Lima Perkara yang Sering Dilupakan Manusia
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Lima Perkara yang Sering Dilupakan Manusia
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita agar tidak menunggu kehilangan baru menghargai. Jangan menunggu sakit baru sadar nikmat sehat. Jangan menunggu tua baru menyesal masa muda. Jangan menunggu mati baru ingin kembali untuk beramal.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim)
1. Sehat Sebelum Sakit
Saudaraku kaum muslimin,
Sehat adalah nikmat yang sering tidak terasa. Selama tubuh kuat, kita merasa biasa saja. Selama kaki bisa berjalan, mata bisa melihat, tangan bisa bekerja, dan napas masih lapang, kita sering lupa bersyukur. Tetapi ketika sakit datang, barulah seseorang sadar bahwa sehat adalah kekayaan yang sangat mahal.
Gunakan sehat untuk taat. Gunakan badan yang masih kuat untuk shalat, bekerja halal, membantu orang tua, berbuat baik kepada keluarga, dan melangkah menuju majelis kebaikan. Jangan sampai sehat habis untuk maksiat, lalu ketika sakit baru menyesal karena tidak sempat memperbaiki amal.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)
2. Waktu Lapang Sebelum Sibuk
Jamaah yang dirahmati Allah,
Waktu adalah modal hidup yang tidak pernah kembali. Harta yang hilang mungkin bisa dicari lagi, tetapi waktu yang lewat tidak akan pernah pulang. Setiap detik yang pergi menjadi bagian dari umur yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Banyak manusia menunda amal karena merasa masih punya waktu. Ia berkata, “Nanti kalau senggang saya membaca Al-Qur'an.” “Nanti kalau tidak sibuk saya ke masjid.” “Nanti kalau urusan dunia selesai saya bertaubat.” Padahal kesibukan dunia tidak pernah benar-benar selesai.
Allah berfirman:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian." (QS. Al-'Ashr: 1-2)
3. Masa Muda Sebelum Tua
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Masa muda adalah masa kuat, masa semangat, masa mudah bergerak, masa banyak cita-cita. Namun masa muda juga sering menjadi masa yang paling mudah terlena. Banyak yang merasa hidup masih panjang, sehingga taubat ditunda, shalat diremehkan, dan dosa dianggap biasa.
Padahal masa muda yang dipakai untuk taat adalah kemuliaan besar di sisi Allah. Anak muda yang menjaga shalat, menjaga pergaulan, menjaga pandangan, menjaga akhlak, dan mencintai masjid adalah permata di tengah zaman yang banyak melalaikan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan salah satu golongan yang mendapat naungan Allah:
"Seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangan tunggu tua untuk mencintai sajadah.
Jangan tunggu lemah untuk mengenal Al-Qur'an.
Sebab masa muda yang taat adalah bekal indah menuju akhirat.
4. Kaya Sebelum Miskin
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Harta adalah amanah. Ia bisa menjadi jalan ke surga bila digunakan dalam ketaatan, dan bisa menjadi fitnah bila membuat hati sombong, bakhil, dan jauh dari Allah. Harta bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi juga untuk diuji: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan.
Gunakan harta sebelum ia hilang. Bersedekahlah sebelum datang masa sempit. Bantulah orang yang membutuhkan. Nafkahi keluarga dengan yang halal. Jangan tunggu kaya raya untuk memberi, sebab sedekah kecil yang ikhlas bisa besar nilainya di sisi Allah.
Allah berfirman:
"Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu." (QS. Al-Munafiqun: 10)
5. Hidup Sebelum Mati
Jamaah yang dirahmati Allah,
Inilah nikmat yang paling besar: kita masih hidup. Selama masih hidup, pintu taubat masih terbuka. Selama masih hidup, shalat masih bisa diperbaiki. Selama masih hidup, dosa masih bisa dimohonkan ampun. Selama masih hidup, hubungan dengan Allah masih bisa dipulihkan.
Namun bila kematian telah datang, tidak ada lagi amal baru. Tidak ada lagi sujud baru. Tidak ada lagi sedekah baru, kecuali yang pahalanya terus mengalir. Tidak ada lagi kesempatan meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Yang ada hanyalah pertanggungjawaban.
Allah berfirman:
"Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.'" (QS. Al-Mu'minun: 99-100)
Jangan tunggu kafan untuk menyesal karena lalai.
Jangan tunggu kubur untuk ingin kembali.
Hidup hari ini adalah kesempatan yang sangat mahal.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Lima perkara ini sering kita miliki, tetapi sering pula kita lupakan: sehat, waktu lapang, masa muda, harta, dan hidup. Semuanya adalah titipan. Semuanya bisa berubah. Semuanya akan ditanya oleh Allah.
Jangan sampai kita baru menghargai sehat setelah sakit. Baru menghargai waktu setelah sibuk. Baru menghargai muda setelah tua. Baru ingin bersedekah setelah sempit. Baru ingin beramal setelah kematian datang.
Gunakan waktu untuk mengingat Allah.
Gunakan masa muda untuk menjaga diri.
Gunakan harta untuk bekal akhirat.
Gunakan hidup untuk mempersiapkan kematian.
Sebab nikmat yang tidak disyukuri akan berubah menjadi penyesalan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, pandai memanfaatkan nikmat, tidak tertipu oleh dunia, dan dipanggil kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit