Kasih Sayang kepada Sesama Tanda Hati yang Hidup
Jumat

Kasih Sayang kepada Sesama Tanda Hati yang Hidup

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Kasih Sayang kepada Sesama

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Islam adalah agama rahmat. Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Beliau mengajarkan shalat, puasa, zakat, dan haji, tetapi beliau juga mengajarkan kelembutan, kasih sayang, memaafkan, menolong yang lemah, menyantuni yang miskin, dan tidak menyakiti manusia.

Seorang mukmin tidak cukup hanya memperbaiki ibadah pribadi, tetapi juga harus memperbaiki cara memperlakukan manusia. Apa artinya lisan membaca dzikir, tetapi mudah menghina? Apa artinya tangan memberi sedekah, tetapi juga menyakiti? Apa artinya hati mengaku beriman, tetapi tidak memiliki belas kasih kepada sesama?

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

"Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)

Umat Nabi yang membawa rahmat seharusnya menjadi umat yang menghadirkan kasih sayang, bukan kekerasan hati; membawa keteduhan, bukan luka; dan menebarkan kebaikan, bukan permusuhan.

1. Kasih Sayang Mengundang Rahmat Allah

Saudaraku kaum muslimin,

Allah mencintai hamba-hamba yang penyayang. Orang yang menyayangi manusia karena Allah sedang membuka pintu rahmat untuk dirinya sendiri. Ia memandang orang lain bukan hanya sebagai orang asing, tetapi sebagai hamba Allah yang punya rasa sakit, kebutuhan, harapan, dan kelemahan sebagaimana dirinya.

Kasih sayang membuat seseorang mudah menolong, mudah memaafkan, mudah memahami, dan tidak cepat menghukum. Ia bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi menegur dengan hati yang ingin memperbaiki. Ia bukan berarti lemah terhadap kezaliman, tetapi tetap menjaga keadilan dengan akhlak yang mulia.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian." (HR. Tirmidzi)

Siapa yang ingin disayangi Allah,
belajarlah menyayangi hamba-hamba Allah.
Rahmat turun kepada hati yang tidak kering dari kasih sayang.

2. Hati yang Keras Mudah Menyakiti

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hati yang keras sering tidak peka terhadap luka orang lain. Ia merasa biasa menghina, biasa membentak, biasa mempermalukan, dan biasa menyakiti dengan kata-kata. Ia menganggap air mata orang lain sebagai kelemahan. Ia menganggap kelembutan sebagai kekurangan. Padahal hati yang tidak punya belas kasihan sedang kehilangan cahaya yang sangat penting.

Orang yang keras hati mungkin terlihat kuat, tetapi sebenarnya ia sedang jauh dari sifat rahmat. Dalam keluarga, hati yang keras membuat rumah terasa panas. Dalam masyarakat, hati yang keras membuat hubungan penuh ketakutan. Dalam dakwah, hati yang keras membuat manusia menjauh dari kebaikan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

"Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa hilangnya kasih sayang bukan perkara kecil. Ia berkaitan dengan bagaimana seorang hamba mendapatkan rahmat.

3. Kasih Sayang Dimulai dari Lisan yang Lembut

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kasih sayang sering tampak paling cepat dari lisan. Lisan yang penyayang memilih kata yang tidak melukai. Ia menasihati tanpa mempermalukan. Ia menegur tanpa merendahkan. Ia bercanda tanpa menghina. Ia berbeda pendapat tanpa mencaci. Ia berbicara dengan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan.

Banyak hati terluka bukan karena pedang, tetapi karena kata-kata. Ada anak yang kehilangan percaya diri karena ucapan orang tua. Ada pasangan yang patah hatinya karena kalimat kasar. Ada sahabat yang menjauh karena sindiran. Ada orang lemah yang semakin hancur karena dihina. Maka jagalah lisan sebagai bukti kasih sayang.

Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

"Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)

Lisan yang lembut bukan tanda lemah.
Lisan yang lembut adalah tanda hati yang mengenal rahmat.
Kata yang baik bisa menjadi sedekah dan penawar luka.

4. Peduli kepada yang Lemah adalah Akhlak Orang Beriman

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Kasih sayang bukan hanya perasaan, tetapi harus tampak dalam kepedulian. Peduli kepada fakir miskin, anak yatim, orang sakit, orang tua, tetangga yang kesusahan, teman yang tertimpa musibah, dan siapa pun yang membutuhkan. Jangan sampai hati kita tenang dalam kenyang sementara saudara kita tidur dalam lapar.

Orang yang beriman tidak menutup mata dari penderitaan sekitar. Ia membantu sesuai kemampuan. Bila tidak bisa dengan harta, dengan tenaga. Bila tidak bisa dengan tenaga, dengan doa. Bila tidak bisa dengan banyak hal, minimal jangan menambah beban dengan ucapan yang menyakitkan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ

"Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan. Begitulah seharusnya kepedulian orang beriman kepada saudaranya.

5. Mencintai Kebaikan untuk Orang Lain

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kasih sayang yang sejati membuat seseorang mencintai kebaikan untuk saudaranya. Ia tidak iri ketika orang lain mendapat nikmat. Ia tidak senang ketika orang lain jatuh. Ia tidak berharap saudaranya gagal. Ia ingin orang lain selamat, bahagia, bertakwa, dan mendapatkan kebaikan dunia akhirat.

Ini adalah ukuran iman yang sangat halus. Apakah kita senang melihat saudara berhasil? Apakah kita mendoakan orang lain mendapat kebaikan? Apakah kita bisa bahagia ketika orang lain dipuji? Apakah kita ingin orang lain selamat dari dosa sebagaimana kita ingin selamat? Hati yang penyayang akan menjawabnya dengan kebaikan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

"Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hati yang hidup tidak hanya ingin dirinya selamat.
Ia juga ingin saudara-saudaranya mendapatkan kebaikan.
Inilah kasih sayang yang menjadi tanda kesempurnaan iman.

6. Kasih Sayang Tidak Menghapus Ketegasan yang Benar

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kasih sayang bukan berarti membiarkan dosa dan kezaliman. Seorang mukmin tetap menasihati, mencegah kemungkaran, dan membela yang dizalimi. Namun ia melakukannya dengan niat memperbaiki, bukan dengan nafsu menghancurkan. Ia tegas tanpa kasar, berani tanpa zalim, dan menegur tanpa kehilangan adab.

Dalam Islam, rahmat dan keadilan berjalan bersama. Kita menyayangi orang yang salah dengan mengajaknya kembali kepada Allah. Kita menyayangi korban dengan membela haknya. Kita menyayangi masyarakat dengan mencegah kerusakan. Maka kasih sayang yang benar adalah kasih sayang yang dipandu oleh iman, ilmu, dan hikmah.

Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

"Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu." (QS. Ali Imran: 159)

Kelembutan adalah sebab hati manusia mendekat. Dakwah, nasihat, dan pergaulan akan lebih indah bila dibungkus dengan rahmat.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita periksa hati kita. Apakah hati kita masih mudah iba melihat penderitaan orang lain? Apakah lisan kita lembut kepada keluarga dan sesama? Apakah kita peduli kepada tetangga, fakir miskin, anak yatim, orang tua, dan orang yang sedang kesulitan? Ataukah hati kita mulai kering, sibuk dengan diri sendiri, dan tidak peka terhadap luka manusia?

Kasih sayang kepada sesama adalah tanda hati yang hidup. Hati yang hidup akan mudah menolong, mudah mendoakan, mudah memaafkan, dan tidak tega menyakiti. Jika hati mulai keras, mintalah kepada Allah agar dilembutkan. Sebab tidak ada yang lebih menakutkan daripada hati yang tidak lagi tersentuh oleh penderitaan manusia.

Ya Allah, lembutkan hati kami dengan rahmat-Mu.
Jadikan kami hamba yang penyayang kepada keluarga, tetangga, saudara, fakir miskin, anak yatim, dan semua hamba-Mu.
Jaga lisan kami dari kata yang menyakiti dan tangan kami dari perbuatan yang menzalimi.
Tumbuhkan kepedulian dalam diri kami dan jauhkan kami dari hati yang keras.
Jadikan kasih sayang sebagai cahaya dalam pergaulan kami dan sebab turunnya rahmat-Mu kepada kami.

Sebab kasih sayang kepada sesama adalah tanda hati yang hidup, dan siapa yang menyayangi makhluk di bumi akan disayangi oleh Allah.

Semoga Allah melembutkan hati kita, memperbaiki akhlak kita kepada sesama, menjadikan masyarakat kita penuh rahmat, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَارْزُقْنَا قُلُوبًا رَحِيمَةً، وَأَلْسِنَةً لَيِّنَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً، وَاجْعَلْنَا رَحْمَةً لِأَهْلِينَا وَجِيرَانِنَا وَإِخْوَانِنَا وَجَمِيعِ عِبَادِكَ، وَارْزُقْنَا حُبَّ الْخَيْرِ لِلْمُسْلِمِينَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit