Menolak Hoaks dan Adu Domba Menjaga Lisan dan Jari demi Keutuhan Bangsa
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Menolak Hoaks dan Adu Domba
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hoaks adalah berita dusta yang disebarkan seakan-akan benar. Adu domba adalah usaha menyalakan permusuhan di antara manusia. Keduanya sangat berbahaya bagi masyarakat. Hoaks membuat orang salah menilai. Adu domba membuat saudara saling curiga. Fitnah membuat orang baik dicela dan orang zalim terlihat benar. Jika dibiarkan, semua ini dapat merusak ukhuwah, memecah masyarakat, dan melemahkan bangsa.
Islam tidak membiarkan lisan dan tulisan berjalan tanpa tanggung jawab. Setiap ucapan dicatat. Setiap tuduhan akan ditanya. Setiap berita yang kita sebarkan dapat menjadi amal baik atau dosa yang terus mengalir. Karena itu, menjaga lisan dan jari di zaman digital adalah bagian dari menjaga agama, kehormatan manusia, dan keutuhan negeri.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kebodohan, lalu kalian menyesal atas perbuatan kalian." (QS. Al-Hujurat: 6)
1. Tabayyun sebelum Menyebarkan Berita
Saudaraku kaum muslimin,
Tabayyun berarti memeriksa, meneliti, dan memastikan kebenaran berita. Tidak semua yang sampai kepada kita layak dipercaya. Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang menyentuh emosi itu fakta. Tidak semua yang mengatasnamakan agama, bangsa, atau kepedulian itu membawa kebaikan.
Seorang muslim tidak boleh menjadi penyambung kebohongan. Jika kita belum tahu kebenarannya, diam lebih selamat. Jika sumbernya tidak jelas, jangan sebarkan. Jika isinya memancing kebencian, periksa lebih hati-hati. Jika berita itu menyangkut kehormatan manusia, takutlah kepada Allah, karena kehormatan seorang muslim sangat besar nilainya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar." (HR. Muslim)
Tidak semua yang kita terima harus dibagikan.
Keselamatan sering ada pada menahan diri.
2. Jari di Media Sosial Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dahulu manusia banyak berdosa dengan lisan. Hari ini manusia juga banyak berdosa dengan jari. Jari menulis komentar kasar. Jari membagikan fitnah. Jari menyebarkan potongan informasi yang belum jelas. Jari mencaci, menghina, menuduh, dan mempermalukan orang lain. Padahal semua itu tidak hilang begitu saja.
Media sosial bukan tempat bebas dari pengawasan Allah. Walaupun manusia menggunakan akun palsu, nama samaran, atau bersembunyi di balik layar, Allah tetap mengetahui. Maka berhati-hatilah. Setiap huruf yang kita tulis bisa menjadi saksi bagi kita atau saksi atas dosa kita.
Allah berfirman:
"Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat." (QS. Qaf: 18)
3. Adu Domba Merusak Persaudaraan dan Bangsa
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Adu domba adalah penyakit sosial yang sangat berbahaya. Ia membuat orang yang semula rukun menjadi curiga. Ia membuat saudara saling menjauh. Ia membuat masyarakat terbelah. Ia membuat bangsa lemah. Orang yang suka mengadu domba sering terlihat seakan membawa berita, padahal sebenarnya membawa api.
Dalam kehidupan berbangsa, adu domba bisa muncul dalam banyak bentuk: membenturkan suku, membenturkan daerah, membenturkan kelompok, membenturkan pilihan politik, bahkan membenturkan umat dengan aparat atau masyarakat dengan pemimpin melalui informasi yang tidak jujur. Seorang muslim tidak boleh menjadi alat perpecahan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pembawanya mungkin tersenyum,
tetapi akibatnya bisa membakar persaudaraan dan merusak negeri.
4. Jangan Menyebarkan Kebencian atas Nama Kebenaran
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Kebenaran harus disampaikan, tetapi dengan ilmu dan adab. Jangan jadikan nama agama, bangsa, atau keadilan sebagai alasan untuk menyebarkan kebencian. Menasihati berbeda dengan mencaci. Mengkritik berbeda dengan menghina. Membela kebenaran berbeda dengan memfitnah. Islam mengajarkan ketegasan, tetapi juga mengajarkan akhlak.
Banyak orang merasa sedang membela kebenaran, padahal caranya merusak hati, menambah permusuhan, dan membuka pintu fitnah. Maka periksa niat dan cara. Apakah yang kita sebarkan membuat manusia lebih dekat kepada kebaikan atau justru lebih panas dalam kebencian? Apakah ucapan kita memperbaiki keadaan atau hanya memuaskan emosi?
Allah berfirman:
"Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)
5. Hoaks Menghancurkan Kehormatan Manusia
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di antara bahaya hoaks adalah merusak kehormatan manusia. Seseorang bisa dicela karena berita palsu. Keluarga bisa malu karena tuduhan dusta. Pemimpin, tokoh, tetangga, guru, pedagang, atau siapa pun bisa menjadi korban. Ketika berita itu sudah menyebar luas, membersihkan nama baik tidak mudah.
Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Menuduh tanpa bukti adalah dosa. Membuka aib tanpa hak adalah dosa. Menyebarkan kabar buruk tanpa kejelasan adalah dosa. Karena itu, jangan jadikan diri kita bagian dari rantai kezaliman yang merusak nama baik orang lain.
Allah berfirman:
"Ketika kamu menerima berita itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui ilmunya, kamu menganggapnya ringan, padahal di sisi Allah ia sangat besar." (QS. An-Nur: 15)
Tetapi di sisi Allah, berita dusta yang merusak kehormatan bisa menjadi dosa yang sangat besar.
6. Jadilah Penyejuk, Bukan Penyulut Api
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di tengah masyarakat yang mudah panas, seorang muslim harus menjadi penyejuk. Bila ada kabar yang memancing emosi, ia menenangkan. Bila ada perselisihan, ia mendamaikan. Bila ada fitnah, ia menahan diri. Bila ada kebencian, ia mengingatkan kepada takwa. Inilah peran orang beriman dalam menjaga bangsa.
Menjaga keutuhan bangsa tidak selalu dengan tindakan besar. Kadang cukup dengan tidak menyebarkan fitnah, tidak membalas cacian, tidak memprovokasi, tidak memperbesar masalah, dan tidak membiarkan lisan serta jari menjadi alat keburukan. Kebaikan kecil yang dilakukan banyak orang akan menjadi benteng besar bagi negeri.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Berapa banyak berita yang kita sebarkan tanpa memeriksa? Berapa banyak komentar yang kita tulis tanpa memikirkan akibatnya? Berapa banyak tuduhan yang kita percaya hanya karena sesuai dengan emosi kita? Apakah lisan dan jari kita menjadi jalan pahala atau jalan dosa?
Menolak hoaks dan adu domba adalah bagian dari menjaga agama dan bangsa. Negeri yang kuat membutuhkan masyarakat yang jujur, hati-hati, tidak mudah diprovokasi, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai bahan permusuhan. Jadilah penjaga persatuan, bukan penyambung fitnah. Jadilah penyejuk, bukan penyulut api.
Jagalah jari kami dari tulisan, komentar, dan sebaran yang merusak kehormatan manusia dan keutuhan bangsa.
Bimbing kami agar selalu tabayyun, adil, jujur, dan takut kepada-Mu dalam menerima serta menyampaikan berita.
Jauhkan negeri kami dari hoaks, adu domba, provokasi, kebencian, dan perpecahan.
Jadikan kami hamba-hamba yang menebar kebenaran dengan adab dan menjaga persatuan dengan iman.
Sebab menolak hoaks dan adu domba adalah bagian dari menjaga amanah kebangsaan: merawat ukhuwah, menjaga kehormatan manusia, dan memelihara keutuhan negeri.
Semoga Allah menjaga lisan dan jari kita, memaafkan kesalahan kita, menyatukan hati masyarakat kita, menjaga negeri kita, menerima amal kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit