Ridha Allah Bersama Ridha Orang Tua
Jumat

Ridha Allah Bersama Ridha Orang Tua

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Ridha Allah Bersama Ridha Orang Tua

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Orang tua bukan manusia biasa dalam kehidupan seorang anak. Mereka adalah sebab lahirnya kita ke dunia. Mereka adalah tempat Allah menitipkan kasih sayang, pengorbanan, doa, dan penjagaan. Mereka mengasuh kita saat kita belum mampu mengurus diri sendiri. Mereka memikirkan kita sebelum kita mampu memikirkan mereka.

Maka Islam mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah ibadah besar. Menjaga ridha mereka bukan sekadar etika keluarga, tetapi bagian dari ketaatan kepada Allah. Anak yang ingin hidupnya diberkahi hendaknya memperhatikan bagaimana sikapnya kepada orang tua.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

"Ridha Allah berada pada ridha orang tua, dan murka Allah berada pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengguncang hati kita. Betapa besar kedudukan orang tua, sampai ridha dan murka mereka berkaitan dengan ridha dan murka Allah, selama mereka tidak memerintahkan maksiat.

1. Jangan Ringan Membuat Hati Orang Tua Terluka

Saudaraku kaum muslimin,

Banyak anak berhati-hati jangan sampai menyakiti hati orang lain, tetapi sering kurang berhati-hati kepada orang tuanya. Ia mudah meninggikan suara, mudah kesal, mudah menunjukkan wajah jengkel, mudah menjawab dengan kasar, bahkan merasa biasa membuat orang tua menangis.

Padahal hati orang tua sangat lembut terhadap anaknya. Kadang satu kalimat kasar dari anak dapat menjadi luka yang lama. Kadang satu sikap acuh dapat membuat mereka merasa tidak lagi dibutuhkan. Kadang satu bantahan dengan nada tinggi terasa lebih menyakitkan daripada lelah bertahun-tahun membesarkan kita.

Allah berfirman:

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

"Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', janganlah membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23)

Jika “ah” saja dilarang,
maka berhati-hatilah dari bentakan, sindiran, wajah masam, dan ucapan yang membuat hati orang tua terluka.

2. Ridha Orang Tua Membuka Pintu Keberkahan

Jamaah yang dirahmati Allah,

Keberkahan hidup tidak selalu tampak pada banyaknya harta. Keberkahan bisa berupa hati yang tenang, keluarga yang damai, rezeki yang cukup, urusan yang dimudahkan, doa yang dikabulkan, dan jalan keluar yang datang pada saat sempit. Salah satu sebab besar keberkahan adalah bakti kepada orang tua.

Banyak orang mencari kunci sukses ke tempat jauh, padahal salah satu kuncinya ada di rumah: doa ibu dan ridha ayah. Jangan remehkan doa mereka. Jangan anggap kecil restu mereka. Kadang yang membuat hidup terasa lapang bukan karena strategi kita hebat, tetapi karena ada doa orang tua yang naik ke langit.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang amal yang dicintai Allah:

الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ

"Shalat pada waktunya." Aku bertanya, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah shalat tepat waktu, Rasulullah menyebut bakti kepada orang tua sebagai amal yang sangat dicintai Allah. Maka jangan remehkan amal yang demikian agung.

3. Mencari Ridha Mereka Tidak Berarti Taat dalam Maksiat

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Islam memerintahkan kita berbakti kepada orang tua, tetapi ketaatan kepada orang tua tidak boleh melanggar ketaatan kepada Allah. Jika orang tua memerintahkan sesuatu yang jelas maksiat, maka anak tidak boleh mengikuti perintah tersebut. Namun penolakan itu tetap harus dilakukan dengan adab, kelembutan, dan hormat.

Jangan jadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk kasar. Jangan jadikan kebenaran sebagai alasan untuk membentak. Seorang anak bisa tetap teguh dalam agama sekaligus tetap santun kepada orang tua. Inilah keindahan Islam: taat kepada Allah, namun tetap berbuat baik kepada orang tua.

Allah berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

"Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, tetapi pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (QS. Luqman: 15)

Tidak taat dalam maksiat bukan berarti hilang adab.
Teguh dalam agama harus tetap dibarengi lisan lembut dan sikap mulia kepada orang tua.

4. Ridha Orang Tua Dijaga dengan Pelayanan, Bukan Sekadar Ucapan

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Bakti kepada orang tua tidak cukup hanya dengan mengatakan cinta. Cinta kepada orang tua harus tampak dalam pelayanan. Membantu kebutuhan mereka, menjenguk mereka, mendengarkan cerita mereka, memperhatikan kesehatan mereka, meringankan beban mereka, dan membuat mereka merasa dihargai.

Ketika orang tua mulai menua, geraknya melemah, pikirannya sering mengulang cerita, dan kebutuhannya semakin banyak. Di situlah kesabaran anak diuji. Dahulu mereka sabar menghadapi tangis kita. Dahulu mereka mengulang nasihat berkali-kali. Dahulu mereka melayani kita tanpa menghitung lelah. Maka kini jangan cepat lelah melayani mereka.

Allah berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

"Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang." (QS. Al-Isra: 24)

Merendahkan diri di hadapan orang tua bukan kehinaan, tetapi kemuliaan. Anak yang besar jiwanya tidak malu melayani orang tua.

5. Jangan Tukar Ridha Orang Tua dengan Kesibukan Dunia

Jamaah yang dirahmati Allah,

Dunia sering membuat kita sibuk. Pekerjaan, usaha, keluarga, pergaulan, dan urusan pribadi kadang membuat kita lupa menanyakan kabar orang tua. Kita merasa masih ada waktu. Kita menunda kunjungan. Menunda telepon. Menunda meminta maaf. Menunda membahagiakan mereka.

Padahal waktu bersama orang tua tidak selamanya panjang. Hari ini mereka masih bisa menjawab salam kita, besok belum tentu. Hari ini tangan mereka masih bisa kita cium, besok mungkin hanya makam yang bisa kita ziarahi. Maka jangan menunggu kehilangan baru sadar bahwa ridha mereka sangat mahal.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

"Celakalah seseorang, celakalah seseorang, celakalah seseorang." Ditanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang mendapati kedua orang tuanya di usia tua, salah satu atau keduanya, tetapi ia tidak masuk surga." (HR. Muslim)

Orang tua yang menua adalah pintu surga yang terbuka.
Jangan sampai pintu itu tertutup karena kita lalai, kasar, atau terlalu sibuk dengan dunia.

6. Minta Maaf dan Minta Doa kepada Orang Tua

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di antara amal yang sering dilupakan adalah meminta maaf kepada orang tua. Banyak anak merasa malu, gengsi, atau merasa tidak perlu. Padahal mungkin ada ucapan kita yang pernah melukai, sikap kita yang pernah mengecewakan, atau kelalaian kita yang membuat mereka menahan sedih.

Datanglah kepada orang tua dengan hati yang rendah. Mintalah maaf. Mintalah doa. Minta restu untuk kebaikan hidup. Jangan malu mencium tangan mereka. Jangan berat mengucapkan terima kasih. Jangan ragu mengatakan bahwa kita membutuhkan doa mereka. Karena doa orang tua untuk anaknya memiliki kedudukan yang besar.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

"Tiga doa yang mustajab tanpa keraguan: doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang terzalimi." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Doa orang tua adalah hadiah besar. Jangan sia-siakan hadiah yang dapat membuka pintu-pintu kebaikan dalam hidup kita.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah orang tua ridha kepada kita? Apakah mereka bahagia dengan lisan kita? Apakah mereka tenang dengan sikap kita? Apakah kita sering meminta doa mereka? Apakah kita membuat mereka merasa dihargai, atau justru merasa menjadi beban?

Ridha Allah bersama ridha orang tua. Jangan kejar dunia dengan melukai mereka. Jangan bangun keberhasilan di atas tangis mereka. Jangan merasa hebat bila kepada orang tua sendiri kita kasar. Sebab sebaik apa pun seseorang di mata manusia, ia tetap harus memperbaiki adabnya kepada ibu dan ayah.

Ya Allah, jadikan kami anak-anak yang mendapatkan ridha-Mu melalui ridha kedua orang tua kami.
Ampuni kami jika pernah menyakiti, membentak, mengabaikan, atau membuat mereka menangis.
Lembutkan lisan kami, lapangkan hati kami, dan kuatkan kami untuk melayani mereka dengan penuh kasih sayang.
Berkahilah umur orang tua kami, sehatkan yang masih hidup, rahmati yang telah wafat, dan jadikan doa mereka sebab kebaikan bagi kami.
Jangan Engkau wafatkan kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami dan orang tua kami ridha kepada kami.

Sebab ridha Allah bersama ridha orang tua, dan hati orang tua adalah pintu besar menuju keberkahan hidup.

Semoga Allah memberi kita kesempatan memperbaiki bakti, meminta maaf, membahagiakan orang tua, dan menjadi anak-anak yang diridhai Allah hingga akhir hayat.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ ارْضَ عَنَّا وَأَرْضِ عَنَّا وَالِدِينَا، اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اَللّٰهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ حَيًّا فَأَطِلْ عُمْرَهُ فِي طَاعَتِكَ وَبَارِكْ لَهُ فِي صِحَّتِهِ وَرِزْقِهِ، وَمَنْ كَانَ مِنْهُمْ مَيِّتًا فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَنَوِّرْ قَبْرَهُ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ، وَارْزُقْنَا بِرَّهُمْ وَرِضَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit