawadhu Rendah di Hadapan Allah, Mulia di Sisi-Nya

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Hati yang Tawadhu

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hati yang tawadhu tidak sibuk mencari tempat tinggi di hadapan manusia. Ia tidak haus penghormatan. Ia tidak marah ketika tidak disebut. Ia tidak merasa hina ketika melayani. Ia justru merasa mulia ketika bisa menjadi jalan manfaat bagi orang lain.

Orang yang tawadhu tahu bahwa dirinya berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Ia membawa ilmu, jabatan, harta, nasab, dan kemampuan hanya sementara. Semua itu akan diminta pertanggungjawaban. Karena itu, ia tidak menjadikan nikmat sebagai sebab meninggi, tetapi sebagai alasan untuk semakin tunduk kepada Allah.

Allah berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

"Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati." (QS. Al-Furqan: 63)

Hamba Allah yang sejati tidak berjalan di bumi dengan kesombongan. Ia membawa kelembutan, adab, dan kesadaran bahwa kemuliaan hanya milik Allah.

1. Tawadhu Lahir dari Mengenal Kebesaran Allah

Saudaraku kaum muslimin,

Orang yang benar-benar mengenal kebesaran Allah tidak akan mudah membesarkan dirinya. Semakin ia sadar Allah Maha Agung, semakin ia merasa kecil. Semakin ia memahami nikmat Allah, semakin ia malu untuk sombong. Semakin ia mengingat dosa, semakin ia berhati-hati dalam memandang orang lain.

Kesombongan tumbuh ketika seseorang terlalu sering melihat kelebihan dirinya dan lupa kepada Allah yang memberi kelebihan itu. Tawadhu tumbuh ketika seseorang melihat semua yang ia miliki sebagai amanah, bukan sebagai alasan untuk meninggi.

Allah berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

"Apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya." (QS. An-Nahl: 53)

Bila ilmu bertambah, seharusnya adab ikut bertambah.
Bila harta bertambah, seharusnya syukur ikut bertambah.
Bila kedudukan naik, seharusnya rasa takut kepada Allah ikut naik.

2. Tawadhu Menjaga Hati dari Merendahkan Orang Lain

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di antara tanda hati tawadhu adalah tidak mudah merendahkan orang lain. Ia tidak merasa lebih suci hanya karena lebih banyak terlihat beramal. Ia tidak merasa lebih mulia hanya karena lebih tinggi kedudukan. Ia tidak merasa lebih baik hanya karena lebih banyak harta atau lebih luas ilmu.

Bisa jadi orang yang kita pandang biasa, lebih mulia di sisi Allah karena ikhlasnya. Bisa jadi orang yang kita pandang lemah, lebih dekat kepada Allah karena tangis malamnya. Bisa jadi orang yang kita anggap kecil, memiliki amal rahasia yang membuatnya dicintai langit.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka." (QS. Al-Hujurat: 11)

Jangan cepat merasa lebih baik. Allah mengetahui rahasia hati, sedangkan manusia hanya melihat permukaan.

3. Tawadhu Tidak Membuat Derajat Turun

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sebagian orang takut tawadhu karena mengira rendah hati akan membuatnya tidak dihargai. Padahal kemuliaan sejati bukan datang dari meninggikan diri, tetapi dari Allah yang mengangkat derajat hamba-Nya.

Orang yang merendah karena Allah akan dimuliakan oleh Allah. Mungkin tidak selalu dengan tepuk tangan manusia, tetapi dengan cahaya di hati, keberkahan dalam hidup, dan kedudukan yang baik di sisi-Nya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

"Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim)

Tawadhu tidak menjatuhkan martabat.
Tawadhu justru mengangkat jiwa.
Karena yang merendah karena Allah sedang naik menuju kemuliaan yang Allah ridai.

4. Teladan Tawadhu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah manusia paling mulia, namun beliau paling tawadhu. Beliau duduk bersama orang miskin, menjawab salam anak-anak, membantu keluarga, menerima undangan sederhana, dan tidak menjadikan kemuliaan beliau sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Beliau pemimpin, tetapi tidak sombong. Beliau nabi, tetapi penuh kelembutan. Beliau paling dekat kepada Allah, tetapi paling banyak beristighfar. Inilah teladan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, seharusnya semakin dalam pula tawadhu dan rasa takutnya kepada Allah.

Allah berfirman tentang akhlak Nabi:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)

Kemuliaan Nabi tidak membuat beliau jauh dari manusia. Justru kemuliaan itu tampak dalam kelembutan, pelayanan, dan kerendahan hati beliau.

5. Cara Menanamkan Tawadhu dalam Hati

Jamaah yang dirahmati Allah,

Tawadhu harus dilatih. Di antara caranya adalah mengingat asal penciptaan diri, mengingat kematian, mengingat dosa yang Allah tutupi, memperbanyak istighfar, menerima nasihat, melayani orang lain, dan tidak menuntut penghormatan.

Latihlah hati untuk senang ketika orang lain mendapat kebaikan. Latihlah lisan untuk tidak membanggakan diri. Latihlah diri untuk mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan mengakui kesalahan. Semua itu tanda hati tidak dikuasai ego.

Allah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32)

Jangan merasa paling bersih.
Jangan merasa paling berjasa.
Jangan merasa paling tinggi.
Rendahkan hati di hadapan Allah, maka Allah yang akan mengangkatmu dengan cara-Nya.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita periksa hati. Apakah kita mudah tersinggung bila tidak dihormati? Apakah kita sulit menerima nasihat? Apakah kita merasa lebih baik daripada orang lain? Apakah kita senang membanggakan amal, ilmu, nasab, jabatan, atau harta?

Jangan biarkan hati merasa tinggi, karena manusia yang merasa tinggi sering lupa bahwa ia berdiri di atas bumi yang akan menjadi kuburnya. Tawadhu adalah jalan keselamatan. Ia membuat hati ringan menerima kebenaran, lembut kepada sesama, dan dekat kepada Allah.

Ya Allah, bersihkan hati kami dari kesombongan.
Hiasilah jiwa kami dengan tawadhu.
Jangan jadikan nikmat-Mu membuat kami merasa tinggi.
Jadikan kami rendah di hadapan-Mu dan penuh adab kepada sesama.
Angkatlah derajat kami dengan rahmat-Mu, bukan dengan kebanggaan diri kami.

Sebab siapa yang merendah karena Allah, akan dimuliakan oleh Allah dengan kemuliaan yang tidak mampu dibeli oleh pujian manusia.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tawadhu, menjauhkan kita dari kesombongan, menerima amal kita, menutupi aib kita, memuliakan kita dengan ketakwaan, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ وَحُسْنَ الْخُلُقِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit