Jangan Sibuk dengan Dunia hingga Lupa Menjenguk Orang Tua
Jumat

Jangan Sibuk dengan Dunia hingga Lupa Menjenguk Orang Tua

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Jangan Sibuk dengan Dunia

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Betapa banyak anak yang mampu menempuh perjalanan jauh untuk urusan dunia, tetapi berat melangkah menjenguk orang tua. Mampu berjam-jam memegang telepon untuk urusan pekerjaan dan hiburan, tetapi jarang menghubungi ibu. Mampu duduk lama dengan teman, tetapi merasa sempit waktu untuk menemani ayah.

Kesibukan bukan dosa bila digunakan untuk kebaikan. Bekerja mencari nafkah adalah ibadah bila niatnya benar. Namun kesibukan menjadi berbahaya ketika membuat kita lupa kepada kewajiban besar. Jangan sampai dunia membuat kita merasa selalu punya waktu, padahal umur orang tua tidak bisa kita perpanjang sesuka hati.

Allah berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takatsur: 1-2)

Ayat ini mengingatkan bahwa kesibukan mengejar dunia dapat melalaikan manusia hingga kematian datang. Jangan sampai kelalaian itu membuat kita kehilangan kesempatan berbakti.

1. Orang Tua Dahulu Tidak Sibuk untuk Kita

Saudaraku kaum muslimin,

Dahulu saat kita kecil, orang tua tidak berkata, “Aku sibuk” ketika kita menangis. Ibu tidak menunda menyusui karena lelah. Ayah tidak menunda mencari nafkah karena berat. Mereka menyisihkan waktu, tenaga, harta, bahkan kenyamanan diri demi kita. Mereka hadir ketika kita belum mampu mengurus diri sendiri.

Hari ini, saat kita dewasa dan mereka menua, jangan mudah menjadikan kesibukan sebagai alasan. Memang kehidupan kita punya tuntutan. Tetapi bakti kepada orang tua juga tuntutan agama. Jika kita mampu mengatur waktu untuk banyak urusan dunia, seharusnya kita juga mampu mengatur waktu untuk menjenguk atau sekadar menanyakan kabar mereka.

Allah mengajarkan doa:

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku ketika kecil." (QS. Al-Isra: 24)

Dahulu mereka menyediakan waktu untuk kelemahan kita.
Kini sediakanlah waktu untuk kesepian dan kebutuhan mereka.

2. Menjenguk Orang Tua adalah Hadiah yang Sangat Berharga

Jamaah yang dirahmati Allah,

Bagi orang tua, kedatangan anak sering lebih berharga daripada hadiah mahal. Mereka bahagia ketika anak duduk di dekatnya, mendengar ceritanya, bertanya kabarnya, mencium tangannya, dan menunjukkan bahwa mereka masih dicintai. Kadang yang mereka butuhkan bukan banyak uang, tetapi kehadiran.

Jangan remehkan kunjungan singkat. Jangan remehkan duduk bersama. Jangan remehkan makan bersama orang tua. Bisa jadi pertemuan sederhana itu menjadi sebab hati mereka lapang, doa mereka mengalir, dan hidup kita diberkahi Allah. Menjenguk orang tua adalah ibadah yang sering terasa kecil, tetapi nilainya besar.

Allah berfirman:

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua." (QS. Al-Isra: 23)

Di antara bentuk ihsan kepada orang tua adalah hadir, menjenguk, memperhatikan, dan membuat mereka merasa tidak ditinggalkan.

3. Jangan Menunggu Mereka Sakit Baru Datang

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Banyak anak baru datang ketika orang tua sakit. Baru menangis ketika mereka terbaring lemah. Baru merasa bersalah ketika suara mereka tidak lagi sekuat dulu. Padahal orang tua juga ingin dikunjungi saat sehat. Mereka ingin melihat wajah anaknya bukan hanya saat rumah sakit memanggil, tetapi saat hati mereka rindu.

Jangan menunggu keadaan darurat baru peduli. Jangan menunggu kabar buruk baru pulang. Jangan menunggu orang tua tidak mampu berjalan baru menggandengnya. Selagi mereka masih bisa tersenyum, bahagiakan. Selagi mereka masih bisa berbicara, dengarkan. Selagi mereka masih hidup, datangi.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

"Celakalah seseorang, celakalah seseorang, celakalah seseorang." Ditanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang mendapati kedua orang tuanya di usia tua, salah satu atau keduanya, tetapi ia tidak masuk surga." (HR. Muslim)

Orang tua yang masih hidup adalah kesempatan surga.
Jangan tunggu mereka sakit.
Jangan tunggu mereka wafat.
Datanglah selagi pintu itu masih terbuka.

4. Kesibukan Dunia Jangan Mengalahkan Ridha Orang Tua

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Ada anak yang mengejar jabatan, keuntungan, pujian, dan kenyamanan, tetapi melupakan ridha orang tua. Ia berusaha menyenangkan banyak orang, tetapi tidak berusaha menenangkan hati ibu dan ayah. Ia takut mengecewakan manusia, tetapi tidak takut membuat orang tua menunggu kabar tanpa kepastian.

Padahal ridha orang tua memiliki kedudukan yang sangat besar. Kesuksesan dunia tidak indah bila dibangun di atas hati orang tua yang terluka. Harta tidak berkah bila membuat anak semakin jauh dari bakti. Jabatan tidak mulia bila membuat anak merasa terlalu sibuk untuk mencium tangan ibu dan ayah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

"Ridha Allah berada pada ridha orang tua, dan murka Allah berada pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi)

Jangan sampai kita sibuk mengejar ridha manusia, tetapi lalai dari ridha orang tua yang menjadi jalan besar menuju ridha Allah.

5. Menjenguk Tidak Harus Menunggu Sempurna

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebagian anak menunda menjenguk karena merasa belum punya banyak uang untuk dibawa, belum punya hadiah besar, atau belum berhasil seperti yang diharapkan. Padahal orang tua sering tidak menunggu kemewahan. Mereka menunggu wajah anaknya. Mereka menunggu kabar. Mereka menunggu suara. Mereka menunggu perhatian.

Datanglah meski sederhana. Bawa hati yang lembut, bukan hanya barang. Bawa senyum, bukan alasan. Bawa permintaan maaf, bukan kesombongan. Bila jauh, hubungi mereka. Bila dekat, kunjungi. Bila sibuk, sisihkan waktu. Jangan tunggu semua sempurna baru berbakti, karena kesempatan hidup tidak menunggu kesempurnaan kita.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

"Perkataan yang baik adalah sedekah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila belum mampu membawa hadiah besar,
bawalah kata yang lembut.
Bila belum mampu memberi banyak,
berilah kehadiran yang tulus.

6. Jangan Baru Menyesal di Hadapan Pusara

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Banyak manusia baru memahami arti orang tua setelah kehilangan. Dahulu rumah orang tua jarang dikunjungi. Dahulu telepon ibu sering ditunda. Dahulu nasihat ayah dianggap mengganggu. Dahulu permintaan mereka terasa merepotkan. Namun ketika mereka telah tiada, semua berubah menjadi air mata.

Jangan tunggu hanya bisa memeluk batu nisan. Jangan tunggu suara mereka tinggal kenangan. Jangan tunggu tangan mereka tidak lagi bisa dicium. Penyesalan setelah wafat memang bisa menjadi pintu taubat, tetapi kesempatan terbaik adalah memperbaiki bakti saat mereka masih hidup.

Allah berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

"Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata: Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan." (QS. Al-Mu'minun: 99-100)

Jangan menunggu waktu kembali, karena waktu tidak kembali. Perbaiki bakti sebelum kesempatan tertutup.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Kapan terakhir kita menjenguk orang tua? Kapan terakhir kita menanyakan kabar mereka dengan sungguh-sungguh? Kapan terakhir kita duduk mendengar cerita mereka tanpa tergesa-gesa? Apakah kita lebih sering berkata sibuk daripada berkata, "Ayah, Ibu, saya datang"?

Jangan sibuk dengan dunia hingga lupa menjenguk orang tua. Dunia yang kita kejar akan kita tinggalkan, tetapi amal bakti kepada orang tua akan kita bawa menghadap Allah. Pekerjaan bisa dicari, harta bisa datang dan pergi, tetapi kesempatan mencium tangan orang tua tidak selalu kembali.

Ya Allah, jangan jadikan dunia terlalu besar di hati kami hingga kami lalai dari orang tua kami.
Ringankan langkah kami untuk menjenguk mereka, lembutkan lisan kami saat berbicara dengan mereka, dan lapangkan waktu kami untuk membahagiakan mereka.
Ampuni kami jika terlalu sering menunda, terlalu sering beralasan, dan terlalu sibuk hingga membuat mereka menunggu.
Jika mereka masih hidup, beri kami kesempatan memperbaiki bakti sebelum terlambat.
Jika mereka telah wafat, ampunilah mereka, rahmatilah mereka, dan jadikan doa kami sebagai cahaya bagi mereka.

Sebab dunia yang menyibukkan akan berlalu, tetapi bakti kepada orang tua akan menjadi cahaya yang menemani kita menghadap Allah.

Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang tidak lalai dari orang tua, menerima amal bakti kita, mengampuni kelalaian kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اَللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُشْغِلْنَا عَنْ بِرِّ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَارْزُقْنَا زِيَارَتَهُمْ وَخِدْمَتَهُمْ وَإِدْخَالَ السُّرُورِ عَلَيْهِمْ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit