Persatuan dalam Perbedaan Merawat Ukhuwah di Tengah Kemajemukan Bangsa
Jumat

Persatuan dalam Perbedaan Merawat Ukhuwah di Tengah Kemajemukan Bangsa

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Persatuan dalam Perbedaan

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Persatuan bukan berarti semua manusia harus sama dalam segala hal. Persatuan berarti kita mampu hidup bersama dalam nilai kebaikan, saling menghormati dalam perbedaan yang dibenarkan, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menghina, memusuhi, atau menghancurkan. Inilah yang sangat penting bagi kehidupan berbangsa.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga ukhuwah, keadilan, dan kemaslahatan. Di tengah kemajemukan bangsa, seorang muslim harus menjadi penebar kedamaian, bukan penyulut api. Ia menjaga lisan, menahan jari dari menyebarkan fitnah, dan ikut merawat persaudaraan sosial agar masyarakat tetap aman dan tenteram.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13)

Allah menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bukan agar saling merendahkan, tetapi agar saling mengenal, saling menghormati, dan berlomba dalam kebaikan.

1. Perbedaan adalah Sunatullah

Saudaraku kaum muslimin,

Perbedaan adalah bagian dari ketetapan Allah dalam kehidupan manusia. Manusia berbeda bahasa, warna kulit, budaya, tempat tinggal, tingkat pendidikan, dan pengalaman hidup. Dalam kehidupan sosial, perbedaan pilihan dan pendapat juga sering terjadi. Selama tidak menyentuh perkara yang jelas haram dan tidak merusak prinsip agama, perbedaan harus dikelola dengan ilmu dan adab.

Masalah besar muncul bukan karena perbedaan itu sendiri, tetapi karena cara kita menyikapinya. Perbedaan menjadi berbahaya ketika disikapi dengan kesombongan, saling menghina, menolak nasihat, dan menganggap semua yang berbeda sebagai musuh. Padahal orang beriman diajarkan untuk adil, bijak, dan lapang dada.

Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ

"Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu." (QS. Ar-Rum: 22)

Perbedaan bukan alasan untuk saling membenci.
Perbedaan adalah tanda kebesaran Allah yang harus dikelola dengan iman, ilmu, dan akhlak.

2. Persaudaraan Iman Harus Lebih Kuat daripada Fanatisme

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di tengah masyarakat, manusia bisa terikat oleh suku, daerah, kelompok, organisasi, pilihan politik, atau kepentingan tertentu. Namun bagi seorang muslim, ikatan iman dan akhlak harus lebih kuat daripada fanatisme sempit. Jangan sampai karena berbeda kelompok, kita melupakan persaudaraan. Jangan sampai karena berbeda pilihan, kita menghalalkan cacian. Jangan sampai karena berbeda daerah, kita merendahkan sesama.

Fanatisme yang buta membuat hati sempit. Ia membuat seseorang hanya melihat kesalahan pihak lain dan menutup mata terhadap kesalahan kelompok sendiri. Islam tidak mengajarkan demikian. Islam mengajarkan keadilan: benar dikatakan benar, salah dikatakan salah, dan manusia tetap dihormati haknya.

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu." (QS. Al-Hujurat: 10)

Ukhuwah iman menuntut kita menjadi pembawa damai, bukan penambah api permusuhan.

3. Jangan Menjadi Penyebar Fitnah dan Provokasi

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Persatuan bangsa sering rusak bukan hanya oleh konflik besar, tetapi juga oleh kabar bohong, potongan berita, tuduhan tanpa bukti, dan provokasi yang disebarkan dari satu orang ke orang lain. Di zaman media sosial, jari manusia bisa menjadi sebab tenangnya masyarakat atau rusaknya persaudaraan.

Seorang muslim harus hati-hati. Jangan mudah menyebarkan berita yang belum jelas. Jangan membagikan tulisan yang memancing kebencian. Jangan menjadi alat orang yang ingin memecah belah masyarakat. Setiap tulisan, komentar, dan pesan yang kita sebarkan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)

Satu berita palsu bisa merusak persaudaraan.
Satu provokasi bisa membakar masyarakat.
Maka tahan jari, periksa berita, dan takutlah kepada Allah sebelum menyebarkan.

4. Merawat Persatuan dengan Keadilan

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Persatuan tidak akan kuat jika tidak disertai keadilan. Masyarakat akan mudah pecah jika ada kezaliman, diskriminasi, penghinaan, dan ketidakjujuran. Karena itu Islam memerintahkan keadilan, bahkan kepada orang yang tidak kita sukai. Keadilan adalah tiang penting dalam kehidupan berbangsa.

Adil berarti tidak mudah menuduh. Adil berarti tidak membenci secara berlebihan. Adil berarti menilai perkara dengan bukti, bukan sentimen. Adil berarti menghormati hak orang lain meskipun berbeda dengan kita. Tanpa keadilan, persatuan hanya menjadi ucapan yang rapuh.

Allah berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)

Keadilan adalah tanda takwa. Tanpa keadilan, perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan.

5. Akhlak Islam sebagai Perekat Bangsa

Jamaah yang dirahmati Allah,

Bangsa yang majemuk membutuhkan akhlak yang kuat. Akhlak membuat orang mampu berbeda tanpa saling mencaci. Akhlak membuat orang mampu berdialog tanpa merendahkan. Akhlak membuat orang mampu bersaing tanpa curang. Akhlak membuat orang mampu menasihati tanpa menghina.

Seorang muslim harus membawa akhlak Islam dalam ruang publik: jujur, amanah, santun, menghormati tetangga, menghargai tamu, menolong yang lemah, menjaga fasilitas umum, dan tidak menyakiti orang lain. Inilah nasionalisme yang berakar pada iman: cinta negeri dengan memperbaiki akhlak masyarakat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

"Sesungguhnya di antara orang terbaik dari kalian adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhlak yang baik adalah perekat sosial.
Ia membuat perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan,
dan membuat masyarakat lebih damai serta bermartabat.

6. Persatuan Bukan Menutup Nasihat, Tetapi Menjaga Cara

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Menjaga persatuan bukan berarti menutup mata dari kesalahan. Jika ada kezaliman, harus dinasihati. Jika ada kemungkaran, harus dicegah sesuai kemampuan dan aturan yang benar. Jika ada kebijakan yang kurang tepat, boleh dikritik dengan cara yang beradab. Islam tidak mengajarkan diam terhadap kesalahan, tetapi Islam juga tidak membenarkan cara yang merusak dan menimbulkan fitnah lebih besar.

Nasihat yang baik memperbaiki, bukan memperbesar kebencian. Kritik yang beradab membangun, bukan menghancurkan. Perbedaan pandangan hendaknya disampaikan dengan ilmu, bukti, dan bahasa yang menjaga martabat. Itulah jalan orang beriman: tegas pada prinsip, tetapi tetap menjaga akhlak.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

"Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik." (QS. An-Nahl: 125)

Hikmah bukan kelemahan. Hikmah adalah kemampuan menempatkan kebenaran dengan cara yang paling mendekatkan kepada kebaikan dan paling jauh dari kerusakan.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita menjadi perekat persatuan atau pemecah masyarakat? Apakah lisan kita menenangkan atau menyakiti? Apakah jari kita menyebarkan berita benar atau fitnah? Apakah kita mampu adil kepada orang yang berbeda dengan kita?

Persatuan dalam perbedaan adalah nikmat yang harus dijaga. Bangsa yang majemuk membutuhkan hati yang lapang, lisan yang santun, keadilan yang tegak, dan akhlak yang hidup. Seorang muslim hendaknya menjadi penjaga ukhuwah, penjaga kedamaian, dan penjaga kemaslahatan bersama.

Ya Allah, satukan hati kami di atas kebenaran dan kebaikan.
Jauhkan negeri kami dari perpecahan, fitnah, provokasi, fanatisme buta, dan kebencian antarsesama.
Jadikan kami hamba-hamba yang adil, santun, amanah, dan mampu menghormati perbedaan tanpa meninggalkan prinsip iman.
Bimbing masyarakat kami agar saling mengenal, saling menolong, dan saling menjaga dalam kebaikan.

Sebab persatuan dalam perbedaan adalah amanah besar: ia harus dirawat dengan iman, dijaga dengan keadilan, dan diperindah dengan akhlak mulia.

Semoga Allah menjaga persatuan negeri kita, memperbaiki akhlak bangsa kita, menerima amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ اجْمَعْ قُلُوبَنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا مِنَ التَّفَرُّقِ وَالْعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit