Komunikasi dalam Rumah Tangga Menjaga Lisan agar Tidak Melukai Hati
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Komunikasi dalam Rumah Tangga
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Rumah tangga yang sakinah tidak hanya membutuhkan nafkah, tempat tinggal, dan rasa cinta. Ia juga membutuhkan lisan yang terjaga. Suami dan istri yang saling berbicara dengan adab akan lebih mudah memahami. Tetapi bila lisan terbiasa menyakiti, maka rumah yang luas sekalipun bisa terasa sempit.
Komunikasi dalam Islam tidak bebas tanpa batas. Setiap ucapan dicatat. Setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban. Maka lisan yang digunakan di dalam rumah harus lebih dijaga, karena orang yang paling dekat dengan kita sering menjadi orang yang paling mudah terkena luka dari ucapan kita.
Allah berfirman:
"Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat." (QS. Qaf: 18)
1. Lisan yang Baik adalah Peneduh Rumah
Saudaraku kaum muslimin,
Lisan yang baik dapat mengubah suasana rumah. Kata lembut bisa meredakan amarah. Ucapan terima kasih bisa membuat lelah pasangan terasa dihargai. Permintaan maaf bisa memadamkan pertengkaran. Sapaan yang hangat bisa membuat rumah menjadi tempat pulang yang dirindukan.
Sebaliknya, kata-kata kasar bisa menghapus kehangatan. Sindiran yang berulang bisa menumpuk luka. Celaan terhadap kekurangan pasangan bisa membuat hati tertutup. Maka suami dan istri harus belajar bahwa menjaga lisan adalah bagian dari menjaga cinta.
Allah berfirman:
"Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)
maka kepada pasangan dan keluarga seharusnya lebih lembut lagi.
Sebab mereka lebih berhak merasakan indahnya akhlak kita.
2. Jangan Bicara Saat Amarah Menguasai
Jamaah yang dirahmati Allah,
Banyak penyesalan lahir dari ucapan saat marah. Ketika hati panas, lisan sering ingin menang. Ketika ego naik, kata-kata menjadi tajam. Dalam keadaan seperti itu, diam sementara sering lebih selamat daripada berbicara lalu melukai pasangan.
Menahan lisan saat marah bukan tanda kalah. Itu tanda iman sedang menjaga diri. Suami yang menahan bentakan sedang menjaga kehormatan keluarganya. Istri yang menahan kata pedas sedang menjaga kedamaian rumahnya. Keduanya sedang memilih ridha Allah daripada kemenangan sesaat.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Mendengar adalah Bagian dari Kasih Sayang
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Komunikasi bukan hanya berbicara, tetapi juga mendengar. Banyak pasangan merasa tidak dicintai bukan karena tidak diberi, tetapi karena tidak didengar. Ia berbicara, tetapi diabaikan. Ia menyampaikan perasaan, tetapi dipotong. Ia ingin dipahami, tetapi dianggap berlebihan.
Mendengar dengan baik adalah akhlak. Ketika pasangan berbicara, dengarkan dengan hati. Jangan langsung menyalahkan. Jangan terburu membela diri. Jangan meremehkan perasaannya. Bisa jadi yang dibutuhkan pasangan bukan jawaban panjang, tetapi hati yang mau hadir dan memahami.
Allah berfirman:
"Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka." (QS. Ali Imran: 159)
Pasangan yang didengar akan lebih mudah tenang.
Rumah yang saling mendengar akan lebih mudah sembuh dari luka.
4. Menasihati Pasangan Harus dengan Adab
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Dalam rumah tangga, suami dan istri pasti saling menasihati. Tetapi nasihat yang benar harus disampaikan dengan cara yang baik. Kebenaran yang disampaikan dengan kasar bisa ditolak oleh hati. Nasihat yang disampaikan di depan orang lain bisa terasa seperti penghinaan, bukan perbaikan.
Bila ingin menasihati pasangan, pilih waktu yang tepat, kata yang baik, dan niat yang ikhlas. Jangan menasihati untuk menjatuhkan. Jangan memperbaiki dengan mempermalukan. Jangan menjadikan kesalahan pasangan sebagai senjata dalam setiap pertengkaran.
Allah berfirman:
"Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik." (QS. An-Nahl: 125)
5. Kata Maaf dan Terima Kasih Menjaga Kehangatan Rumah
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dua kata sederhana sering dilupakan dalam rumah tangga: maaf dan terima kasih. Banyak pasangan merasa lelah karena kebaikannya dianggap biasa. Banyak hati menjadi jauh karena kesalahan tidak pernah diakui. Padahal meminta maaf tidak menjatuhkan martabat, dan berterima kasih tidak mengurangi kehormatan.
Suami perlu berterima kasih kepada istri atas lelahnya. Istri perlu berterima kasih kepada suami atas tanggung jawabnya. Keduanya perlu meminta maaf ketika salah. Rumah yang penuh terima kasih akan lebih hangat. Rumah yang mudah meminta maaf akan lebih cepat sembuh.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia." (HR. Abu Dawud)
Ucapkan maaf sebelum luka menjadi dinding.
Ucapkan doa sebelum rumah kehilangan kelembutan.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa lisan kita di rumah. Apakah ia lebih sering menenangkan atau melukai? Apakah pasangan kita merasa aman berbicara dengan kita? Apakah anak-anak kita belajar kelembutan dari ucapan kita, atau justru belajar kemarahan?
Jangan biarkan rumah hancur oleh kata-kata yang tidak dijaga. Luka fisik bisa terlihat, tetapi luka karena lisan sering tersembunyi dan lama sembuhnya. Maka jadikan komunikasi sebagai ibadah. Berbicaralah karena Allah, diamlah karena Allah, nasihatilah karena Allah, dan mintalah maaf karena Allah.
Jauhkan kami dari ucapan kasar, hinaan, sindiran, dan kata yang melukai hati.
Ajarkan kami berbicara dengan lembut dan mendengar dengan sabar.
Jadikan rumah kami tempat aman untuk saling memahami.
Satukan hati suami istri dengan mawaddah, rahmah, dan sakinah.
Sebab rumah tangga yang teduh sering dimulai dari lisan yang dijaga karena takut kepada Allah.
Semoga Allah memperbaiki komunikasi dalam keluarga kita, melembutkan lisan suami istri, menyembuhkan luka-luka dalam rumah tangga, memberkahi keluarga kaum muslimin, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit