Pulanglah kepada Allah Sebelum Pulang ke Tanah
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Pulanglah kepada Allah Sebelum Pulang ke Tanah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Setiap manusia pasti akan pulang. Tidak ada satu pun dari kita yang akan menetap selamanya di dunia ini. Rumah yang kita bangun akan kita tinggalkan. Harta yang kita kumpulkan akan berpindah tangan. Jabatan yang kita jaga akan digantikan orang lain. Tubuh yang hari ini kuat pun suatu saat akan lemah, kaku, lalu kembali ke tanah.
Namun sebelum pulang ke tanah, ada panggilan yang lebih mulia: pulang kepada Allah dengan taubat, pulang kepada Allah dengan shalat, pulang kepada Allah dengan istighfar, pulang kepada Allah dengan hati yang menyesal dan ingin diperbaiki.
Allah berfirman:
"Maka berlarilah kembali kepada Allah." (QS. Adz-Dzariyat: 50)
1. Dunia Ini Hanya Tempat Singgah
Saudaraku kaum muslimin,
Sering kali kita hidup seolah-olah dunia ini selamanya. Kita mengejar dunia dengan begitu lelah, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk perjalanan yang lebih panjang. Kita memperindah rumah, tetapi lupa memperindah amal. Kita menjaga nama di mata manusia, tetapi lupa bagaimana keadaan kita di hadapan Allah.
Padahal dunia ini hanya tempat singgah. Seperti orang musafir yang berhenti sebentar di bawah pohon, lalu melanjutkan perjalanan. Begitulah hidup kita di dunia. Singkat, cepat, dan akan berlalu.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir yang sedang lewat." (HR. Bukhari)
2. Kematian Tidak Pernah Menunggu Kita Siap
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kita sering berkata, “Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin ibadah.” “Nanti kalau sudah tenang saya akan bertaubat.” “Nanti kalau urusan dunia sudah selesai saya akan memperbaiki diri.” Padahal kematian tidak pernah menunggu seseorang menyelesaikan urusan dunianya.
Berapa banyak orang yang masih punya rencana, tetapi ajal datang lebih dahulu. Berapa banyak orang yang ingin bertaubat nanti, tetapi “nanti” itu tidak pernah sampai. Berapa banyak orang yang menunda shalat, menunda sedekah, menunda meminta maaf, lalu kesempatan itu diambil sebelum ia sempat melakukannya.
Allah berfirman:
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Ali 'Imran: 185)
Kematian bukan kemungkinan. Kematian adalah kepastian. Yang tidak kita ketahui hanyalah kapan, di mana, dan dalam keadaan apa kita dipanggil oleh Allah.
- Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah.
- Jangan menunggu tua untuk memperbaiki shalat.
- Jangan menunggu kehilangan untuk mencintai keluarga.
- Jangan menunggu jenazah di depan mata baru menangisi hidup yang lalai.
3. Pulang kepada Allah Dimulai dari Taubat
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pulang kepada Allah bukan berarti menunggu kematian. Pulang kepada Allah dimulai sejak sekarang. Pulang kepada Allah adalah ketika hati mulai menyesal atas dosa. Pulang kepada Allah adalah ketika lisan mulai basah dengan istighfar. Pulang kepada Allah adalah ketika kaki kembali melangkah ke masjid. Pulang kepada Allah adalah ketika seseorang meninggalkan maksiat yang dahulu ia cintai.
Allah berfirman:
"Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)
Allah tidak memanggil hanya orang yang banyak dosa untuk bertaubat. Allah memanggil orang-orang beriman untuk bertaubat. Sebab orang beriman pun membutuhkan taubat. Orang yang shalat pun membutuhkan istighfar. Orang yang berdakwah pun membutuhkan ampunan Allah.
Tidak ada manusia yang terlalu jauh untuk tidak bisa kembali.
Tidak ada dosa yang lebih besar daripada rahmat Allah, selama seorang hamba datang dengan taubat yang jujur.
4. Jangan Pulang dengan Tangan Kosong
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Ketika manusia wafat, ia tidak membawa rumahnya. Ia tidak membawa mobilnya. Ia tidak membawa tabungannya. Ia tidak membawa pangkat dan kedudukannya. Yang dibawa hanyalah amal.
Maka jangan sampai kita pulang kepada Allah dengan tangan kosong. Jangan sampai umur yang panjang habis untuk dunia, tetapi sedikit sekali untuk akhirat. Jangan sampai badan lelah mencari rezeki, tetapi hati malas bersujud kepada pemberi rezeki.
- Bawalah shalat yang dijaga.
- Bawalah sedekah yang ikhlas.
- Bawalah istighfar yang tulus.
- Bawalah air mata taubat.
- Bawalah kebaikan kepada orang tua, keluarga, tetangga, dan sesama muslim.
Amal yang kecil tetapi ikhlas bisa menjadi sebab Allah menyelamatkan kita. Satu sujud yang jujur, satu sedekah yang tersembunyi, satu maaf yang diberikan, satu dosa yang ditinggalkan karena Allah; semuanya tidak akan hilang di sisi Allah.
Allah berfirman:
"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihatnya, dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah niscaya dia akan melihatnya." (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita masih bisa pulang kepada Allah dengan pilihan. Suatu hari nanti kita akan pulang kepada tanah dengan kepastian. Hari ini kita masih bisa bertaubat. Suatu hari nanti kita hanya bisa berharap amal kita diterima. Hari ini kita masih bisa memperbaiki shalat. Suatu hari nanti orang lain yang akan menshalatkan kita.
Pulanglah dengan taubat sebelum pulang dengan kafan.
Pulanglah dengan istighfar sebelum pulang diantar tangisan.
Pulanglah dengan hati yang tunduk sebelum tubuh kita dibaringkan di liang lahat.
Semoga Allah melembutkan hati kita, mengampuni dosa-dosa kita, memperbaiki amal kita, menerima taubat kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit