Menafkahi Orang Tua Kemuliaan Anak yang Tahu Balas Budi
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Menafkahi Orang Tua
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Menafkahi orang tua bukan sekadar bantuan ekonomi. Ia adalah tanda syukur, tanda cinta, tanda adab, dan tanda bahwa seorang anak tidak lupa dari mana ia tumbuh. Harta yang diberikan kepada orang tua tidak pernah sia-sia. Bahkan ia menjadi bagian dari amal yang sangat mulia bila dilakukan dengan ikhlas dan penuh hormat.
Namun nafkah kepada orang tua harus diberikan dengan adab. Jangan memberi sambil mengungkit. Jangan membantu sambil merendahkan. Jangan menanggung kebutuhan mereka dengan wajah masam. Sebab orang tua tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga membutuhkan penghormatan dan kelembutan dari anak-anaknya.
Allah berfirman:
"Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada kedua orang tua dan kerabat." (QS. Al-Baqarah: 215)
1. Jangan Pelit kepada Orang Tua ketika Mampu
Saudaraku kaum muslimin,
Sungguh tidak pantas seorang anak hidup lapang, mampu membeli banyak kesenangan, tetapi berat membantu orang tua sendiri. Tidak pantas seorang anak mudah mengeluarkan harta untuk gaya hidup, tetapi merasa rugi ketika ibu membutuhkan obat atau ayah membutuhkan biaya. Orang tua dahulu tidak menghitung-hitung pengorbanan untuk kita, maka jangan hitung-hitungan saat mereka membutuhkan kita.
Memang setiap anak memiliki kemampuan berbeda. Tidak semua anak kaya. Tidak semua anak lapang. Tetapi yang tercela adalah ketika mampu namun enggan, ketika bisa membantu namun pura-pura tidak tahu, ketika berlebihan untuk diri sendiri namun pelit kepada orang tua. Inilah yang harus kita takutkan.
Allah berfirman:
"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah tempat kembali." (QS. Luqman: 14)
Syukur itu tampak ketika anak hadir, peduli, membantu, dan tidak pelit saat mereka membutuhkan.
2. Harta Anak Tidak Lepas dari Jasa Orang Tua
Jamaah yang dirahmati Allah,
Bila hari ini seorang anak bisa bekerja, memiliki penghasilan, berdagang, memiliki kedudukan, atau hidup lebih baik, jangan lupa bahwa ada jasa orang tua di belakangnya. Dahulu mereka memberi makan, membiayai, menyekolahkan, mendoakan, dan mendukung dengan cara yang mereka mampu.
Maka ketika sebagian harta kita kembali untuk memenuhi kebutuhan mereka, itu bukan kerugian. Itu adalah tanda bahwa kita ingat jasa. Itu adalah cara membalas yang kecil terhadap pengorbanan yang besar. Bahkan harta yang diberikan kepada orang tua dapat menjadi sebab keberkahan rezeki, karena diberikan pada jalan yang diridhai Allah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya, dan anaknya termasuk hasil usahanya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
3. Memberi dengan Adab, Bukan dengan Menyakiti
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Nafkah kepada orang tua harus dijaga dari penyakit hati: riya, mengungkit, merasa berjasa, dan merendahkan. Jangan berkata, "Kalau bukan saya, Ayah dan Ibu tidak bisa hidup." Jangan berkata, "Saya capek mengurus kalian." Jangan memberi sambil memperlihatkan wajah kesal. Ucapan seperti itu bisa menghapus keindahan pemberian dan melukai hati orang tua.
Berilah dengan wajah yang baik. Jika tidak mampu banyak, beri sedikit dengan tulus. Jika belum mampu memberi harta, bantu dengan tenaga, waktu, dan perhatian. Jangan jadikan orang tua merasa hina karena menerima bantuan dari anaknya. Mereka dahulu memberi kepada kita tanpa mempermalukan kita.
Allah berfirman:
"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan menyakiti." (QS. Al-Baqarah: 263)
Jangan membantu tubuh mereka, tetapi menyakiti hati mereka.
Berilah dengan adab, karena adab adalah ruh dari bakti.
4. Nafkah kepada Orang Tua Sesuai Kemampuan
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Islam adalah agama yang adil. Kewajiban membantu orang tua dilakukan sesuai kemampuan dan keadaan. Anak yang memiliki keluarga, istri, suami, anak-anak, dan tanggungan lain harus bijak mengatur rezeki. Jangan zalim kepada keluarga sendiri, tetapi jangan pula mengabaikan orang tua yang membutuhkan.
Jika ada beberapa saudara, hendaknya saling bermusyawarah dan berbagi tanggung jawab. Ada yang mampu membantu biaya, ada yang mampu menemani, ada yang mampu mengurus kesehatan, ada yang mampu menyediakan waktu. Jangan saling melempar beban. Jadikan kebutuhan orang tua sebagai ladang kerja sama dalam kebaikan.
Allah berfirman:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)
5. Nafkah kepada Orang Tua adalah Pintu Berkah
Jamaah yang dirahmati Allah,
Banyak orang takut miskin ketika memberi kepada orang tua. Padahal harta yang diberikan di jalan kebaikan tidak akan hilang di sisi Allah. Bisa jadi uang yang kita berikan kepada orang tua menjadi sebab datangnya ketenangan, mudahnya urusan, lembutnya doa mereka, dan berkahnya rezeki yang tersisa.
Keberkahan bukan hanya jumlah yang besar. Keberkahan adalah rasa cukup, hati tenang, keluarga damai, dan rezeki yang membawa kebaikan. Maka jangan takut membantu orang tua. Selama niat benar dan harta halal, nafkah kepada mereka adalah jalan mulia untuk mencari ridha Allah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Sedekah tidaklah mengurangi harta." (HR. Muslim)
Ia berpindah menjadi doa, ridha, pahala, dan keberkahan yang Allah simpan untuk kita.
6. Tetap Berbakti dengan Harta Setelah Mereka Wafat
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Jika orang tua telah wafat, bakti dengan harta masih bisa dilakukan melalui sedekah atas nama mereka, wakaf, membantu kerabat mereka yang membutuhkan, menyelesaikan hutang mereka, atau menunaikan amanah yang sesuai syariat. Jangan mengira bakti selesai ketika mereka masuk kubur. Jalan kebaikan masih terbuka.
Terutama jika orang tua meninggalkan hutang, anak hendaknya berusaha menyelesaikannya sesuai kemampuan dan aturan syariat. Ini adalah bentuk kasih sayang yang sangat besar. Selain itu, sedekah yang diniatkan untuk orang tua dapat menjadi hadiah pahala yang indah, semoga Allah menerimanya.
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi tentang sedekah untuk ibunya yang telah wafat, lalu beliau bersabda:
"Ya, bersedekahlah atas namanya." (HR. Bukhari)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita sudah memperhatikan kebutuhan orang tua? Apakah kita mudah membantu mereka, atau sering mencari alasan? Apakah kita memberi dengan wajah baik, atau memberi sambil menyakiti? Apakah kita lebih ringan mengeluarkan harta untuk kesenangan diri daripada untuk ibu dan ayah yang telah membesarkan kita?
Menafkahi orang tua adalah kemuliaan anak yang tahu balas budi. Bukan karena kita mampu melunasi jasa mereka, sebab jasa mereka tidak akan lunas. Tetapi karena kita ingin bersyukur kepada Allah, ingin menjaga ridha orang tua, dan ingin membalas sedikit dari pengorbanan besar yang dahulu mereka berikan.
Jadikan kami anak-anak yang tidak pelit kepada orang tua kami.
Jauhkan kami dari mengungkit pemberian, merendahkan, atau menyakiti hati mereka.
Bimbing kami agar mampu membantu kebutuhan mereka dengan ikhlas, adab, dan kasih sayang.
Jika mereka masih hidup, bahagiakan mereka dengan perhatian dan nafkah yang baik.
Jika mereka telah wafat, jadikan sedekah dan amal saleh kami sebagai cahaya bagi mereka.
Sebab menafkahi orang tua adalah kemuliaan anak yang tahu balas budi, dan harta yang diberikan kepada mereka adalah jalan syukur yang penuh keberkahan.
Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, melapangkan rezeki kita untuk kebaikan, menerima nafkah dan sedekah kita, mengampuni kelalaian kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit