Jangan Biarkan Shalat Menjadi Tamu dalam Hidup Kita
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jangan Biarkan Shalat Menjadi Tamu dalam Hidup Kita
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Betapa banyak orang yang rumahnya selalu terbuka untuk urusan dunia, tetapi hatinya jarang terbuka untuk shalat. Betapa banyak orang yang selalu punya waktu untuk pekerjaan, keluarga, hiburan, dan percakapan panjang, tetapi ketika azan berkumandang, ia berkata, “Nanti dulu.”
Jangan sampai shalat hanya datang sesekali seperti tamu. Datang ketika sempat, ditinggalkan ketika sibuk. Datang ketika susah, dilupakan ketika senang. Padahal shalat bukan tamu dalam hidup orang beriman. Shalat adalah rumah bagi hati.
Allah berfirman:
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah: 43)
1. Shalat adalah Tiang Agama
Saudaraku kaum muslimin,
Bila sebuah rumah kehilangan tiangnya, maka bangunan itu akan mudah runtuh. Demikian pula agama dalam diri seorang muslim. Jika shalatnya runtuh, maka amal-amal lain pun terancam kehilangan kekuatan.
Seseorang boleh terlihat baik di hadapan manusia, tetapi bila ia meremehkan shalat, ada sesuatu yang sangat besar sedang hilang dari hidupnya. Sebab shalat adalah tanda kepatuhan, tanda cinta, dan tanda tunduknya seorang hamba kepada Allah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Pokok segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah shalat." (HR. Tirmidzi)
2. Shalat yang Ditinggalkan Akan Menjadi Penyesalan
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di dunia, mungkin seseorang bisa meninggalkan shalat dan merasa biasa saja. Ia masih makan, masih bekerja, masih tertawa, masih berjalan. Tetapi di akhirat, shalat yang ditinggalkan akan menjadi penyesalan yang sangat berat.
Di antara pertanyaan yang mengguncang hati adalah ketika penghuni surga bertanya kepada penghuni neraka, apa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam Saqar.
Allah berfirman:
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar? Mereka menjawab, dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat." (QS. Al-Muddatsir: 42-43)
Ayat ini sangat menggugah. Betapa besar urusan shalat, hingga meninggalkannya menjadi sebab penyesalan yang disebutkan dalam Al-Qur'an.
- Jangan tunggu tua untuk menjaga shalat.
- Jangan tunggu sakit untuk menangisi shalat yang tertinggal.
- Jangan tunggu kubur untuk sadar bahwa shalat sangat berharga.
- Jangan tunggu penyesalan ketika pintu amal telah tertutup.
3. Shalat adalah Tempat Istirahat Hati
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Banyak orang mencari ketenangan ke mana-mana. Ada yang mencari hiburan, perjalanan, keramaian, atau kesibukan. Semua itu boleh selama halal, tetapi jangan lupa bahwa ketenangan hati yang paling dalam ada ketika seorang hamba berdiri di hadapan Allah.
Shalat bukan hanya kewajiban. Shalat adalah tempat mengadu. Di dalam shalat, kita membaca ayat-ayat Allah. Di dalam sujud, kita merendahkan diri. Di dalam doa, kita menyerahkan beban yang tidak sanggup dipikul sendiri.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat." (HR. Abu Dawud)
Bila pikiran berat, shalatlah.
Bila hidup terasa sempit, shalatlah.
Bila manusia tidak memahami, sujudlah kepada Allah.
Sebab shalat adalah tempat hati dirawat oleh Allah.
4. Jangan Jadikan Shalat Sisa Waktu
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Kesalahan besar dalam hidup adalah ketika shalat hanya diberi sisa waktu. Jika urusan dunia selesai, baru shalat. Jika pekerjaan longgar, baru shalat. Jika tidak sibuk, baru shalat.
Padahal shalat bukan sisa waktu. Shalat adalah pusat waktu. Seorang muslim seharusnya mengatur hidupnya di antara waktu-waktu shalat, bukan menyelipkan shalat di antara kesibukan yang tidak pernah selesai.
- Jadikan Subuh sebagai pembuka hari dengan berkah.
- Jadikan Zuhur sebagai jeda untuk kembali mengingat Allah.
- Jadikan Ashar sebagai penjaga dari lalai di tengah kesibukan.
- Jadikan Maghrib sebagai pintu ketenangan keluarga.
- Jadikan Isya sebagai penutup hari dengan kepasrahan.
Barang siapa menjaga shalat, maka ia sedang menjaga hubungan paling penting dalam hidupnya: hubungan dengan Allah.
5. Mulailah Memperbaiki Shalat Hari Ini
Jamaah yang dirahmati Allah,
Jangan tunggu sempurna untuk memperbaiki shalat. Mulailah dari menjaga waktunya. Mulailah dari tidak meninggalkannya. Mulailah dari belajar khusyuk sedikit demi sedikit. Mulailah dari berusaha memahami bacaan. Mulailah dari menghadirkan hati bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)
Waktu shalat adalah panggilan Allah. Maka ketika azan berkumandang, sadarilah bahwa yang memanggil bukan sekadar suara muazin, tetapi Allah sedang memanggil hamba-Nya untuk kembali, bersujud, dan mendapatkan ketenangan.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mungkin selama ini shalat kita masih sering tertunda. Mungkin masih ada shalat yang terlewat. Mungkin shalat kita hadir di badan, tetapi hati kita pergi ke mana-mana. Namun hari ini Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki.
Jangan biarkan sajadah hanya terbuka ketika susah.
Jangan biarkan azan hanya lewat di telinga tanpa menggerakkan hati.
Jangan biarkan hidup terasa jauh dari Allah karena shalat yang kita abaikan.
Semoga mulai hari ini, shalat menjadi cahaya dalam rumah, hati, dan hidup kita.
Semoga Allah menjadikan kita dan keluarga kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat, mencintai shalat, khusyuk dalam shalat, dan wafat dalam keadaan bersujud kepada-Nya.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit