Penyakit Marah Api dalam Dada yang Membakar Akal
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Penyakit Marah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marah yang tidak dikendalikan adalah api dalam dada. Saat api itu menyala, akal melemah, lisan lepas, tangan mudah bertindak, dan keputusan sering diambil tanpa pertimbangan. Setelah marah reda, yang tersisa kadang hanya luka, air mata, hubungan yang retak, dan kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali.
Banyak rumah tangga hancur karena marah sesaat. Banyak persaudaraan putus karena ucapan ketika emosi. Banyak orang menyesal seumur hidup karena keputusan yang dibuat ketika hati sedang panas. Maka Islam mengajarkan kita bukan untuk tidak pernah marah, tetapi untuk mengendalikan marah di bawah bimbingan iman.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Jangan marah." (HR. Bukhari)
1. Marah yang Tidak Terkendali Membakar Akal
Saudaraku kaum muslimin,
Saat seseorang marah, ia sering merasa paling benar. Ia tidak lagi mendengar nasihat. Ia sulit menimbang akibat. Ia ingin segera meluapkan isi dada. Padahal saat itulah ia paling membutuhkan diam, sabar, dan berlindung kepada Allah.
Marah yang tidak terkendali membuat orang kuat menjadi lemah. Lemah bukan pada tubuhnya, tetapi lemah dalam menguasai dirinya. Karena kekuatan sejati bukan hanya mampu mengalahkan orang lain, tetapi mampu mengalahkan nafsu ketika marah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemenangan terbesar adalah saat nafsu marah tunduk kepada iman kita.
2. Marah Membuka Pintu Dosa Lisan
Jamaah yang dirahmati Allah,
Banyak dosa lisan lahir ketika marah. Caci maki, kutukan, hinaan, membuka aib, sumpah serapah, talak yang tergesa, doa buruk, dan kata-kata tajam yang melukai hati. Kadang satu kalimat yang keluar saat marah dapat menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.
Karena itu, diam adalah obat pertama ketika marah. Bila lisan tidak dijaga, marah akan mencari jalan keluar melalui kata-kata. Dan kata-kata yang sudah keluar tidak selalu mudah diperbaiki, walau kita meminta maaf setelahnya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam." (HR. Ahmad)
3. Menahan Marah adalah Jalan Menuju Cinta Allah
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Al-Qur'an memuji orang-orang yang mampu menahan amarah. Mereka bukan orang yang tidak pernah tersakiti. Mereka bukan orang yang tidak punya perasaan. Mereka adalah orang yang mampu menahan diri karena lebih memilih ridha Allah daripada melampiaskan ego.
Menahan marah memang berat. Tetapi beratnya menahan marah lebih ringan daripada beratnya penyesalan setelah marah menghancurkan hubungan. Orang yang mampu menahan marah sedang membangun kemuliaan dalam dirinya.
Allah berfirman:
"Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 134)
Memaafkan adalah kemuliaan jiwa.
Berbuat baik setelah disakiti adalah derajat ihsan yang dicintai Allah.
4. Padamkan Marah dengan Dzikir, Wudhu, dan Mengubah Posisi
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Islam tidak hanya melarang marah, tetapi juga memberi jalan untuk mengobatinya. Ketika marah, ucapkan ta'awwudz: berlindung kepada Allah dari setan. Karena setan sangat senang ketika marah membuat manusia kehilangan kendali.
Jika masih marah, diamlah. Bila berdiri, duduklah. Bila duduk, berbaringlah. Bila api marah masih menyala, berwudhulah. Air wudhu menenangkan tubuh dan mengingatkan hati bahwa seorang hamba sedang kembali kepada Allah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika marahnya hilang, itulah yang diharapkan; jika belum, hendaklah ia berbaring." (HR. Abu Dawud)
5. Obat Marah adalah Sabar dan Mengingat Akhirat
Jamaah yang dirahmati Allah,
Orang yang mengingat akhirat akan lebih mudah mengendalikan marah. Ia sadar bahwa setiap kata akan dicatat. Setiap kezaliman akan ditanya. Setiap hati yang dilukai bisa menjadi perkara di hadapan Allah. Maka ia memilih sabar bukan karena tidak mampu membalas, tetapi karena takut kepada hisab.
Sabar bukan berarti membiarkan kezaliman tanpa hikmah. Ada saatnya menegur, ada saatnya menyelesaikan masalah, ada saatnya menuntut hak dengan cara yang benar. Tetapi semua itu harus dilakukan dengan akal, adab, dan iman, bukan dengan api amarah yang tidak terkendali.
Allah berfirman:
"Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah." (QS. Asy-Syura: 40)
Bila lisan ingin melukai, ingat hisab.
Bila ego ingin menang, ingat ridha Allah.
Bila hati ingin membalas, ingat pahala memaafkan.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa hati. Apakah marah kita sering melukai keluarga? Apakah lisan kita tajam ketika emosi? Apakah kita mudah memutus hubungan karena satu kesalahan? Apakah kita sering menyesal setelah marah, tetapi mengulangi lagi tanpa memperbaiki diri?
Jangan biarkan marah menjadi penguasa hati. Kita boleh tegas, tetapi jangan zalim. Kita boleh menegur, tetapi jangan menghina. Kita boleh kecewa, tetapi jangan kehilangan adab. Orang beriman bukan orang yang tidak punya emosi, tetapi orang yang menundukkan emosinya kepada Allah.
Jadikan lisan kami lembut ketika hati panas.
Ajarkan kami menahan diri, memaafkan, dan berbicara dengan adab.
Jauhkan kami dari keputusan yang lahir dari emosi.
Jadikan kami kuat menguasai diri ketika marah.
Sebab marah sesaat bisa membakar kebaikan yang dibangun bertahun-tahun.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang sabar, lembut, mampu mengendalikan marah, menjaga lisan, memperbaiki hubungan, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit