Ketika Hati Mulai Lelah Mengejar Dunia
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ketika Hati Mulai Lelah Mengejar Dunia
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dunia memang indah dipandang. Dunia memiliki harta, kedudukan, pujian, kesenangan, dan berbagai hal yang membuat manusia terpikat. Tetapi bila hati terlalu jauh mengejar dunia, ia akan lelah. Sebab dunia tidak pernah berkata cukup kepada manusia yang tidak mengenal qana'ah.
Hati yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama akan selalu merasa kurang. Ketika belum punya, ia gelisah ingin memiliki. Ketika sudah punya, ia takut kehilangan. Ketika melihat orang lain lebih banyak, ia iri. Ketika kehilangan sedikit saja, ia merasa hidupnya runtuh.
Allah berfirman:
"Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali 'Imran: 185)
1. Dunia Tidak Pernah Cukup bagi Hati yang Lalai
Saudaraku kaum muslimin,
Manusia sering mengira bahwa ketenangan akan datang setelah dunia terkumpul. Ia berkata, “Nanti kalau sudah punya ini, aku akan tenang.” “Nanti kalau sudah sampai di sana, aku akan bahagia.” Tetapi ketika semua itu tercapai, hatinya tetap mencari lagi.
Ini menunjukkan bahwa hati manusia tidak diciptakan untuk dipuaskan oleh dunia semata. Hati manusia diciptakan untuk mengenal Allah. Selama hati jauh dari Allah, maka dunia sebanyak apa pun tidak akan membuatnya benar-benar tenang.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia masih menginginkan lembah yang ketiga." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Mengejar Dunia Tanpa Allah Membuat Jiwa Sempit
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kesibukan dunia sering membuat seseorang lupa kepada Allah. Pekerjaan dikejar, tetapi shalat ditunda. Rezeki dicari, tetapi keberkahan dilupakan. Target hidup diperjuangkan, tetapi akhirat jarang dipikirkan.
Ketika hidup hanya berputar pada dunia, jiwa menjadi sempit. Seseorang mudah marah, mudah cemas, mudah iri, dan mudah kecewa. Sebab hatinya menggantung pada sesuatu yang berubah-ubah.
Allah berfirman:
"Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit." (QS. Thaha: 124)
Kehidupan sempit bukan selalu miskin harta. Bisa jadi hartanya banyak, tetapi dadanya sempit. Bisa jadi rumahnya luas, tetapi hatinya gelisah. Bisa jadi namanya dikenal, tetapi jiwanya lelah karena jauh dari Allah.
- Bila dunia membuat shalat tertunda, berarti hati perlu diingatkan.
- Bila rezeki membuat kita lupa bersyukur, berarti nikmat sedang menjadi ujian.
- Bila kesibukan membuat Al-Qur'an ditinggalkan, berarti arah hidup perlu diperbaiki.
- Bila hati mudah iri kepada manusia, berarti kita perlu belajar ridha kepada Allah.
3. Qana'ah adalah Kekayaan Hati
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Qana'ah bukan berarti malas bekerja. Qana'ah bukan berarti menolak rezeki. Qana'ah adalah hati yang ridha dengan pemberian Allah setelah berusaha dengan cara yang halal.
Orang yang qana'ah tetap bekerja, tetapi tidak menjual akhirat demi dunia. Ia tetap mencari nafkah, tetapi tidak meninggalkan shalat. Ia tetap punya cita-cita, tetapi tidak iri kepada ketentuan Allah atas orang lain.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kaya hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Akhirat adalah Tujuan, Dunia adalah Jalan
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Islam tidak melarang kita bekerja, berdagang, membangun rumah, menafkahi keluarga, dan mencari kehidupan yang baik. Tetapi Islam mengingatkan agar dunia tidak menjadi tujuan terakhir. Dunia hanyalah jalan, sedangkan akhirat adalah tempat pulang.
Bila dunia dijadikan jalan menuju Allah, maka ia menjadi berkah. Harta menjadi sedekah. Pekerjaan menjadi ibadah. Keluarga menjadi ladang pahala. Tetapi bila dunia dijadikan tujuan utama, maka ia bisa menjadi hijab yang menutup hati dari Allah.
Allah berfirman:
"Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah engkau lupakan bagianmu dari dunia." (QS. Al-Qashash: 77)
5. Istirahatkan Hati dengan Mengingat Allah
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ketika hati mulai lelah mengejar dunia, jangan tambah kelelahan itu dengan maksiat. Jangan obati kosongnya hati dengan hiburan yang membuat semakin jauh dari Allah. Pulangkan hati kepada dzikir, shalat, istighfar, dan Al-Qur'an.
Allah berfirman:
"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Hati yang lelah tidak selalu butuh lebih banyak dunia. Kadang hati hanya butuh kembali bersujud. Kadang hati hanya butuh menangis dalam doa. Kadang hati hanya butuh membuka mushaf yang lama ditinggalkan. Kadang hati hanya butuh berkata: “Ya Allah, aku terlalu jauh mengejar dunia. Pulangkan aku kepada-Mu.”
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mungkin kita sudah terlalu lama lelah. Lelah mengejar yang belum tentu kita bawa mati. Lelah memikirkan pandangan manusia. Lelah membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Lelah mengejar dunia, tetapi lupa menyiapkan akhirat.
Ingatlah Allah.
Perbaiki shalat.
Perbanyak istighfar.
Syukuri yang ada.
Siapkan bekal untuk pulang.
Sebab dunia akan ditinggalkan, sedangkan amal akan menemani kita di hadapan Allah.
Semoga Allah menjadikan dunia di tangan kita, bukan di hati kita. Semoga Allah memberi kita rezeki yang halal dan berkah, hati yang qana'ah, amal yang diterima, serta akhir hidup yang husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit