Menjaga Persaudaraan Jangan Putus Hanya karena Perbedaan
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Menjaga Persaudaraan
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam membangun umat di atas iman dan persaudaraan. Orang beriman bukan sekadar kumpulan manusia yang shalat menghadap kiblat yang sama, tetapi mereka adalah saudara yang harus saling menjaga, saling menolong, saling menasihati, saling memaafkan, dan saling memperbaiki bila terjadi kekeliruan.
Namun dalam kehidupan, kita pasti menemukan perbedaan. Berbeda cara pandang, berbeda kebiasaan, berbeda pilihan, berbeda pendapat dalam urusan dunia, bahkan berbeda dalam masalah cabang agama yang masih memiliki ruang ijtihad. Perbedaan seperti ini tidak boleh membuat hati saling membenci, lisan saling mencela, dan hubungan saling memutus.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)
1. Persaudaraan Iman Lebih Besar dari Perbedaan Kecil
Saudaraku kaum muslimin,
Persaudaraan karena iman adalah ikatan yang sangat mulia. Ia lebih kuat daripada kepentingan sesaat, lebih tinggi daripada gengsi pribadi, dan lebih mahal daripada kemenangan dalam perdebatan. Maka sangat disayangkan bila hubungan sesama muslim rusak hanya karena perbedaan yang sebenarnya tidak sampai merusak pokok agama.
Berbeda pendapat boleh, tetapi jangan berbeda adab. Berbeda pilihan boleh, tetapi jangan memutus salam. Berbeda cara pandang boleh, tetapi jangan membuka aib. Berbeda kebiasaan boleh, tetapi jangan menghina. Seorang mukmin yang dewasa memahami bahwa menjaga hati saudara sering lebih utama daripada memaksakan ego sendiri.
Allah berfirman:
"Berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103)
Perbedaan tidak harus memutus persaudaraan.
Selama iman masih menyatukan, adab harus tetap dijaga.
2. Bahaya Ego dalam Perselisihan
Jamaah yang dirahmati Allah,
Banyak persaudaraan rusak bukan karena masalahnya besar, tetapi karena ego yang tidak mau merendah. Seseorang tidak mau meminta maaf karena merasa gengsi. Tidak mau menyapa dulu karena merasa harga dirinya jatuh. Tidak mau mendengar penjelasan karena sudah merasa paling benar. Akhirnya masalah kecil menjadi panjang dan hati semakin jauh.
Ego membuat manusia lebih ingin menang daripada ingin damai. Ego membuat lisan keras, hati tertutup, dan telinga enggan menerima nasihat. Padahal orang yang paling mulia bukan yang paling lama bertahan dalam marah, tetapi yang paling cepat kembali kepada Allah dan memperbaiki hubungan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam." (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Jaga Lisan saat Berbeda Pendapat
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ketika berbeda pendapat, lisan sering menjadi pintu dosa. Ada yang mencela, menyindir, merendahkan, menuduh niat buruk, menyebarkan aib, bahkan memberi gelar yang menyakitkan. Padahal perbedaan pendapat tidak boleh membuat kita kehilangan akhlak.
Jangan sampai kita merasa sedang membela kebenaran, tetapi menggunakan cara yang dibenci Allah. Kebenaran harus disampaikan dengan ilmu, hikmah, dan adab. Jika cara kita penuh hinaan, bisa jadi yang kita rusak lebih besar daripada yang kita perbaiki.
Allah berfirman:
"Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS. Al-Isra: 53)
Satu kalimat yang tajam bisa merusak hubungan yang lama terjaga.
Maka jagalah lisan, terutama saat hati sedang tidak setuju.
4. Jangan Membesarkan Masalah yang Bisa Dimaafkan
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Tidak semua kesalahan harus diperpanjang. Tidak semua kekeliruan harus diumumkan. Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan sampai hubungan putus. Ada hal yang bisa diselesaikan dengan nasihat lembut, ada yang cukup dengan maaf, ada yang lebih baik didiamkan karena tidak membawa manfaat bila diperbesar.
Orang yang menjaga persaudaraan bukan berarti tidak peduli dengan kebenaran. Ia tetap menasihati, tetapi dengan cara yang menjaga kehormatan. Ia tetap meluruskan, tetapi tidak mempermalukan. Ia tetap berbeda, tetapi tidak membenci. Inilah akhlak yang lahir dari hati yang luas.
Allah berfirman:
"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu suka Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22)
5. Persaudaraan Membutuhkan Tabayyun
Jamaah yang dirahmati Allah,
Banyak hubungan putus karena kabar yang belum jelas. Seseorang mendengar cerita dari satu pihak, lalu langsung marah. Membaca pesan singkat, lalu salah tafsir. Melihat potongan kejadian, lalu menyimpulkan sendiri. Padahal bila ditanyakan baik-baik, mungkin kenyataannya berbeda.
Tabayyun adalah adab besar dalam menjaga persaudaraan. Jangan tergesa-gesa percaya kabar buruk tentang saudara. Jangan cepat menyebarkan cerita yang belum jelas. Jangan menilai hati orang dari dugaan. Bertanyalah dengan adab, dengarkan penjelasan, dan berusahalah adil.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)
Banyak permusuhan dapat dicegah bila hati tidak tergesa-gesa menuduh.
Orang beriman tidak membangun sikap di atas kabar yang belum jelas.
6. Jadilah Penyejuk, Bukan Penyulut Api
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam setiap perselisihan, ada orang yang menjadi penyejuk dan ada yang menjadi penyulut api. Orang yang menjadi penyulut api membawa cerita dari sana ke sini, menambah bumbu, mengungkit luka, dan membuat orang semakin jauh. Sedangkan orang yang menjadi penyejuk mengajak damai, menahan lisan, mendoakan, dan mencari jalan perbaikan.
Pilihlah menjadi penyejuk. Bila ada dua saudara berselisih, jangan memperkeruh. Bila ada kabar buruk, jangan menyebarkan. Bila ada luka, bantu sembuhkan. Bila ada perbedaan, ajarkan adab. Kehadiran seorang mukmin seharusnya membawa rahmat, bukan menambah permusuhan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." (HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa diri. Apakah kita pernah memutus hubungan hanya karena perbedaan kecil? Apakah kita pernah membiarkan ego mengalahkan kasih sayang? Apakah lisan kita pernah memperkeruh perselisihan? Apakah kita lebih suka menjadi penyejuk atau penyulut api?
Persaudaraan adalah amanah. Jangan mudah diputus karena perbedaan. Jangan rusak karena prasangka. Jangan hancurkan karena gengsi. Jangan bakar dengan lisan yang tajam. Jika masih bisa disambung, sambunglah. Jika masih bisa dimaafkan, maafkanlah. Jika masih bisa didamaikan, damaikanlah. Karena Allah mencintai hamba yang memperbaiki hubungan.
Jauhkan kami dari permusuhan, adu domba, buruk sangka, dan kerasnya ego.
Jadikan kami hamba yang menjaga persaudaraan, memaafkan kesalahan, dan menyejukkan perselisihan.
Lembutkan lisan kami saat berbeda pendapat dan lapangkan dada kami menerima nasihat.
Perbaikilah hubungan kaum muslimin dan jadikan kami sebab hadirnya damai, bukan sebab perpecahan.
Sebab persaudaraan orang beriman terlalu mahal untuk diputus hanya karena perbedaan, dan hati yang bertakwa lebih memilih rahmat daripada permusuhan.
Semoga Allah menjaga persaudaraan kita, memperbaiki hubungan keluarga dan masyarakat kita, menjauhkan kita dari fitnah perpecahan, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit