Rumah Tangga Sakinah Surga Kecil yang Dibangun dengan Taqwa
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Rumah Tangga Sakinah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Rumah tangga sakinah bukan rumah yang tidak pernah diuji. Rumah tangga sakinah bukan rumah yang tidak pernah berbeda pendapat. Rumah tangga sakinah adalah rumah yang memiliki arah pulang yang sama: Allah. Ketika senang, mereka bersyukur. Ketika sulit, mereka bersabar. Ketika salah, mereka saling menasihati. Ketika terluka, mereka belajar memaafkan.
Sakinah adalah ketenangan yang Allah tanamkan dalam hati suami dan istri ketika keduanya membangun rumah tangga dengan iman. Ketenangan itu tidak lahir hanya dari banyaknya harta, bagusnya rumah, atau tingginya kedudukan. Ia lahir dari taqwa, adab, tanggung jawab, dan kasih sayang yang dirawat karena Allah.
Allah berfirman:
"Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
1. Pondasi Rumah Tangga adalah Taqwa
Saudaraku kaum muslimin,
Rumah tangga yang ingin berkah harus dibangun di atas taqwa. Suami bertaqwa dalam memimpin, istri bertaqwa dalam mendampingi, keduanya bertaqwa dalam berbicara, mengambil keputusan, mencari rezeki, mendidik anak, dan menyelesaikan masalah.
Bila taqwa hilang, rumah tangga mudah dikuasai ego. Suami bisa menjadi keras. Istri bisa menjadi lalai. Lisan bisa saling melukai. Masalah kecil bisa menjadi besar. Tetapi bila taqwa hadir, masing-masing takut menyakiti karena sadar Allah melihat semua yang terjadi di dalam rumah.
Allah berfirman:
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Tetapi setiap masalah memiliki jalan keluar karena Allah menjadi tempat kembali.
2. Suami Istri adalah Pakaian bagi Satu Sama Lain
Jamaah yang dirahmati Allah,
Allah menggambarkan suami istri sebagai pakaian. Pakaian menutup aib, melindungi, menghangatkan, memperindah, dan melekat dengan penuh kedekatan. Begitulah seharusnya suami dan istri: saling menutup kekurangan, bukan membuka aib; saling melindungi, bukan saling menjatuhkan.
Dalam rumah tangga, setiap pasangan pasti memiliki kekurangan. Tidak ada suami yang sempurna. Tidak ada istri yang sempurna. Yang ada adalah dua hamba Allah yang sama-sama belajar memperbaiki diri, saling menolong dalam kebaikan, dan saling menutupi kelemahan dengan kasih sayang.
Allah berfirman:
"Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka." (QS. Al-Baqarah: 187)
3. Cinta Rumah Tangga Harus Dirawat dengan Akhlak
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Cinta dalam rumah tangga tidak cukup hanya diucapkan. Cinta harus dibuktikan dengan akhlak. Dengan lisan yang baik, sikap yang lembut, tanggung jawab, kesetiaan, perhatian, dan kemampuan menahan diri ketika marah.
Banyak rumah tangga bukan rusak karena tidak ada cinta, tetapi karena cinta tidak dirawat dengan adab. Kata-kata kasar, ego, diam yang menyiksa, tidak mau meminta maaf, dan membuka aib pasangan bisa mengikis cinta sedikit demi sedikit.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku." (HR. Tirmidzi)
Akhlak terbaik harus terlihat kepada orang yang paling dekat dengan kita.
Sebab keluarga lebih berhak merasakan kelembutan iman kita.
4. Rumah Tangga Sakinah Memiliki Budaya Saling Memaafkan
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Dalam rumah tangga, pasti ada salah paham, salah ucap, lupa, lelah, dan kekurangan. Bila setiap kesalahan disimpan sebagai dendam, rumah akan terasa sempit. Bila setiap luka dibalas dengan luka, rumah akan kehilangan rahmat.
Karena itu, rumah tangga sakinah membutuhkan maaf. Bukan berarti membenarkan kezaliman, tetapi memberi ruang perbaikan. Suami harus berani meminta maaf. Istri juga harus berani meminta maaf. Keduanya harus berani memperbaiki diri, bukan hanya menuntut pasangan berubah.
Allah berfirman:
"Maka maafkanlah dan berlapang dadalah. Tidakkah kamu suka Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22)
5. Jadikan Rumah sebagai Jalan Menuju Surga
Jamaah yang dirahmati Allah,
Rumah tangga bukan hanya urusan makan, nafkah, anak, dan kebutuhan dunia. Rumah tangga adalah ladang akhirat. Suami bisa meraih surga dengan adil, bertanggung jawab, dan lembut kepada keluarganya. Istri bisa meraih surga dengan ketaatan, penjagaan, kesabaran, dan keikhlasan. Orang tua bisa meraih surga dengan mendidik anak dalam iman.
Rumah yang berkah adalah rumah yang di dalamnya ada shalat, Al-Qur'an, doa, nasihat, adab, dan kasih sayang. Rumah yang hanya ramai oleh dunia tetapi sepi dari mengingat Allah akan mudah terasa kering. Maka hidupkan rumah dengan dzikir dan ketaatan.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)
Bangunlah rumah agar penghuninya selamat di akhirat.
Sebab keluarga yang paling indah adalah keluarga yang saling menuntun menuju Allah.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa rumah kita. Apakah rumah kita sudah menjadi tempat yang menenangkan atau tempat yang sering melukai? Apakah lisan kita lebih lembut kepada orang luar daripada kepada pasangan dan keluarga? Apakah anak-anak kita melihat contoh taqwa dari orang tuanya?
Rumah tangga sakinah tidak turun begitu saja. Ia dibangun setiap hari dengan taqwa, sabar, maaf, komunikasi yang baik, nafkah yang halal, doa, dan kesediaan memperbaiki diri. Jangan menunggu pasangan sempurna baru berbuat baik. Mulailah dari diri sendiri, karena perubahan rumah sering dimulai dari satu hati yang kembali kepada Allah.
Tanamkan mawaddah dan rahmah di antara suami istri.
Lembutkan lisan kami, lapangkan hati kami, dan kuatkan sabar kami.
Jadikan pasangan dan anak keturunan kami penyejuk mata dalam ketaatan.
Jangan jadikan rumah kami jauh dari dzikir dan rahmat-Mu.
Sebab rumah tangga yang paling bahagia bukan yang tanpa ujian, tetapi yang selalu kembali kepada Allah dalam setiap keadaan.
Semoga Allah memberkahi rumah tangga kita, memperbaiki hubungan suami istri, menjaga anak keturunan kita, menjadikan rumah kita tempat turunnya rahmat, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit