Penyakit Riya Amal yang Indah Tapi Rusak karena Ingin Dipuji
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Penyakit Riya
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Riya adalah penyakit yang licin. Ia tidak selalu tampak dalam bentuk terang-terangan. Kadang ia masuk ketika seseorang sedang shalat, ketika memberi sedekah, ketika membaca Al-Qur'an, ketika berbicara agama, bahkan ketika seseorang menampilkan kesedihan dan kesalehan di hadapan manusia.
Amal yang tampak indah bisa kehilangan nilainya bila niatnya bergeser. Di mata manusia ia terlihat besar, tetapi di sisi Allah ia bisa menjadi kosong, karena Allah hanya menerima amal yang ikhlas dan sesuai tuntunan.
Allah berfirman:
"Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 5)
1. Riya Mengubah Arah Amal
Saudaraku kaum muslimin,
Amal seharusnya diarahkan kepada Allah. Shalat untuk Allah. Sedekah untuk Allah. Ilmu untuk Allah. Dakwah untuk Allah. Tetapi riya memalingkan arah amal dari Allah kepada manusia. Seseorang tetap terlihat beramal, tetapi hatinya menunggu pandangan manusia.
Inilah bahaya riya: ia tidak selalu menghentikan seseorang dari amal, tetapi merusak niat di dalam amal. Ia membuat seseorang rajin ketika dilihat, tetapi lemah ketika sendiri. Ia membuat seseorang senang bila dipuji, tetapi kecewa bila kebaikannya tidak diketahui.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya." (HR. Ahmad)
2. Amal Bisa Gugur karena Ingin Dipuji
Jamaah yang dirahmati Allah,
Seseorang bisa lelah beramal, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain pujian manusia. Ia bersedekah, tetapi ingin disebut dermawan. Ia membaca Al-Qur'an, tetapi ingin disebut fasih. Ia berbicara agama, tetapi ingin dianggap alim. Ia membantu orang lain, tetapi ingin namanya disebut.
Padahal pujian manusia sangat pendek. Hari ini dipuji, besok dilupakan. Hari ini disanjung, besok bisa dicela. Maka betapa rugi orang yang menukar ridha Allah dengan tepuk tangan manusia.
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
"Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal lalu mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam amal itu, Aku tinggalkan dia bersama sekutunya." (HR. Muslim)
3. Tanda-Tanda Riya yang Harus Diwaspadai
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di antara tanda riya adalah semangat beramal ketika dilihat, tetapi malas ketika sendirian. Senang bila kebaikan diketahui, tetapi kecewa bila tidak dihargai. Merasa sedih bukan karena amal kurang ikhlas, tetapi karena manusia tidak memberi pujian.
Tanda lainnya adalah hati terlalu menikmati sanjungan. Bila dipuji, ibadah terasa bertambah. Bila tidak dilihat, ibadah melemah. Bila disebut orang saleh, hati berbunga-bunga. Bila ditegur, hati tersinggung karena citra dirinya terganggu.
Allah memperingatkan tentang orang yang lalai dalam shalat dan berbuat riya:
"Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya." (QS. Al-Ma'un: 4-6)
Apakah kita mencari Allah atau mencari pandangan manusia?
Apakah kita ingin diterima Allah atau ingin disebut baik?
Apakah kita tetap beramal ketika tidak ada yang melihat?
4. Ikhlas Membuat Amal Kecil Menjadi Besar
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Ikhlas adalah ketika seorang hamba beramal karena Allah, berharap wajah Allah, takut kepada Allah, dan tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan. Bila manusia tahu, ia tidak sombong. Bila manusia tidak tahu, ia tidak kecewa.
Amal yang ikhlas tidak harus selalu besar di mata manusia. Bisa jadi satu sedekah kecil yang tersembunyi lebih berat di sisi Allah daripada pemberian besar yang diumumkan untuk mencari nama. Bisa jadi satu rakaat di malam hari yang hanya diketahui Allah lebih mahal daripada panjangnya penampilan di hadapan manusia.
Allah berfirman:
"Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan jangan mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110)
5. Obat Riya adalah Menyembunyikan Amal dan Memperbaiki Niat
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di antara obat riya adalah memperbanyak amal tersembunyi. Milikilah ibadah yang tidak diketahui orang lain: istighfar di malam hari, sedekah diam-diam, doa untuk orang lain tanpa ia tahu, membaca Al-Qur'an ketika tidak ada yang melihat, dan menangis karena Allah dalam kesendirian.
Obat berikutnya adalah selalu memperbarui niat. Sebelum beramal, tanyakan: untuk siapa aku melakukan ini? Saat beramal, jagalah hati agar tidak mencari perhatian. Setelah beramal, jangan mengungkit dan jangan menunggu pujian.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan doa:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dalam keadaan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui." (HR. Ahmad)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Riya adalah penyakit halus. Ia bisa masuk ke dalam amal orang biasa, penuntut ilmu, pendakwah, dermawan, imam, guru, bahkan siapa pun yang sedang berbuat baik. Karena itu, jangan merasa aman. Mintalah perlindungan kepada Allah agar hati kita tidak mencari selain-Nya.
Jangan rusak amal dengan pujian yang sebentar. Jangan tukar ridha Allah dengan sanjungan manusia. Jangan jadikan ibadah sebagai panggung. Jadikan amal sebagai persembahan hati kepada Allah.
Luruskan niat kami dalam setiap amal.
Jadikan amal kami ikhlas karena-Mu.
Jangan Engkau serahkan kami kepada pujian manusia yang lemah.
Semoga amal kita kecil atau besar diterima Allah karena ikhlas.
Semoga Allah menjaga niat kita, menerima amal kita, mengampuni dosa-dosa tersembunyi kita, menjauhkan kita dari riya, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit