Ketika Dunia Menipu Akhirat Menunggu
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ketika Dunia Menipu, Akhirat Menunggu
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dunia bukan musuh bila digunakan untuk taat kepada Allah. Harta bukan tercela bila dicari dengan halal dan dipakai untuk kebaikan. Jabatan bukan hina bila dijadikan amanah. Yang berbahaya adalah ketika dunia masuk terlalu dalam ke hati, sampai membuat kita lupa akhirat.
Betapa banyak manusia merasa sibuk, tetapi lupa bekal. Merasa maju, tetapi jauh dari Allah. Merasa memiliki banyak hal, tetapi kehilangan ketenangan. Dunia membuatnya berlari, tetapi ia lupa arah pulang.
Allah berfirman:
"Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali 'Imran: 185)
1. Dunia Terlihat Panjang, Padahal Sangat Singkat
Saudaraku kaum muslimin,
Saat masih muda, hidup terasa panjang. Saat sehat, umur terasa aman. Saat rezeki lapang, kematian terasa jauh. Padahal setiap hari yang berlalu bukan menambah jarak dari kematian, tetapi mendekatkan kita kepadanya.
Orang yang tertipu dunia merasa masih punya banyak waktu untuk bertaubat. Ia berkata, “Nanti.” Nanti memperbaiki shalat. Nanti membaca Al-Qur'an. Nanti meninggalkan maksiat. Nanti meminta maaf. Padahal tidak ada seorang pun yang dijanjikan bertemu dengan hari esok.
Allah berfirman:
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam banyaknya harta dan anak." (QS. Al-Hadid: 20)
2. Harta yang Tidak Dibawa Jangan Sampai Membuat Kita Lupa Bekal
Jamaah yang dirahmati Allah,
Harta adalah titipan. Ia bisa menjadi nikmat bila membuat kita bersyukur, bersedekah, menolong keluarga, dan membantu sesama. Tetapi harta bisa menjadi fitnah bila membuat hati sombong, lalai, kikir, dan jauh dari Allah.
Ketika seseorang wafat, hartanya tidak masuk ke kubur bersamanya. Yang masuk hanyalah amal. Maka jangan sampai kita terlalu sibuk menjaga harta yang akan ditinggalkan, tetapi lalai menjaga amal yang akan menemani.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Mayit diikuti oleh tiga perkara; keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Akhirat Menunggu dengan Hisab yang Pasti
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Akhirat bukan cerita untuk menakut-nakuti manusia. Akhirat adalah kepastian. Di sana setiap amal akan ditampakkan. Setiap ucapan akan dihitung. Setiap nikmat akan ditanya. Setiap kesempatan akan dimintai pertanggungjawaban.
Maka orang yang berakal adalah orang yang tidak hanya menyiapkan hidupnya untuk dunia, tetapi juga menyiapkan jawabannya di hadapan Allah. Ia bertanya kepada dirinya: dari mana hartaku? Untuk apa umurku? Bagaimana shalatku? Apa yang sudah aku siapkan untuk pulang?
Allah berfirman:
"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihatnya, dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah niscaya dia akan melihatnya." (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Tidak ada dosa yang luput.
Tidak ada air mata taubat yang sia-sia.
Tidak ada sedekah ikhlas yang dilupakan Allah.
Semua akan kembali kepada kita pada hari yang besar.
4. Jangan Tukar Akhirat dengan Kesenangan Sesaat
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Di antara bentuk tertipu dunia adalah ketika seseorang rela kehilangan ridha Allah demi kesenangan sebentar. Ia rela meninggalkan shalat demi pekerjaan. Rela menghalalkan yang haram demi keuntungan. Rela menyakiti orang lain demi ambisi. Rela merusak akhirat demi dunia yang sebentar.
Padahal apa pun yang kita nikmati dari dunia pasti akan berakhir. Makanan yang lezat berakhir. Pakaian yang indah usang. Rumah yang megah ditinggalkan. Pujian manusia hilang. Tetapi pahala dan dosa akan tetap mengikuti.
Allah berfirman:
"Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'la: 16-17)
5. Jadikan Dunia sebagai Ladang, Bukan Tujuan
Jamaah yang dirahmati Allah,
Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia sepenuhnya. Kita tetap bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, belajar, berdagang, dan berusaha. Tetapi semua itu harus diarahkan kepada Allah. Dunia menjadi ladang, bukan tujuan akhir.
Bekerjalah, tetapi jangan tinggalkan shalat. Carilah rezeki, tetapi jangan ambil yang haram. Bangunlah rumah, tetapi jangan lupa membangun amal. Cintailah keluarga, tetapi ajak mereka menuju surga. Nikmati dunia yang halal, tetapi jangan lupa bahwa akhirat sedang menunggu.
Tetapi bila dunia masuk menguasai hati, ia bisa menjadi sebab kelalaian.
Letakkan dunia di tangan, dan letakkan Allah di dalam hati.
Orang yang selamat bukan orang yang tidak memiliki dunia, tetapi orang yang tidak dimiliki oleh dunia. Ia menggunakan dunia untuk mendekat kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita bertanya kepada hati masing-masing. Sudahkah dunia membuat kita lalai? Sudahkah pekerjaan membuat kita menunda shalat? Sudahkah harta membuat kita kikir? Sudahkah kesenangan membuat kita lupa kubur? Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk akhirat?
Ketika dunia memanggil untuk lalai, ingatlah bahwa Allah memanggil untuk kembali.
Ketika dunia terasa sangat besar, ingatlah bahwa kubur hanya cukup untuk tubuh kita.
Ketika dunia terasa sangat indah, ingatlah bahwa surga jauh lebih indah dan lebih kekal.
Semoga Allah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar kita. Semoga Allah menjadikan dunia di tangan kita, bukan di hati kita. Semoga Allah memperbaiki amal kita, menerima taubat kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit