Penyakit Cinta Dunia Ketika Hati Terlalu Betah di Tempat Singgah
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Penyakit Cinta Dunia
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Cinta dunia adalah ketika hati terlalu betah di tempat singgah. Ia membuat manusia merasa seakan akan hidup selamanya, padahal setiap hari ia sedang mendekati kematian. Ia membuat manusia sangat takut kehilangan harta, tetapi tidak takut kehilangan shalat. Ia membuat manusia sedih ketika rezeki berkurang, tetapi biasa saja ketika iman melemah.
Dunia yang dicintai berlebihan akan membuat akhirat terasa jauh. Nasihat tentang kubur terasa berat. Ajakan sedekah terasa mengurangi. Shalat terasa mengganggu kesibukan. Taubat ditunda karena hati masih ingin menikmati kelalaian.
Allah berfirman:
"Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'la: 16-17)
1. Dunia Adalah Tempat Singgah, Bukan Tempat Tinggal
Saudaraku kaum muslimin,
Setiap orang yang singgah dalam perjalanan tidak akan membangun seluruh harapannya pada tempat persinggahan. Ia beristirahat, mengambil bekal, lalu melanjutkan perjalanan. Begitulah seharusnya sikap seorang mukmin terhadap dunia.
Kita boleh menikmati nikmat Allah, tetapi jangan lupa bahwa semua akan ditinggalkan. Rumah akan ditinggalkan. Harta akan ditinggalkan. Pakaian indah akan diganti kain kafan. Kendaraan tidak akan ikut ke kubur. Yang ikut hanyalah amal.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir yang sedang lewat." (HR. Bukhari)
2. Cinta Dunia Membuat Amal Terasa Berat
Jamaah yang dirahmati Allah,
Salah satu tanda hati mulai dikuasai dunia adalah ketika amal saleh terasa berat. Shalat terasa menunda pekerjaan. Sedekah terasa mengurangi tabungan. Majelis ilmu terasa membuang waktu. Membaca Al-Qur'an terasa tidak semenarik urusan dunia.
Padahal semua urusan dunia yang kita kejar akan berhenti di pintu kubur. Sementara amal saleh yang sering kita tunda justru menjadi cahaya dalam perjalanan setelah kematian.
Allah berfirman:
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu, serta berbangga-bangga dalam harta dan anak." (QS. Al-Hadid: 20)
3. Harta Boleh di Tangan, Jangan Menguasai Hati
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Harta adalah amanah. Bila digunakan untuk taat, ia menjadi bekal. Bila digunakan untuk maksiat, ia menjadi beban. Bila dicari dengan halal dan dibelanjakan dengan benar, ia dapat mengangkat derajat. Tetapi bila dicintai berlebihan, ia bisa memperbudak hati.
Orang yang menjadikan harta sebagai tuan akan selalu gelisah. Ketika mendapat, ia takut hilang. Ketika belum mendapat, ia iri kepada orang lain. Ketika kehilangan, ia merasa hidup runtuh. Padahal pemilik sejati segala sesuatu hanyalah Allah.
Allah berfirman:
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan." (QS. Al-Kahfi: 46)
Syukurilah nikmat dengan rendah hati.
Gunakan harta untuk taat.
Jangan sampai harta membuat kita lupa kepada Pemilik harta.
4. Cinta Dunia Melahirkan Takut Mati
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Orang yang terlalu cinta dunia biasanya sangat takut mati, bukan karena merasa amalnya belum cukup saja, tetapi karena hatinya berat meninggalkan dunia. Ia takut berpisah dari harta, kedudukan, kesenangan, dan segala yang selama ini memenuhi hatinya.
Padahal kematian pasti datang. Dunia yang dipertahankan mati-matian tetap akan ditinggalkan. Yang bijak bukanlah orang yang membenci hidup, tetapi orang yang menggunakan hidup untuk menyiapkan kematian.
Allah berfirman:
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Ali 'Imran: 185)
5. Obat Cinta Dunia adalah Menghidupkan Rasa Rindu Akhirat
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hati yang terlalu melekat pada dunia perlu dikenalkan kembali kepada akhirat. Bacalah Al-Qur'an dengan hati yang mencari jalan pulang. Ingatlah kubur. Perbanyak sedekah. Duduklah dalam majelis ilmu. Bergaullah dengan orang-orang saleh yang mengingatkan kita kepada Allah.
Latihlah hati untuk memberi, bukan hanya menerima. Latihlah hati untuk bersyukur, bukan hanya mengejar. Latihlah hati untuk berkata: dunia ini sementara, akhirat adalah rumah yang sebenarnya.
Allah berfirman:
"Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Ali 'Imran: 185)
Jangan letakkan dunia di hati, karena hati diciptakan untuk mengenal Allah.
Dunia yang menjadi bekal itu baik, tetapi dunia yang menjadi tujuan itu berbahaya.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa hati. Apa yang paling kita takutkan hilang? Apa yang paling kita kejar siang dan malam? Apakah kita lebih sedih kehilangan dunia daripada kehilangan shalat? Apakah kita lebih cepat bangun untuk urusan rezeki daripada bangun untuk menghadap Allah?
Jangan benci dunia, tetapi jangan tertipu olehnya. Ambillah dunia secukupnya, gunakan untuk taat, dan jadikan ia jembatan menuju ridha Allah. Karena dunia bukan rumah terakhir. Kita hanya singgah, dan sebentar lagi akan pulang.
Jadikan dunia di tangan kami sebagai sarana taat kepada-Mu.
Jangan jadikan harta, jabatan, dan kesenangan melalaikan kami dari akhirat.
Hidupkan hati kami dengan rindu kepada-Mu.
Sebab hati yang terlalu betah di tempat singgah akan berat untuk pulang.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang menggunakan dunia untuk akhirat, membersihkan hati kita dari cinta dunia yang berlebihan, menerima amal kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit