Menutup Aib Saudara Agar Allah Menutup Aib Kita
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Menutup Aib Saudara
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Menutup aib saudara adalah akhlak mulia dalam Islam. Ia bukan berarti membenarkan maksiat, bukan berarti membiarkan kezaliman, dan bukan berarti mendukung kesalahan. Menutup aib berarti tidak menyebarkan kekurangan orang lain tanpa kebutuhan syar'i, tidak menjadikan kesalahan saudara sebagai bahan obrolan, dan tidak mempermalukan manusia ketika masih ada jalan nasihat yang lebih baik.
Islam menjaga kehormatan manusia. Seorang muslim tidak boleh mencari-cari kesalahan saudaranya, tidak boleh gembira ketika menemukan aibnya, dan tidak boleh menjadikan aib itu sebagai alat untuk merendahkan. Bila kita ingin Allah menutup aib kita, maka belajarlah menutup aib orang lain dengan adab, rahmat, dan ketakwaan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Barang siapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)
1. Ingatlah Aib Kita yang Allah Tutupi
Saudaraku kaum muslimin,
Sebelum membuka aib orang lain, ingatlah aib diri sendiri. Berapa banyak dosa yang Allah tutupi? Berapa banyak kesalahan yang tidak diketahui manusia? Berapa banyak kekurangan yang bila terbuka akan membuat kita malu? Namun Allah masih memberi kesempatan, masih menutup, masih memberi rezeki, dan masih memanggil kita untuk bertaubat.
Orang yang sering mengingat aib dirinya akan lebih lembut kepada orang lain. Ia tidak mudah merendahkan. Ia tidak tergesa-gesa mempermalukan. Ia sadar bahwa dirinya pun hidup di bawah tirai rahmat Allah. Maka jangan gunakan rahmat Allah kepada kita sebagai kesempatan untuk membongkar kelemahan hamba-Nya.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." (QS. An-Nisa: 43)
jangan mudah membuka aib saudara kita.
Bila kita berharap ampunan Allah,
jangan jadikan kesalahan manusia sebagai bahan kehinaan.
2. Jangan Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di antara penyakit hati adalah senang mencari kesalahan orang. Ia memperhatikan kekurangan, mengumpulkan cerita buruk, menunggu orang tergelincir, lalu merasa puas ketika menemukan aib. Ini bukan akhlak orang beriman. Seorang mukmin lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mengintai cacat saudaranya.
Mencari-cari kesalahan membuat hati keras dan hubungan rusak. Orang yang terbiasa mencari aib akan sulit melihat kebaikan. Ia curiga, tajam, dan mudah menyebarkan kekurangan. Padahal Allah melarang tajassus, yaitu mencari-cari kesalahan manusia tanpa hak.
Allah berfirman:
"Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12)
3. Menutup Aib Bukan Membela Kemungkaran
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Perlu dipahami dengan benar, menutup aib bukan berarti membiarkan kezaliman terus terjadi. Jika aib itu berkaitan dengan bahaya, kejahatan, penipuan, pelecehan, kekerasan, atau kerugian bagi orang lain, maka harus diselesaikan melalui jalan yang benar. Menutup aib tidak boleh menjadi alasan untuk melindungi pelaku zalim.
Menutup aib yang dianjurkan adalah ketika kesalahan itu bersifat pribadi, tidak membahayakan orang lain, dan masih dapat dinasihati dengan baik. Adapun jika seseorang terus melakukan kezaliman, maka mencegah mudarat dan melindungi korban adalah bagian dari amanah. Islam mengajarkan rahmat, tetapi juga mengajarkan keadilan.
Allah berfirman:
"Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Tetapi menutupi kezaliman adalah dosa bila membuat orang lain terus terluka.
Seorang mukmin harus menggabungkan kasih sayang dengan keadilan.
4. Bahaya Membuka Aib di Majelis dan Media Sosial
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Pada zaman ini, membuka aib manusia semakin mudah. Satu foto, satu video, satu tangkapan layar, satu komentar, dapat menyebar luas dan menghancurkan kehormatan seseorang. Banyak orang merasa hanya membagikan, padahal ia sedang ikut menyebarkan aib. Banyak orang merasa hanya ikut ramai, padahal ia sedang menambah luka dan dosa.
Jangan jadikan kesalahan orang lain sebagai hiburan. Jangan menyebarkan video orang tergelincir. Jangan membuka percakapan pribadi. Jangan mempermalukan seseorang agar orang lain tertawa. Bisa jadi orang yang kita permalukan telah bertaubat, sementara dosa kita menyebarkan aibnya masih terus dibaca dan dibagikan.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebarnya keburukan di tengah orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih." (QS. An-Nur: 19)
5. Nasihati dengan Rahasia dan Kelembutan
Jamaah yang dirahmati Allah,
Bila kita melihat saudara melakukan kesalahan, jangan langsung mempermalukan. Nasihati dengan cara yang paling mendekatkan kepada perbaikan. Banyak hati bisa berubah bila dinasihati dengan rahasia, lembut, dan penuh kasih sayang. Tetapi hati bisa semakin keras bila dipermalukan di depan orang banyak.
Nasihat yang ikhlas bertujuan memperbaiki, bukan mempermalukan. Orang yang ikhlas ingin saudaranya kembali kepada Allah, bukan ingin dirinya terlihat paling benar. Maka pilihlah waktu yang tepat, bahasa yang lembut, dan cara yang menjaga kehormatan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Agama adalah nasihat." (HR. Muslim)
Nasihat yang ikhlas bukan untuk mempermalukan.
Nasihat yang diridhai Allah adalah nasihat yang membuka jalan taubat dan perbaikan.
6. Balasan Allah bagi yang Menjaga Kehormatan Saudara
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Menutup aib saudara adalah amal yang besar karena ia menjaga kehormatan manusia. Mungkin orang yang kita jaga tidak mengetahuinya. Mungkin ia tidak pernah berterima kasih. Tetapi Allah mengetahui. Allah mengetahui saat kita menahan lisan, saat kita menghapus pesan aib, saat kita tidak ikut menyebarkan, dan saat kita menasihati dengan rahasia.
Siapa yang menjaga kehormatan manusia, Allah akan menjaga kehormatannya. Siapa yang menutup aib orang lain karena Allah, semoga Allah menutup aibnya saat ia paling membutuhkan penutupan: di dunia, di alam kubur, dan di hari kiamat.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya." (HR. Muslim)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa lisan dan hati kita. Apakah kita pernah membuka aib orang lain? Apakah kita pernah ikut menyebarkan kesalahan saudara? Apakah kita pernah menikmati cerita buruk tentang seseorang? Apakah kita lebih senang mempermalukan daripada menasihati?
Jangan lupa, kita semua hidup dengan aib yang Allah tutupi. Maka jangan mudah mencabut tirai kehormatan orang lain. Jika ingin Allah menutup aib kita, tutuplah aib saudara kita. Jika ingin Allah mengampuni kita, jangan jadikan kesalahan manusia sebagai bahan ghibah. Jika ingin disayang Allah, sayangilah hamba-hamba-Nya dengan adab dan rahmat.
Ampuni dosa kami yang tampak maupun yang tersembunyi.
Jaga lisan kami dari membuka aib saudara dan jaga hati kami dari senang mencari kesalahan manusia.
Jadikan kami hamba yang menasihati dengan rahasia, memperbaiki dengan kasih sayang, dan menjaga kehormatan sesama muslim.
Jangan Engkau buka keburukan kami pada hari ketika semua rahasia ditampakkan.
Sebab siapa yang menutup aib saudaranya karena Allah, semoga Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat.
Semoga Allah membersihkan hati kita, menjaga lisan kita, menutup aib kita, memperbaiki persaudaraan kaum muslimin, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit