Jangan Jauh dari Allah Sebab Hati Akan Lelah
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jangan Jauh dari Allah, Sebab Hati Akan Lelah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Banyak manusia hari ini memiliki banyak hal, tetapi kehilangan ketenangan. Ada yang rumahnya luas, tetapi dadanya sempit. Ada yang hartanya cukup, tetapi hatinya gelisah. Ada yang wajahnya tersenyum di depan manusia, tetapi batinnya menangis ketika sendirian.
Itu semua mengingatkan kita bahwa hati tidak cukup diberi dunia. Hati butuh Allah. Hati tidak cukup diberi hiburan. Hati butuh dzikir. Hati tidak cukup diberi pujian manusia. Hati butuh ridha Allah.
Allah berfirman:
"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
1. Hati yang Jauh dari Allah Akan Mudah Gelisah
Saudaraku kaum muslimin,
Hati yang jauh dari Allah akan mudah gelisah. Ia gelisah ketika rezeki terasa kurang. Ia gelisah ketika manusia tidak memujinya. Ia gelisah ketika masalah datang. Ia gelisah karena sandarannya rapuh.
Orang yang menggantungkan hati hanya kepada dunia akan lelah, sebab dunia selalu berubah. Hari ini senang, besok sedih. Hari ini dipuji, besok dilupakan. Hari ini memiliki, besok kehilangan. Maka siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama, hatinya akan terus dikejar oleh rasa takut.
Maka jangan biarkan hati terlalu jauh dari Allah. Sebab hati yang jauh akan mudah patah, mudah marah, mudah kecewa, dan mudah merasa hidup ini tidak punya arah.
2. Dunia Tidak Mampu Mengisi Kekosongan Hati
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dunia bisa membeli makanan, tetapi tidak bisa membeli ketenangan. Dunia bisa membangun rumah, tetapi tidak selalu bisa membangun sakinah. Dunia bisa membuat seseorang dikenal, tetapi tidak selalu membuatnya dicintai Allah.
Karena itu, jangan heran bila ada orang yang terlihat memiliki segalanya, tetapi masih merasa kosong. Sebab kekosongan hati tidak bisa diisi dengan benda. Kekosongan hati hanya bisa diisi dengan iman, dzikir, taubat, dan kedekatan kepada Allah.
Allah berfirman:
"Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit." (QS. Thaha: 124)
Kehidupan yang sempit bukan selalu berarti miskin harta. Bisa jadi hartanya banyak, tetapi hatinya sempit. Bisa jadi rumahnya indah, tetapi batinnya gelisah. Bisa jadi tubuhnya sehat, tetapi jiwanya lelah karena jauh dari Allah.
- Bila hati mulai gelisah, periksa hubungan kita dengan shalat.
- Bila hidup terasa sempit, periksa hubungan kita dengan Al-Qur'an.
- Bila dada sering berat, periksa lisan kita dari dzikir dan istighfar.
- Bila jiwa mudah marah, periksa dosa-dosa yang belum kita tinggalkan.
3. Shalat adalah Tempat Istirahat Hati
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di antara tanda kita dekat dengan Allah adalah hati kita mulai rindu kepada shalat. Shalat bukan lagi dianggap beban, tetapi kebutuhan. Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi tempat hati beristirahat dari lelahnya dunia.
Ketika masalah terasa berat, sujudlah. Ketika dada terasa sempit, sujudlah. Ketika manusia tidak memahami kesedihan kita, sujudlah. Sebab dalam sujud, seorang hamba berada pada posisi yang paling dekat dengan Rabb-nya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud." (HR. Muslim)
4. Dzikir Menghidupkan Hati yang Mulai Mati
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Hati yang jauh dari dzikir akan mengeras. Ia mudah meremehkan dosa, mudah menunda taubat, dan mudah merasa cukup dengan amal yang sedikit. Tetapi hati yang hidup dengan dzikir akan lebih peka. Ia mudah tersentuh oleh nasihat, mudah menangis karena dosa, dan mudah kembali ketika salah.
Dzikir bukan hanya di majelis, bukan hanya ketika selesai shalat, tetapi dzikir adalah napas hati orang beriman. Ketika berjalan, ingat Allah. Ketika bekerja, ingat Allah. Ketika diberi nikmat, ucapkan syukur. Ketika tergelincir, ucapkan istighfar.
- Basahi lisan dengan istighfar.
- Hidupkan pagi dan petang dengan dzikir.
- Biasakan membaca shalawat kepada Nabi.
- Jangan biarkan hari berlalu tanpa menyebut nama Allah.
Hati yang banyak berdzikir tidak berarti tidak pernah diuji. Tetapi ketika ujian datang, ia punya tempat bersandar. Ketika masalah datang, ia punya cahaya. Ketika lelah datang, ia punya Allah.
5. Kembalilah kepada Allah Sebelum Hati Semakin Jauh
Jamaah yang dirahmati Allah,
Jangan menunggu hati menjadi keras baru kita menyesal. Jangan menunggu shalat terasa asing baru kita mencari jalan pulang. Jangan menunggu hidup terasa hancur baru kita memanggil Allah. Panggillah Allah sekarang, saat kita masih diberi umur, saat pintu taubat masih terbuka, saat hati masih bisa tersentuh oleh nasihat.
Allah berfirman:
"Maka berlarilah kembali kepada Allah." (QS. Adz-Dzariyat: 50)
Kembalilah kepada Allah dengan shalat yang diperbaiki. Kembalilah kepada Allah dengan istighfar yang jujur. Kembalilah kepada Allah dengan meninggalkan dosa yang selama ini melelahkan hati. Kembalilah kepada Allah dengan air mata taubat, walaupun hanya setetes.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mungkin selama ini kita terlalu jauh. Terlalu sibuk mengejar dunia. Terlalu lama meninggalkan Al-Qur'an. Terlalu sering menunda shalat. Terlalu banyak mengeluh kepada manusia, tetapi terlalu jarang mengadu kepada Allah.
Namun hari ini Allah masih memberi kita kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki diri. Kesempatan untuk pulang. Kesempatan untuk mengatakan: Ya Allah, aku lelah jauh dari-Mu. Kuatkan aku untuk kembali kepada-Mu.
Jangan jauh dari shalat, sebab jiwa akan gelisah.
Jangan jauh dari Al-Qur'an, sebab hidup akan kehilangan arah.
Jangan jauh dari taubat, sebab ajal bisa datang kapan saja.
Semoga Allah menjadikan hati kita dekat dengan-Nya hingga akhir hayat.
Semoga Allah melembutkan hati kita, menenangkan jiwa kita, mengampuni dosa-dosa kita, memperbaiki shalat kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit