Penyakit Lalai Hidup Berjalan Tapi Hati Tertidur
Jumat

Penyakit Lalai Hidup Berjalan Tapi Hati Tertidur

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Penyakit Lalai

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Penyakit lalai adalah penyakit yang halus. Ia membuat dosa terasa biasa, waktu terasa panjang, kematian terasa jauh, dan akhirat terasa seperti cerita. Orang yang lalai tidak selalu meninggalkan agama secara terang-terangan, tetapi ia kehilangan rasa gentar kepada Allah.

Ia mendengar azan, tetapi hatinya tidak tergerak. Ia membaca nasihat, tetapi hanya lewat. Ia melihat jenazah, tetapi tidak mengambil pelajaran. Ia tahu hidup sebentar, tetapi tetap menunda taubat. Inilah keadaan hati yang tertidur.

Allah berfirman:

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

"Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam kelalaian lagi berpaling." (QS. Al-Anbiya: 1)

Hisab semakin dekat, tetapi manusia sering merasa masih jauh. Inilah tipu daya kelalaian: membuat yang pasti terasa tidak mendesak.

1. Tanda Lalai: Waktu Habis Tanpa Bekas Ketaatan

Saudaraku kaum muslimin,

Salah satu tanda hati lalai adalah banyak waktu berlalu, tetapi sedikit yang menjadi amal. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, usia bertambah, namun shalat belum membaik, Al-Qur'an jarang disentuh, istighfar sedikit, dan sedekah selalu menunggu lapang.

Waktu adalah modal hidup. Bila modal itu habis untuk sesuatu yang tidak mendekatkan kita kepada Allah, kelak kita akan menyesal. Banyak manusia baru sadar mahalnya waktu ketika sakit, ketika tua, ketika kehilangan, atau ketika kematian sudah mendekat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)

Waktu yang hilang tidak bisa dibeli kembali.
Umur yang lewat tidak bisa diulang.
Maka jadikan sisa umur sebagai jalan pulang kepada Allah.

2. Lalai Membuat Dosa Terasa Ringan

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ketika hati lalai, dosa tidak lagi membuat gelisah. Shalat ditunda terasa biasa. Lisan menyakiti terasa ringan. Pandangan tidak dijaga. Ghibah menjadi hiburan. Hati tidak lagi cepat menyesal karena tertutup oleh kebiasaan buruk.

Padahal dosa yang diremehkan dapat menghitamkan hati. Bila hati terus dibiarkan lalai, ia akan kehilangan kepekaan. Seperti tubuh yang terbiasa dengan bau tidak sedap, lama-lama tidak lagi merasakan baunya. Demikian hati yang terbiasa dengan dosa, lama-lama tidak merasa sedang kotor.

Allah berfirman:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Dosa yang tidak ditaubati bisa menjadi penutup hati. Karena itu jangan tunggu hati keras baru ingin kembali.

3. Lalai Membuat Kematian Terasa Jauh

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Setiap hari ada kematian. Setiap hari ada jenazah dimandikan. Setiap hari ada keluarga menangis. Tetapi orang yang lalai merasa itu hanya cerita orang lain. Ia lupa bahwa suatu hari nanti namanya yang akan disebut, jasadnya yang akan dibaringkan, dan kuburnya yang akan digali.

Mengingat kematian adalah cara membangunkan hati. Bukan agar kita takut hidup, tetapi agar kita hidup dengan benar. Orang yang ingat mati akan lebih menjaga shalat, lebih mudah meminta maaf, lebih ringan bersedekah, dan lebih cepat bertaubat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian." (HR. Tirmidzi)

Ingat mati bukan mematikan semangat.
Ingat mati menghidupkan kesadaran.
Ingat mati membuat dunia tidak terlalu besar di hati.

4. Obat Lalai adalah Dzikir kepada Allah

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Hati yang lalai harus dibangunkan dengan dzikir. Dzikir bukan hanya ucapan lisan, tetapi kesadaran hati bahwa Allah selalu melihat, mendengar, mengetahui, dan dekat dengan hamba-Nya.

Bila hati banyak berdzikir, ia menjadi hidup. Bila hati jauh dari dzikir, ia mudah gelap. Karena itu hidupkan pagi dengan dzikir, iringi pekerjaan dengan mengingat Allah, basahi lisan dengan istighfar, dan jangan biarkan hati terlalu lama kosong dari menyebut nama-Nya.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Hati yang tertidur oleh dunia dibangunkan oleh dzikir. Hati yang gelisah oleh urusan dunia ditenangkan oleh mengingat Allah.

5. Al-Qur'an Membangunkan Hati yang Tertidur

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di antara sebab terbesar bangunnya hati adalah Al-Qur'an. Bukan hanya dibaca, tetapi direnungi. Ayat-ayat Allah adalah cahaya. Ia mengingatkan kita tentang tujuan hidup, kematian, kubur, hisab, surga, neraka, ampunan, dan rahmat Allah.

Orang yang jauh dari Al-Qur'an mudah larut dalam kelalaian. Sebaliknya, orang yang dekat dengan Al-Qur'an akan sering diingatkan agar tidak tenggelam dalam dunia. Karena itu jadikan Al-Qur'an sebagai sahabat harian, walau sedikit tetapi istiqamah.

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka merenungkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran." (QS. Shad: 29)

Bila hati terasa jauh, dekatilah Al-Qur'an.
Bila hati terasa mati, hidupkan dengan dzikir.
Bila hati terasa lalai, ingatkan ia kepada akhirat.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita periksa hati. Apakah waktu kita banyak habis tanpa ketaatan? Apakah dosa terasa biasa? Apakah kematian jarang kita ingat? Apakah Al-Qur'an jarang kita buka? Apakah dzikir hanya lewat di lisan tanpa hadir di hati?

Jangan biarkan hidup berjalan sementara hati tertidur. Bangunkan hati sebelum ajal membangunkan kita dengan cara yang tidak bisa ditolak. Bangunkan hati dengan shalat, dzikir, Al-Qur'an, istighfar, sedekah, dan mengingat kematian.

Ya Allah, jangan biarkan hati kami lalai dari mengingat-Mu.
Bangunkan hati kami dengan Al-Qur'an.
Hidupkan jiwa kami dengan dzikir.
Jadikan sisa umur kami lebih baik daripada yang telah berlalu.
Jangan jadikan dunia membuat kami lupa kepada akhirat.

Sebab hidup yang paling merugi adalah hidup yang berjalan, tetapi hati tertidur dari Allah.

Semoga Allah membangunkan hati kita dari kelalaian, menjaga waktu kita dalam ketaatan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوبَنَا مِنَ الْغَفْلَةِ، وَنَوِّرْهَا بِذِكْرِكَ وَكِتَابِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِينَ الشَّاكِرِينَ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit