Rendah Hati dalam Pergaulan Mulia Tanpa Merendahkan Orang Lain
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Rendah Hati dalam Pergaulan
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam pergaulan, manusia sering tergelincir karena merasa lebih. Merasa lebih kaya, lebih pintar, lebih berilmu, lebih saleh, lebih berpengalaman, lebih tinggi nasabnya, lebih besar jabatannya, atau lebih banyak pengaruhnya. Perasaan seperti ini bila tidak dikendalikan akan melahirkan sikap meremehkan orang lain.
Padahal semua kelebihan hanyalah titipan Allah. Ilmu adalah titipan. Harta adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Kecerdasan adalah titipan. Bahkan kemampuan beribadah pun adalah taufik dari Allah. Maka tidak pantas seorang hamba membanggakan titipan seolah-olah itu miliknya yang abadi.
Allah berfirman:
"Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)
1. Tawadhu Lahir dari Mengenal Allah dan Mengenal Diri
Saudaraku kaum muslimin,
Orang yang benar-benar mengenal Allah akan sulit menjadi sombong. Ia tahu bahwa Allah Maha Besar, sedangkan manusia sangat lemah. Ia tahu bahwa hidupnya bergantung kepada rahmat Allah sejak lahir hingga mati. Ia tahu bahwa tanpa pertolongan Allah, ia tidak mampu menjaga iman, rezeki, kesehatan, bahkan napasnya sendiri.
Orang yang mengenal dirinya juga akan rendah hati. Ia sadar punya banyak kekurangan, dosa, kelalaian, dan aib yang Allah tutupi. Bila Allah membuka semua aib kita, mungkin tidak ada manusia yang sanggup memuji kita. Maka tawadhu adalah buah kesadaran: kita hanyalah hamba yang ditutupi aibnya dan diberi nikmat oleh Allah.
Allah menggambarkan hamba-hamba pilihan-Nya:
"Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati." (QS. Al-Furqan: 63)
Ia berjalan dengan tenang, lembut, dan sadar bahwa dirinya selalu membutuhkan rahmat Allah.
2. Kesombongan Merusak Pergaulan dan Menutup Pintu Surga
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sombong membuat seseorang sulit diterima dalam pergaulan. Ia merasa paling benar, sulit dinasihati, berat meminta maaf, mudah merendahkan, dan sering memandang orang lain kecil. Orang sombong mungkin ditakuti, tetapi tidak dicintai. Mungkin dihormati karena jabatan, tetapi tidak dirindukan karena akhlaknya.
Lebih berbahaya lagi, kesombongan bukan hanya merusak hubungan manusia, tetapi juga membahayakan akhirat. Iblis jatuh bukan karena kurang ilmu, tetapi karena sombong. Ia merasa lebih baik dari Adam, lalu menolak perintah Allah. Maka siapa pun yang membiarkan sombong tumbuh dalam hati harus takut terhadap nasib akhiratnya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi." (HR. Muslim)
3. Jangan Merasa Lebih Baik dari Orang Lain
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Salah satu tanda rendah hati adalah tidak mudah merasa lebih baik dari orang lain. Kita boleh berusaha menjadi lebih saleh, lebih berilmu, lebih bermanfaat, tetapi tidak boleh merasa pasti lebih mulia di sisi Allah. Karena nilai seorang hamba tidak hanya dilihat dari tampilan luar, tetapi dari hati, niat, keikhlasan, dan akhir hidupnya.
Bisa jadi orang yang kita anggap biasa saja lebih ikhlas amalnya. Bisa jadi orang yang tidak dikenal lebih banyak doanya. Bisa jadi orang yang pernah salah telah bertaubat dengan tangisan yang diterima Allah. Bisa jadi orang yang kita remehkan kelak lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
Ukuran Allah adalah takwa di dalam hati.
Maka jangan cepat merasa lebih mulia daripada hamba Allah yang lain.
4. Rendah Hati Tampak dalam Ucapan dan Sikap
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Tawadhu bukan hanya perasaan dalam hati, tetapi tampak dalam ucapan dan sikap. Orang rendah hati mudah menyapa, tidak berat mendengar, tidak meremehkan pekerjaan sederhana, tidak memotong pembicaraan dengan angkuh, tidak menghina orang yang kurang ilmu, dan tidak merasa jatuh martabatnya ketika duduk bersama orang kecil.
Rendah hati juga tampak ketika seseorang mau mengakui kesalahan. Ia tidak merasa hina untuk berkata, "Saya salah." Ia tidak merasa berat untuk meminta maaf. Ia tidak malu belajar dari yang lebih muda. Ia tidak menjadikan kelebihan sebagai tembok yang memisahkan dirinya dari orang lain.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, hingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas yang lain dan tidak ada yang menzalimi yang lain." (HR. Muslim)
5. Tawadhu Bukan Merendahkan Diri secara Hina
Jamaah yang dirahmati Allah,
Perlu dipahami, tawadhu bukan berarti menghinakan diri. Rendah hati bukan berarti membiarkan diri dizalimi. Tawadhu bukan berarti tidak punya prinsip, tidak menjaga kehormatan, atau takut menyampaikan kebenaran. Tawadhu adalah merendah karena Allah tanpa kehilangan kemuliaan iman.
Seorang mukmin boleh tegas, tetapi tidak sombong. Boleh menjaga hak, tetapi tidak zalim. Boleh memiliki kemampuan, tetapi tidak meremehkan. Boleh berhasil, tetapi tetap sadar bahwa keberhasilan adalah karunia Allah. Inilah tawadhu yang benar: hati tunduk kepada Allah dan akhlak lembut kepada manusia.
Allah berfirman:
"Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di bumi dan tidak pula kerusakan." (QS. Al-Qashash: 83)
Orang yang mengejar kemuliaan akhirat tidak sibuk membangun kesombongan di dunia.
6. Allah Mengangkat Orang yang Rendah Hati
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam pandangan manusia, orang rendah hati mungkin tampak sederhana. Ia tidak banyak menonjolkan diri, tidak mengejar pujian, tidak memaksa dihormati, dan tidak sibuk membesarkan namanya. Tetapi di sisi Allah, kerendahan hati karena iman adalah sebab diangkatnya derajat.
Betapa indah orang yang memiliki ilmu tetapi tawadhu, memiliki harta tetapi dermawan, memiliki jabatan tetapi melayani, memiliki kelebihan tetapi menghargai. Orang seperti ini meninggalkan bekas kebaikan dalam hati manusia. Ia mulia tanpa perlu merendahkan orang lain.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim)
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa hati kita. Apakah kita mudah merasa lebih baik? Apakah kita sulit menerima nasihat? Apakah kita senang dipuji dan berat mengakui kesalahan? Apakah kita pernah merendahkan orang karena miskin, sederhana, kurang ilmu, atau tidak punya kedudukan?
Rendah hati dalam pergaulan adalah jalan kemuliaan. Orang tawadhu tidak perlu merendahkan orang lain agar terlihat tinggi. Ia tidak perlu menghina agar merasa mulia. Ia cukup memperbaiki hati, menjaga adab, dan menyerahkan derajat kepada Allah. Sebab siapa yang merendah karena Allah, Allah akan mengangkatnya.
Jadikan kami hamba yang tawadhu dalam keluarga, pekerjaan, majelis, dan pergaulan.
Jaga lisan kami dari merendahkan dan sikap kami dari menyakiti.
Ajarkan kami menghormati yang kecil, memuliakan yang lemah, dan menerima nasihat dengan lapang dada.
Angkatlah derajat kami dengan kerendahan hati, bukan dengan kesombongan yang Engkau benci.
Sebab rendah hati dalam pergaulan membuat seseorang mulia tanpa harus merendahkan orang lain, dan kemuliaan sejati hanya datang dari Allah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tawadhu, menjauhkan kita dari sombong yang tersembunyi, memperindah akhlak kita kepada sesama, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit