Lisan yang Menyelamatkan Jangan Melukai Hati Sesama Muslim
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Lisan yang Menyelamatkan
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Banyak manusia kuat menjaga shalat, puasa, dan sedekah, tetapi lemah menjaga lisan. Ia mudah berkata buruk, mudah menyindir, mudah membuka aib, mudah menghakimi, dan mudah merendahkan orang lain. Padahal ucapan yang keluar dari lisan tidak hilang begitu saja. Semua dicatat, semua akan ditanya, dan semua dapat menjadi saksi di hadapan Allah.
Karena itu, seorang mukmin harus belajar menimbang kata sebelum berbicara. Apakah ucapan ini benar? Apakah perlu? Apakah membawa maslahat? Apakah melukai tanpa alasan yang dibenarkan? Apakah Allah ridha bila kata-kata ini dicatat dalam catatan amal?
Allah berfirman:
"Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat." (QS. Qaf: 18)
1. Berkata Baik atau Diam
Saudaraku kaum muslimin,
Islam memberikan kaidah yang sangat indah: berkata baik atau diam. Bila ucapan membawa kebaikan, sampaikan dengan adab. Bila ucapan hanya melukai, menambah dosa, membuka aib, atau memperpanjang permusuhan, maka diam lebih selamat.
Diam bukan selalu lemah. Diam karena menahan diri dari dosa adalah kekuatan iman. Diam ketika marah dapat menyelamatkan persaudaraan. Diam dari ghibah dapat menyelamatkan amal. Diam dari fitnah dapat menyelamatkan banyak hati dari kerusakan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak semua yang kita rasa harus diucapkan.
Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang melukai.
2. Jangan Melukai Hati Sesama Muslim
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kata-kata bisa menjadi obat, tetapi juga bisa menjadi pisau. Satu kalimat hinaan dapat melekat dalam hati seseorang bertahun-tahun. Satu sindiran dapat mematahkan semangat. Satu ucapan kasar dapat merusak persaudaraan. Karena itu, jangan meremehkan luka yang lahir dari lisan.
Sesama muslim adalah saudara. Maka jangan mudah merendahkan, menghina, mencela, atau memberi gelar buruk. Bisa jadi orang yang kita rendahkan lebih mulia di sisi Allah. Bisa jadi air mata yang jatuh karena ucapan kita menjadi sebab beratnya hisab kita.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka." (QS. Al-Hujurat: 11)
3. Bahaya Ghibah dan Fitnah
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di antara dosa lisan yang paling sering terjadi adalah ghibah dan fitnah. Ghibah adalah membicarakan sesuatu tentang saudara kita yang ia tidak suka bila mendengarnya, walaupun itu benar. Adapun fitnah lebih berat lagi, yaitu menyebarkan sesuatu yang tidak benar sehingga merusak kehormatan orang lain.
Ghibah sering dibungkus dengan alasan: "Aku hanya cerita", "Ini fakta", "Jangan bilang siapa-siapa", atau "Sekadar curhat." Padahal jika ucapan itu membuka aib tanpa kebutuhan yang benar, maka ia tetap berbahaya. Betapa banyak persaudaraan rusak bukan karena masalah besar, tetapi karena cerita yang berpindah dari satu lisan ke lisan yang lain.
Allah berfirman:
"Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik." (QS. Al-Hujurat: 12)
tetapi berat dalam timbangan dosa.
Menjaga kehormatan saudara adalah tanda hati yang takut kepada Allah.
4. Lisan yang Baik Menyatukan, Bukan Memecah
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Seorang mukmin hendaknya menjadikan lisannya sebagai alat perdamaian. Bila ada dua saudara berselisih, jangan menambah panas. Bila ada berita belum jelas, jangan menyebarkan. Bila ada orang sedang jatuh, jangan menertawakan. Bila ada hati sedang terluka, jangan menambah luka.
Betapa mulianya lisan yang mendamaikan. Lisan yang menasihati dengan lembut. Lisan yang mengucapkan salam. Lisan yang mendoakan diam-diam. Lisan yang berkata, "Mari kita perbaiki." Lisan seperti ini menjadi sebab turunnya keteduhan dalam masyarakat.
Allah berfirman:
"Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)
5. Selamatkan Diri dengan Menjaga Lisan
Jamaah yang dirahmati Allah,
Lisan dapat menjadi sebab keselamatan atau kebinasaan. Ada orang yang satu kalimatnya mengangkat derajat karena mengajak kepada kebaikan. Ada pula orang yang satu kalimatnya menjatuhkan karena menyebarkan fitnah, menghina, atau menzalimi kehormatan orang lain.
Maka sebelum berbicara, ingatlah akhirat. Sebelum menulis, ingatlah hisab. Sebelum menyebarkan berita, ingatlah tanggung jawab. Sebelum menyindir, ingatlah bahwa hati manusia bukan tempat bermain. Lisan yang dijaga karena Allah akan menyelamatkan pemiliknya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangan sampai ibadah kita banyak, tetapi manusia banyak terluka karena kata-kata kita.
Sebab akhlak lisan adalah bagian besar dari kesempurnaan iman.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa lisan kita. Berapa banyak kata yang telah menenangkan? Berapa banyak kata yang telah melukai? Berapa banyak ghibah yang pernah kita anggap biasa? Berapa banyak berita yang kita sebarkan tanpa tabayyun? Berapa banyak hati yang mungkin masih menyimpan luka karena ucapan kita?
Umur kita terbatas, tetapi jejak ucapan bisa panjang. Kata-kata yang baik dapat terus menjadi doa dan kebaikan. Kata-kata yang buruk dapat terus menjadi luka dan dosa. Maka jadikan lisan sebagai jalan keselamatan. Perbanyak dzikir, shalawat, nasihat yang lembut, doa, ucapan yang benar, dan diam dari segala yang tidak diridhai Allah.
Jadikan kata-kata kami membawa rahmat, bukan membawa luka.
Ampuni dosa-dosa lisan kami yang kami sadari maupun yang kami lupakan.
Lembutkan ucapan kami kepada keluarga, tetangga, saudara, dan seluruh hamba-Mu.
Jadikan lisan kami sibuk dengan dzikir, shalawat, nasihat, dan kebaikan.
Sebab lisan yang dijaga karena Allah akan menyelamatkan pemiliknya, dan kata yang baik dapat menjadi jalan menuju ridha-Nya.
Semoga Allah memperbaiki lisan kita, menutup aib kita, memperindah akhlak kita, menyelamatkan persaudaraan kaum muslimin dari fitnah lisan, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit