Penyakit Bakhil Hati yang Takut Miskin Saat Diajak Berbagi
Jumat

Penyakit Bakhil Hati yang Takut Miskin Saat Diajak Berbagi

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Penyakit Bakhil

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Bakhil adalah ketika seseorang merasa semua yang ia miliki hanya miliknya sendiri. Ia lupa bahwa harta adalah amanah, rezeki adalah titipan, dan di dalam nikmat yang Allah berikan terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.

Penyakit bakhil membuat hati takut miskin saat diajak bersedekah. Ia lebih percaya pada hitungan dunia daripada janji Allah. Ia merasa harta berkurang bila diberi, padahal sedekah yang ikhlas justru menjadi simpanan paling aman di sisi Allah.

Allah berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ

"Jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka." (QS. Ali 'Imran: 180)

Ayat ini mengingatkan bahwa menahan hak yang seharusnya dikeluarkan bukanlah keuntungan. Ia justru bisa menjadi beban di akhirat.

1. Bakhil Lahir dari Hati yang Kurang Yakin kepada Allah

Saudaraku kaum muslimin,

Orang yang bakhil sering kali bukan karena tidak punya, tetapi karena hatinya kurang yakin bahwa Allah Maha Memberi rezeki. Ia takut bila memberi maka hartanya habis. Ia takut bila bersedekah maka kebutuhannya tidak tercukupi. Ia lupa bahwa Allah yang memberi rezeki sebelum ia lahir, Allah pula yang mencukupinya hingga hari ini.

Keimanan yang kuat melahirkan kelapangan memberi. Sebab ia tahu, yang keluar karena Allah tidak pernah benar-benar hilang. Ia berpindah dari tangan manusia menuju catatan amal yang akan dijumpai di akhirat.

Allah berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

"Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki." (QS. Saba': 39)

Sedekah bukan membuang harta.
Sedekah adalah memindahkan harta dari dunia yang fana menuju akhirat yang kekal.
Yang hilang dari tangan belum tentu hilang dari kehidupan.

2. Setan Menakut-nakuti dengan Kemiskinan

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ketika hati ingin bersedekah, sering muncul bisikan: nanti kebutuhanmu bagaimana? Nanti kalau kurang bagaimana? Nanti kalau ada keperluan mendadak bagaimana? Bisikan seperti ini bila tidak dikendalikan dapat membuat seseorang terus menunda kebaikan.

Allah mengingatkan bahwa setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan. Setan ingin hati sempit, tangan tertutup, dan manusia kehilangan kesempatan menanam amal. Sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia bagi orang yang berinfak di jalan-Nya.

Allah berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا

"Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia dari-Nya." (QS. Al-Baqarah: 268)

Ketika hati takut memberi karena miskin, ingatlah: yang menakut-nakuti kita dengan kemiskinan bukan janji Allah, tetapi bisikan setan.

3. Harta yang Ditahan Bisa Menjadi Beban

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Harta yang tidak ditunaikan haknya bisa berubah menjadi beban. Ia tampak banyak di dunia, tetapi memberatkan di akhirat. Harta yang tidak dizakati, hak fakir yang ditahan, amanah yang tidak diberikan, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Karena itu, jangan hanya sibuk mencari harta, tetapi lupa membersihkannya. Jangan hanya bangga dengan jumlah yang masuk, tetapi lupa bertanya: sudahkah harta ini menjadi jalan taat kepada Allah?

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

"Orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berilah mereka kabar dengan azab yang pedih." (QS. At-Taubah: 34)

Harta yang dizakati menjadi bersih.
Harta yang disedekahkan menjadi berkah.
Harta yang dipakai menolong orang menjadi saksi kebaikan.
Harta yang ditahan dari haknya bisa menjadi penyesalan.

4. Sedekah Tidak Mengurangi Harta

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Hitungan iman berbeda dari hitungan nafsu. Nafsu melihat sedekah sebagai pengurangan. Iman melihat sedekah sebagai pertumbuhan. Nafsu berkata, harta berkurang. Iman berkata, berkah bertambah, dosa terhapus, doa fakir mengalir, dan amal tersimpan di sisi Allah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menegaskan bahwa sedekah tidak mengurangi harta. Bisa jadi secara angka tampak keluar, tetapi Allah mengganti dengan cara yang lebih luas: keberkahan, ketenangan, keselamatan, kesehatan, keluarga yang dijaga, dan rezeki dari arah yang tidak disangka.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

"Sedekah tidaklah mengurangi harta." (HR. Muslim)

Yang dikeluarkan karena Allah tidak hilang. Ia menjadi penjaga, pembersih, dan bekal yang akan ditemukan kembali pada hari ketika manusia sangat membutuhkan amal.

5. Obat Bakhil adalah Syukur, Zakat, dan Membiasakan Memberi

Jamaah yang dirahmati Allah,

Obat bakhil adalah mengingat bahwa semua milik kita berasal dari Allah. Bila Allah memberi, maka gunakan sebagian nikmat itu untuk taat. Bila Allah melapangkan, jangan sempitkan hati. Bila Allah menitipkan harta, jangan lupa bahwa titipan harus digunakan sesuai kehendak Pemiliknya.

Obat lainnya adalah membiasakan memberi, walau sedikit. Jangan menunggu kaya baru dermawan. Orang yang tidak belajar memberi saat sedikit, belum tentu mudah memberi saat banyak. Latihlah hati dengan sedekah kecil, zakat yang tertunaikan, membantu tetangga, memberi makan, dan meringankan beban orang lain.

Allah berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarkanlah, taatilah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. At-Taghabun: 16)

Mulailah memberi sebelum hati semakin sempit.
Tunaikan zakat sebelum harta menjadi beban.
Sedekahkan yang halal dan baik.
Jadikan harta sebagai pelayan akhirat, bukan tuan yang menguasai hati.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita periksa hati. Apakah kita berat memberi walau mampu? Apakah kita takut miskin saat diajak sedekah? Apakah kita lebih mudah mengeluarkan harta untuk keinginan diri daripada untuk jalan Allah? Apakah zakat sudah kita tunaikan? Apakah ada hak orang lain yang masih kita tahan?

Jangan biarkan bakhil mengikat hati. Harta tidak akan kita bawa ke kubur kecuali yang telah kita ubah menjadi amal. Yang kita makan akan habis. Yang kita pakai akan rusak. Yang kita simpan akan ditinggalkan. Tetapi yang kita infakkan karena Allah akan kekal sebagai bekal.

Ya Allah, bersihkan hati kami dari bakhil.
Lapangkan tangan kami untuk berbagi.
Jadikan harta kami berkah dan bersih.
Jangan jadikan dunia menguasai hati kami.
Berilah kami keyakinan bahwa apa yang kami infakkan karena-Mu tidak akan pernah sia-sia.

Sebab harta yang paling aman adalah harta yang telah dikirim kepada Allah melalui jalan kebaikan.

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat bakhil, melapangkan rezeki kita dengan keberkahan, menjadikan kita hamba yang dermawan, menerima sedekah dan zakat kita, serta memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْبُخْلِ وَالشُّحِّ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا سَخِيَّةً، وَأَيْدِيَ مُنْفِقَةً فِي سَبِيلِكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit