Penyakit Sombong Dosa yang Menjatuhkan Iblis
Jumat

Penyakit Sombong Dosa yang Menjatuhkan Iblis

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Penyakit Sombong

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Sombong bukan hanya tampak pada pakaian mewah atau rumah besar. Sombong bisa tersembunyi dalam hati orang miskin maupun kaya, orang biasa maupun terpandang, orang berilmu maupun yang tidak berilmu. Sombong adalah ketika hati merasa lebih mulia, lebih suci, lebih benar, dan lebih pantas dihormati daripada orang lain.

Bahaya sombong adalah ia sering tidak terasa oleh pemiliknya. Orang yang sombong biasanya tidak merasa sombong. Ia merasa hanya menjaga harga diri, padahal hatinya sedang menolak kebenaran. Ia merasa hanya tegas, padahal lisannya merendahkan orang lain. Ia merasa lebih baik, padahal semua kebaikan yang dimiliki hanyalah titipan Allah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

"Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim)

Inilah ukuran sombong yang jelas: ketika kebenaran ditolak karena gengsi, dan manusia direndahkan karena merasa diri lebih tinggi.

1. Sombong adalah Dosa yang Menjatuhkan Iblis

Saudaraku kaum muslimin,

Iblis dahulu berada di tengah makhluk yang beribadah. Tetapi ketika Allah memerintahkannya sujud kepada Nabi Adam Alaihis Salam, ia menolak karena merasa dirinya lebih baik. Ia membandingkan asal penciptaannya dengan Nabi Adam, lalu hatinya dipenuhi kesombongan.

Allah berfirman:

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

"Ia berkata, aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah." (QS. Al-A'raf: 12)

Kalimat “aku lebih baik” adalah akar kesombongan. Ketika hati sering berkata, “Aku lebih mulia, aku lebih paham, aku lebih suci, aku lebih berjasa,” maka berhati-hatilah. Jangan sampai penyakit Iblis tumbuh halus dalam dada kita.

Iblis tidak jatuh karena kurang tahu Allah. Ia jatuh karena sombong menolak perintah Allah. Maka ilmu tanpa tawadhu bisa menjadi sebab kehancuran.

2. Sombong Membuat Hati Menolak Kebenaran

Jamaah yang dirahmati Allah,

Orang yang sombong sulit menerima nasihat, apalagi bila nasihat itu datang dari orang yang ia anggap lebih rendah. Ia menilai siapa yang berbicara, bukan apa kebenaran yang disampaikan. Jika ditegur, ia marah. Jika diingatkan, ia membela diri. Jika salah, ia sulit mengaku.

Padahal kebenaran tetap kebenaran meski datang dari orang sederhana. Nasihat tetap berharga meski datang dari orang yang lebih muda. Seorang mukmin yang tawadhu akan mengambil hikmah dari siapa pun, karena yang ia cari adalah ridha Allah, bukan kemenangan ego.

Allah berfirman:

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ

"Aku akan memalingkan dari tanda-tanda kekuasaan-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar." (QS. Al-A'raf: 146)

Salah satu hukuman bagi kesombongan adalah hati dipalingkan dari kemampuan mengambil pelajaran. Ia melihat tanda, tetapi tidak sadar. Ia mendengar nasihat, tetapi tidak berubah.

3. Sombong Membuat Manusia Meremehkan Sesama

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sombong bukan hanya hubungan antara hamba dan Allah, tetapi juga merusak hubungan antar manusia. Orang sombong mudah merendahkan orang miskin, meremehkan orang yang pendidikannya rendah, mengecilkan orang yang pekerjaannya sederhana, dan merasa tidak perlu menghormati orang lain.

Padahal kita tidak tahu siapa yang lebih mulia di sisi Allah. Bisa jadi orang yang sederhana lebih ikhlas daripada kita. Bisa jadi orang yang tidak dikenal manusia lebih dikenal oleh penduduk langit. Bisa jadi orang yang kita remehkan memiliki doa yang lebih cepat menembus langit.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan bukan diukur dari harta.
Bukan dari rupa.
Bukan dari gelar.
Bukan dari jabatan.
Kemuliaan sejati adalah takwa yang tersembunyi dalam hati.

4. Sombong Menghalangi Masuk Surga

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Kesombongan bukan penyakit ringan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memperingatkan dengan sangat tegas bahwa kesombongan dapat menghalangi seseorang dari surga. Karena surga adalah tempat hamba-hamba yang tunduk, bukan hati yang membesarkan diri.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah." (HR. Muslim)

Hadis ini seharusnya membuat kita takut. Bukan takut pada pakaian bagus atau rezeki yang Allah berikan, tetapi takut bila di balik nikmat itu tumbuh rasa lebih tinggi daripada orang lain.

Nikmat boleh tampak di luar, tetapi hati harus tetap rendah di hadapan Allah. Pakaian boleh rapi, tetapi jiwa jangan merasa lebih suci. Rezeki boleh lapang, tetapi hati jangan merendahkan yang sempit.

5. Obat Sombong adalah Mengenal Asal dan Akhir Diri

Jamaah yang dirahmati Allah,

Untuk mengobati sombong, ingatlah asal diri kita. Kita berasal dari setetes air hina. Kita hidup karena diberi napas oleh Allah. Kita kuat karena dikuatkan Allah. Kita berilmu karena diajarkan Allah. Kita punya harta karena dititipi Allah. Tidak ada satu pun yang layak disombongkan.

Ingat pula akhir diri kita. Tubuh yang dibanggakan akan dimandikan. Pakaian indah akan diganti kain kafan. Nama besar akan tinggal cerita. Harta akan dibagi. Jasad akan masuk ke tanah. Maka untuk apa sombong?

Allah berfirman:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

"Janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung." (QS. Al-Isra': 37)

Tawadhu bukan merendahkan diri secara hina.
Tawadhu adalah menyadari bahwa semua kelebihan adalah titipan Allah.
Tawadhu adalah menerima kebenaran dan menghormati manusia.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita periksa hati masing-masing. Apakah kita sulit menerima nasihat? Apakah kita merasa lebih baik daripada orang lain? Apakah kita mudah meremehkan yang miskin, yang muda, yang sederhana? Apakah kita marah ketika salah kita ditunjukkan?

Jangan biarkan penyakit Iblis tumbuh dalam hati kita. Rendahkan diri di hadapan Allah. Terimalah kebenaran meski pahit. Hormatilah manusia. Banyaklah mengingat kematian, agar kesombongan tidak punya tempat menetap dalam dada.

Ya Allah, bersihkan hati kami dari sombong.
Jauhkan kami dari merasa lebih baik daripada hamba-Mu.
Ajarkan kami menerima kebenaran.
Ajarkan kami menghormati sesama.
Jadikan kami hamba yang tawadhu di hadapan-Mu.

Sebab tidak ada yang layak dibanggakan, kecuali rahmat Allah yang menutupi kelemahan kita.

Semoga Allah menjauhkan kita dari kesombongan, melembutkan hati kita, menghiasi diri kita dengan tawadhu, menerima amal kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَزَيِّنَّا بِالتَّوَاضُعِ وَالْإِخْلَاصِ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit