Menjaga Bahasa, Budaya, dan Adab Bangsa Merawat Identitas Negeri dalam Cahaya Islam
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Menjaga Bahasa, Budaya, dan Adab Bangsa
Bahasa adalah nikmat Allah. Dengan bahasa manusia mengenal, belajar, berdoa, menasihati, berdakwah, berdagang, menulis ilmu, dan membangun peradaban. Budaya yang baik juga menjadi sarana memperindah kehidupan sosial: saling menghormati, gotong royong, memuliakan tamu, menghargai orang tua, dan menjaga kehormatan keluarga.
Namun bahasa dan budaya harus berada dalam cahaya Islam. Tidak semua kebiasaan boleh dipertahankan. Yang sesuai dengan syariat dan akhlak dipelihara. Yang mengandung syirik, maksiat, kezaliman, kesombongan, pemborosan, atau penghinaan terhadap manusia harus ditinggalkan. Inilah cara Islam merawat identitas tanpa kehilangan kemurnian iman.
Allah berfirman:
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu.” (QS. Ar-Rum: 22)
1. Bahasa adalah Nikmat yang Harus Dijaga
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, bahasa bukan hanya alat bicara. Bahasa adalah amanah. Dengan bahasa, manusia bisa menyampaikan ilmu dan kebenaran. Dengan bahasa pula manusia bisa menyakiti, memfitnah, mencaci, dan menghancurkan persaudaraan. Maka menjaga bahasa berarti menjaga lisan dari kata-kata yang merusak.
Bangsa yang beradab tampak dari cara masyarakatnya berbicara. Jika bahasa dipenuhi hinaan, caci maki, dusta, dan provokasi, maka adab bangsa melemah. Tetapi jika bahasa dipakai untuk menasihati, menyapa dengan santun, mengajar dengan lembut, dan menguatkan persaudaraan, maka bahasa menjadi jalan keberkahan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika tidak mampu berkata benar dan bermanfaat,
diam lebih selamat daripada menyakiti manusia.
2. Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah adalah Amanah Peradaban
Saudaraku kaum muslimin, di negeri kita ada bahasa persatuan dan banyak bahasa daerah. Semua itu adalah bagian dari kekayaan yang Allah titipkan. Bahasa persatuan menghubungkan berbagai suku dan wilayah. Bahasa daerah menyimpan sejarah, nasihat orang tua, kearifan lokal, dan rasa kekeluargaan.
Menjaga bahasa bukan berarti fanatik buta. Menjaga bahasa berarti menggunakannya dengan baik, tidak menjadikannya alat penghinaan, tidak merendahkan bahasa suku lain, dan tidak kehilangan sopan santun dalam bicara. Anak-anak perlu diajari bahasa yang baik agar tidak tumbuh menjadi generasi yang kasar lisannya dan miskin adab.
Allah berfirman:
“Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
3. Budaya yang Baik Dikuatkan, Budaya yang Rusak Ditinggalkan
Jamaah yang dirahmati Allah, Islam tidak memusuhi budaya selama budaya itu tidak bertentangan dengan syariat. Budaya menghormati tamu, membantu tetangga, gotong royong, bermusyawarah, menjaga malu, menghormati orang tua, dan memuliakan guru adalah budaya baik yang selaras dengan akhlak Islam.
Namun budaya yang mengandung syirik, maksiat, pemborosan, membuka aurat, merendahkan perempuan, menzalimi yang lemah, atau melanggar batas halal dan haram harus ditinggalkan. Kita tidak boleh mempertahankan kebiasaan buruk hanya karena diwariskan. Warisan leluhur yang baik kita hormati, tetapi kebenaran agama tetap menjadi ukuran tertinggi.
Allah berfirman:
“Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS. Al-A'raf: 199)
Budaya yang mungkar harus diperbaiki.
Islam adalah cahaya yang menyaring dan memuliakan kehidupan manusia.
4. Adab adalah Mahkota Bangsa
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, bangsa yang kehilangan adab akan kehilangan kehormatan. Adab kepada Allah melahirkan ibadah. Adab kepada Rasul melahirkan cinta sunnah. Adab kepada orang tua melahirkan bakti. Adab kepada guru melahirkan keberkahan ilmu. Adab kepada tetangga melahirkan ketenteraman. Adab kepada sesama warga melahirkan persatuan.
Ilmu tanpa adab bisa menjadi kesombongan. Jabatan tanpa adab bisa menjadi kezaliman. Kekayaan tanpa adab bisa menjadi penghinaan kepada orang miskin. Media sosial tanpa adab bisa menjadi medan caci maki. Maka adab harus dijaga dari rumah, sekolah, masjid, pasar, kantor, dan ruang digital.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya di antara orang terbaik dari kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Menghormati Orang Tua, Guru, dan Tokoh yang Saleh
Jamaah Jumat yang berbahagia, salah satu tanda adab bangsa adalah penghormatan kepada orang tua, guru, ulama, dan tokoh yang membawa kebaikan. Bukan penghormatan yang berlebihan hingga mengultuskan manusia, tetapi penghormatan yang lahir dari rasa terima kasih, adab, dan pengakuan terhadap jasa.
Generasi muda perlu diajari bahwa kemajuan tidak boleh membuat mereka kurang ajar. Modern bukan berarti hilang sopan santun. Pintar bukan berarti boleh merendahkan guru. Kaya bukan berarti boleh menghina orang tua. Teknologi boleh maju, tetapi adab jangan mundur.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak menghormati yang besar.” (HR. Tirmidzi)
menghormati yang tua,
dan memuliakan ilmu serta kebaikan.
6. Jangan Bangga dengan Budaya Maksiat
Jamaah yang dirahmati Allah, tidak semua yang disebut modern adalah kemajuan. Kadang yang disebut gaya hidup justru kemaksiatan. Kadang yang disebut hiburan justru merusak malu. Kadang yang disebut kebebasan justru memperbudak manusia kepada hawa nafsu. Maka seorang muslim harus cerdas membedakan budaya yang membangun dan budaya yang merusak.
Jangan bangga dengan budaya mabuk, judi, pergaulan bebas, pornografi, membuka aurat, ucapan kasar, pamer kemewahan, dan hilangnya rasa malu. Bila budaya seperti ini dibiarkan, generasi akan kehilangan arah. Bangsa tidak akan kuat bila moralnya runtuh dari dalam.
Allah berfirman:
“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 168)
7. Merawat Identitas Negeri dengan Iman
Saudaraku kaum muslimin, merawat identitas bangsa tidak berarti meninggalkan Islam. Justru Islam memberi arah agar bahasa menjadi santun, budaya menjadi bermakna, adat menjadi beradab, seni menjadi bersih, dan kehidupan sosial menjadi penuh rahmat. Identitas bangsa yang dirawat dengan iman akan menjadi kekuatan, bukan sumber kerusakan.
Cintailah negeri dengan menjaga bahasanya, menghormati budaya yang baik, memperbaiki kebiasaan yang buruk, menanamkan adab kepada generasi, dan menjadikan Islam sebagai cahaya penuntun. Dengan demikian, kita tidak kehilangan akar, tidak kehilangan arah, dan tidak kehilangan iman.
Allah berfirman:
“Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)
adalah kekuatan bangsa yang lahir dari hati yang beriman.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah lisan kita sudah menjaga kehormatan bahasa? Apakah budaya yang kita ikuti sudah sesuai dengan syariat? Apakah anak-anak kita tumbuh dengan adab? Apakah kita menjaga sopan santun di rumah, masjid, jalan, kantor, dan media sosial?
Menjaga bahasa, budaya, dan adab bangsa bukan sekadar menjaga tradisi. Ia adalah bagian dari menjaga akhlak masyarakat. Bahasa yang rusak akan merusak komunikasi. Budaya yang rusak akan merusak generasi. Adab yang hilang akan meruntuhkan kehormatan bangsa.
Jadikan bahasa kami bahasa yang membawa ilmu, nasihat, doa, dan kebaikan.
Bersihkan budaya hidup kami dari syirik, maksiat, pemborosan, kesombongan, dan kezaliman.
Hidupkan adab di rumah kami, sekolah kami, masjid kami, masyarakat kami, dan negeri kami.
Sebab menjaga bahasa, budaya, dan adab bangsa dalam cahaya Islam adalah jalan merawat identitas negeri tanpa kehilangan iman, menjaga warisan yang baik, dan memperbaiki kebiasaan yang rusak agar masyarakat hidup bermartabat.
Semoga Allah memperindah akhlak kita, menjaga generasi kita, memberkahi bahasa dan budaya yang baik di negeri kita, menerima amal kita, mengampuni dosa kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit