Jangan Menunggu Kehilangan Baru Bersyukur
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jangan Menunggu Kehilangan Baru Bersyukur
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Nikmat Allah sering terasa biasa karena terlalu dekat dengan hidup kita. Napas yang keluar masuk, mata yang masih melihat, telinga yang masih mendengar, kaki yang masih melangkah, keluarga yang masih bersama, makanan yang masih tersedia, hati yang masih bisa tersentuh nasihat; semuanya adalah nikmat besar.
Namun manusia sering lalai. Ia merasa nikmat itu miliknya sendiri. Ia lupa bahwa semua hanya titipan. Bila Allah berkehendak, yang kuat bisa lemah, yang kaya bisa sempit, yang ramai bisa sendiri, dan yang lapang bisa berubah menjadi ujian.
Allah berfirman:
"Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya." (QS. An-Nahl: 53)
1. Sehat Sering Terasa Biasa Sampai Sakit Datang
Saudaraku kaum muslimin,
Saat badan sehat, banyak orang lupa bersyukur. Ia gunakan tubuhnya untuk mengejar dunia, tetapi sedikit untuk sujud. Ia gunakan matanya untuk melihat banyak hal, tetapi jarang untuk membaca Al-Qur'an. Ia gunakan lisannya untuk berbicara panjang, tetapi sedikit untuk berdzikir.
Ketika sakit datang, barulah ia sadar bahwa berdiri dalam shalat adalah nikmat. Berjalan ke masjid adalah nikmat. Makan dengan tenang adalah nikmat. Tidur tanpa rasa sakit adalah nikmat.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)
2. Keluarga Sering Terasa Biasa Sampai Perpisahan Datang
Jamaah yang dirahmati Allah,
Orang tua, pasangan, anak, saudara, dan orang-orang yang mencintai kita adalah nikmat yang besar. Tetapi karena setiap hari bersama, kadang kita lupa menghargai. Kita mudah marah, mudah berkata kasar, mudah menunda meminta maaf, dan mengira mereka akan selalu ada.
Padahal tidak ada pertemuan di dunia yang abadi. Akan ada hari ketika seseorang yang biasa kita lihat tidak lagi bersama. Akan ada suara yang biasa kita dengar, lalu tinggal kenangan. Maka jangan menunggu kehilangan baru menyesal karena kurang berbakti, kurang lembut, dan kurang mencintai karena Allah.
Allah berfirman:
"Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua." (QS. Al-Isra': 23)
3. Waktu Sering Terbuang Sampai Kesempatan Hilang
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Waktu adalah nikmat yang diam-diam pergi. Ia tidak bersuara ketika meninggalkan kita. Hari berganti, umur berkurang, kesempatan menyempit. Banyak orang merasa masih punya waktu, padahal setiap hari ia sedang mendekati akhir perjalanan.
Jangan menunggu sibuk baru ingin membaca Al-Qur'an. Jangan menunggu tua baru ingin rajin shalat. Jangan menunggu sakit baru ingin bersedekah. Jangan menunggu kematian orang lain baru sebentar mengingat akhirat, lalu kembali lalai.
Allah berfirman:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian." (QS. Al-'Ashr: 1-2)
Waktu yang dipakai untuk maksiat menjadi penyesalan.
Waktu yang dipakai untuk lalai menjadi kerugian.
Maka jagalah waktu sebelum waktu meninggalkan kita.
4. Syukur Menjaga Nikmat dan Menambah Kebaikan
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Syukur bukan hanya ucapan alhamdulillah. Syukur adalah mengenal nikmat dari Allah, memuji Allah dengan lisan, dan menggunakan nikmat itu untuk ketaatan. Orang yang benar-benar bersyukur tidak menjadikan nikmat sebagai alat maksiat.
Harta disyukuri dengan sedekah dan nafkah yang halal. Ilmu disyukuri dengan diamalkan. Lisan disyukuri dengan dzikir dan ucapan baik. Jabatan disyukuri dengan amanah. Keluarga disyukuri dengan kasih sayang dan tanggung jawab.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
5. Nikmat Terbesar adalah Iman dan Kesempatan Bertaubat
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di antara nikmat terbesar yang sering tidak kita sadari adalah iman. Hati yang masih mengenal Allah, lisan yang masih bisa mengucap syahadat, telinga yang masih mau mendengar nasihat, dan jiwa yang masih ingin bertaubat adalah nikmat yang sangat mahal.
Jangan menunggu hati menjadi keras baru menyesal. Jangan menunggu shalat terasa asing baru mencari jalan pulang. Jangan menunggu dosa terasa biasa baru menangis karena kehilangan rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman:
"Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan." (QS. At-Takatsur: 8)
Nikmat umur harus dijaga dengan amal.
Nikmat hati harus dijaga dengan dzikir.
Nikmat taubat harus disambut sebelum ajal datang.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita masih punya banyak nikmat. Mungkin tidak semua yang kita inginkan ada, tetapi terlalu banyak yang Allah beri tanpa kita minta. Napas, sehat, keluarga, makanan, tempat berteduh, iman, shalat, dan kesempatan taubat; semuanya adalah karunia.
Jangan menunggu kehilangan baru bersyukur. Jangan menunggu sakit baru sadar sehat. Jangan menunggu ditinggalkan baru menghargai. Jangan menunggu tua baru memperbaiki diri. Jangan menunggu kematian baru ingin kembali.
Jaga yang masih Allah titipkan.
Gunakan nikmat untuk ketaatan.
Perbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.
Sebab nikmat yang tidak disyukuri bisa berubah menjadi penyesalan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, menjaga nikmat dengan taat, tidak tertipu oleh kelapangan, dan dipanggil kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit