Memilih Pasangan karena Allah Awal Baik Menuju Rumah Tangga Berkah
Jumat

Memilih Pasangan karena Allah Awal Baik Menuju Rumah Tangga Berkah

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Memilih Pasangan karena Allah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Menikah karena Allah berarti menjadikan pernikahan sebagai ibadah. Bukan hanya mengejar kesenangan, bukan hanya mencari status, bukan hanya mengikuti tekanan usia, bukan hanya tertarik rupa, harta, atau kedudukan, tetapi mencari seseorang yang bisa diajak taat kepada Allah.

Pasangan yang baik bukan selalu yang sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna. Pasangan yang baik adalah yang mau belajar, takut kepada Allah, menjaga amanah, dan siap membangun rumah tangga dengan tanggung jawab. Yang dicari bukan malaikat tanpa kekurangan, tetapi hamba Allah yang mau berjalan dalam kebaikan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau beruntung." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini bukan menafikan hal lain, tetapi menegaskan bahwa agama harus menjadi pertimbangan utama. Karena rupa bisa berubah, harta bisa berkurang, kedudukan bisa hilang, tetapi agama dan akhlak menjadi penjaga rumah tangga.

1. Awali Pernikahan dengan Niat Ibadah

Saudaraku kaum muslimin,

Setiap amal bergantung pada niat. Demikian pula pernikahan. Bila pernikahan diniatkan hanya untuk dunia, maka ketika dunia tidak sesuai harapan, rumah tangga mudah goyah. Tetapi bila diniatkan karena Allah, maka suka dan duka dapat menjadi ibadah.

Suami mencari nafkah menjadi ibadah. Istri mengurus rumah dan keluarga menjadi ibadah. Saling menasihati menjadi ibadah. Sabar menghadapi kekurangan pasangan menjadi ibadah. Bahkan senyum, kelembutan, dan kata baik di dalam rumah bisa menjadi pahala bila diniatkan karena Allah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Niat yang benar membuat rumah tangga menjadi ladang pahala.
Tanpa niat yang benar, pernikahan mudah berubah menjadi tempat menuntut dan menyalahkan.

2. Jangan Tertipu oleh Rupa dan Harta Semata

Jamaah yang dirahmati Allah,

Rupa adalah nikmat, harta juga nikmat. Tetapi keduanya tidak cukup menjadi pondasi rumah tangga. Rupa bisa memikat mata, tetapi akhlak yang menjaga hati. Harta bisa membuat nyaman, tetapi agama yang membuat rumah tangga terarah.

Banyak orang menyesal karena dahulu hanya melihat yang tampak, tetapi lupa menilai agama dan akhlak. Padahal setelah menikah, yang paling banyak dirasakan bukan hanya wajah, tetapi ucapan; bukan hanya harta, tetapi tanggung jawab; bukan hanya keturunan, tetapi adab dan kesabaran.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan pasangan bukan hanya dilihat dari tampilan dunia, tetapi dari taqwa yang membuat ia takut menyakiti, takut berkhianat, dan takut melalaikan amanah.

3. Agama dan Akhlak adalah Penjaga Rumah Tangga

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Agama tanpa akhlak akan terasa keras. Akhlak tanpa agama mudah kehilangan arah. Maka ketika memilih pasangan, perhatikan keduanya: bagaimana shalatnya, bagaimana lisannya, bagaimana tanggung jawabnya, bagaimana sikapnya kepada orang tua, bagaimana ia menjaga amanah, dan bagaimana ia bersikap saat marah.

Jangan hanya menilai seseorang ketika ia tersenyum. Lihat pula bagaimana ia ketika berbeda pendapat. Jangan hanya menilai ketika ia memiliki sesuatu. Lihat bagaimana ia ketika kekurangan. Karena rumah tangga akan melewati masa lapang dan sempit, senang dan susah, tenang dan ujian.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ

"Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia." (HR. Tirmidzi)

Agama membuat pasangan ingat Allah.
Akhlak membuat pasangan menjaga perasaan.
Tanggung jawab membuat rumah tangga berdiri dengan amanah.

4. Libatkan Allah sebelum Menetapkan Pilihan

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Karena pernikahan adalah jalan panjang, jangan menetapkan pilihan hanya dengan emosi. Libatkan Allah dengan doa, istikharah, musyawarah, dan meminta nasihat orang yang bijak. Hati bisa tertarik, tetapi Allah yang mengetahui akibat terbaik.

Berdoalah agar tidak tertipu oleh sesuatu yang tampak indah tetapi buruk untuk akhirat. Berdoalah agar tidak menolak seseorang yang sederhana tetapi membawa berkah. Dalam urusan pasangan, jangan hanya bertanya: apakah aku menyukainya? Tetapi tanyakan juga: apakah ia membantuku taat kepada Allah?

Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Pilihan hati perlu dibimbing oleh iman, karena tidak semua yang menarik bagi mata baik untuk kehidupan dan akhirat.

5. Pilih yang Mau Tumbuh Bersama dalam Kebaikan

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pasangan yang baik bukan hanya yang tampak baik hari ini, tetapi yang mau terus bertumbuh dalam kebaikan. Rumah tangga adalah perjalanan panjang. Akan ada kesalahan, perbedaan, lelah, kekurangan, dan ujian. Maka carilah pasangan yang mau dinasihati, mau belajar, mau meminta maaf, dan mau memperbaiki diri.

Seseorang yang memiliki agama dan akhlak akan lebih mudah diajak pulang kepada Allah ketika salah. Ia tidak merasa paling benar. Ia tidak menjadikan ego sebagai pemimpin rumah. Ia sadar bahwa pernikahan bukan medan untuk menang sendiri, tetapi jalan untuk saling menuntun menuju ridha Allah.

Doa hamba-hamba Allah yang saleh:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)

Pasangan terbaik bukan yang tidak pernah salah.
Pasangan terbaik adalah yang mau kembali kepada Allah ketika salah.
Yang mau tumbuh bersama, bukan menang sendiri.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Bagi yang belum menikah, pilihlah pasangan dengan mata iman. Jangan hanya bertanya tentang rupanya, hartanya, atau statusnya. Tanyakan pula tentang shalatnya, akhlaknya, tanggung jawabnya, lisannya, amanahnya, dan kesiapannya membangun rumah tangga karena Allah.

Bagi yang sudah menikah, mari perbarui niat. Mungkin dahulu kita belum sempurna dalam memilih dan menata niat, tetapi hari ini kita masih bisa memperbaiki rumah tangga dengan taqwa. Jadikan pasangan sebagai amanah, bukan beban. Jadikan pernikahan sebagai ibadah, bukan sekadar tuntutan dunia.

Ya Allah, bimbinglah anak-anak muda kami dalam memilih pasangan yang baik agamanya dan akhlaknya.
Berkahilah pernikahan kaum muslimin.
Jadikan pasangan kami penolong dalam taat, bukan sebab lalai dari-Mu.
Perbaiki niat kami, lembutkan hati kami, dan satukan keluarga kami dalam rahmat-Mu.

Sebab awal rumah tangga yang berkah adalah ketika pilihan cinta dituntun oleh iman dan diserahkan kepada Allah.

Semoga Allah membimbing yang belum menikah kepada pasangan yang saleh dan salehah, memperbaiki rumah tangga yang sudah berjalan, menjaga keluarga kita dari fitnah dunia, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِينَ وَفَتَيَاتِهِمْ، وَارْزُقْهُمْ أَزْوَاجًا صَالِحِينَ وَزَوْجَاتٍ صَالِحَاتٍ، وَبَارِكْ فِي بُيُوتِنَا، وَاجْعَلْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit