Sabar Menghadapi Kekurangan Pasangan Karena Tidak Ada Manusia yang Sempurna
Jumat

Sabar Menghadapi Kekurangan Pasangan Karena Tidak Ada Manusia yang Sempurna

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Sabar Menghadapi Kekurangan Pasangan

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pernikahan adalah pertemuan dua manusia yang sama-sama belum sempurna. Masing-masing membawa kebiasaan, luka masa lalu, kelemahan, sifat, cara berpikir, dan cara berbicara yang tidak selalu sama. Karena itu, rumah tangga membutuhkan sabar, bukan hanya cinta. Membutuhkan rahmat, bukan hanya rasa. Membutuhkan akhlak, bukan hanya tuntutan.

Sabar menghadapi kekurangan pasangan bukan berarti membiarkan kezaliman atau dosa terus berlangsung. Sabar yang benar adalah sabar yang tetap menasihati dengan adab, memperbaiki dengan hikmah, dan memberi ruang bagi pasangan untuk bertumbuh. Sabar bukan menyerah pada keburukan, tetapi memilih jalan perbaikan tanpa menghancurkan hati.

Allah berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

"Pergaulilah mereka dengan cara yang baik. Jika kamu tidak menyukai mereka, boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa: 19)

Ayat ini mengajarkan agar kita tidak hanya melihat kekurangan pasangan. Bisa jadi di balik sesuatu yang tidak kita sukai, Allah menyimpan banyak kebaikan.

1. Pasangan Kita Bukan Malaikat

Saudaraku kaum muslimin,

Pasangan kita bukan malaikat yang tidak pernah salah. Ia manusia yang bisa lelah, bisa lupa, bisa salah ucap, bisa kurang peka, bisa memiliki kebiasaan yang belum baik, dan bisa membutuhkan waktu untuk berubah. Maka jangan menuntut pasangan seperti malaikat, sementara diri kita sendiri masih penuh kekurangan.

Sering kali seseorang sangat jelas melihat kekurangan pasangannya, tetapi kabur melihat kekurangan dirinya. Ia mudah berkata: engkau kurang begini, engkau salah begitu. Namun jarang bertanya: apa kekuranganku yang selama ini juga menyulitkan pasangan?

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu akhlak darinya, ia akan ridha pada akhlak yang lain." (HR. Muslim)

Jangan melihat pasangan hanya dari satu kekurangannya.
Ingat pula kebaikannya, pengorbanannya, doanya, dan hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa.

2. Membandingkan Pasangan Membuka Pintu Ketidaksyukuran

Jamaah yang dirahmati Allah,

Salah satu racun rumah tangga adalah membandingkan pasangan dengan orang lain. Suami membandingkan istrinya dengan perempuan lain. Istri membandingkan suaminya dengan laki-laki lain. Akhirnya pasangan yang nyata di depan mata terasa penuh kekurangan, sementara orang lain tampak sempurna dari jauh.

Padahal kita hanya melihat bagian luar dari kehidupan orang lain. Kita tidak tahu ujian mereka, luka mereka, kekurangan mereka, dan masalah rumah tangga mereka. Maka berhentilah membandingkan. Syukuri pasangan yang Allah titipkan, perbaiki bersama, dan jaga hati dari ilusi bahwa rumput orang lain selalu lebih hijau.

Allah berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ

"Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka." (QS. Thaha: 131)

Terlalu sering melihat kehidupan orang lain dapat membuat hati lupa mensyukuri rumah sendiri.

3. Menasihati Pasangan Harus dengan Rahmat

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kekurangan pasangan boleh diperbaiki, tetapi jangan diperbaiki dengan cara yang menghancurkan. Nasihat bukan hinaan. Teguran bukan celaan. Perbaikan bukan mempermalukan. Bila ingin pasangan berubah, sampaikan dengan waktu yang tepat, kata yang lembut, dan niat yang tulus.

Rumah tangga bukan pengadilan tempat setiap kesalahan dihukum dengan kata-kata pedas. Rumah tangga adalah tempat dua manusia belajar menjadi lebih baik. Maka suami dan istri harus saling menasihati, tetapi dengan kasih sayang. Karena hati yang terluka sulit menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu benar.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

"Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik." (QS. An-Nahl: 125)

Nasihat yang lembut lebih mudah masuk ke hati.
Teguran yang penuh rahmat lebih mudah melahirkan perubahan.
Jangan memperbaiki pasangan dengan cara yang membuatnya merasa tidak berharga.

4. Sabar Bukan Membiarkan Kezaliman

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Perlu ditegaskan, sabar menghadapi kekurangan pasangan bukan berarti membiarkan kekerasan, pengkhianatan, maksiat, atau kezaliman terus berlangsung. Islam memuliakan kesabaran, tetapi Islam juga melarang kezaliman. Bila ada keburukan yang berat, maka harus dicari jalan perbaikan dengan ilmu, nasihat, musyawarah keluarga yang bijak, atau pihak yang berwenang bila diperlukan.

Sabar yang benar adalah sabar yang tidak kehilangan akal dan tidak meninggalkan syariat. Ia tetap berusaha memperbaiki. Ia tetap menjaga kehormatan. Ia tetap mencari jalan yang diridhai Allah. Maka jangan jadikan sabar sebagai alasan untuk terus menyakiti, dan jangan jadikan kekurangan pasangan sebagai alasan untuk berlaku zalim.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

"Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan ihsan." (QS. An-Nahl: 90)

Rumah tangga yang baik bukan hanya sabar, tetapi juga adil. Bukan hanya bertahan, tetapi bertahan di atas kebenaran dan rahmat.

5. Lihat Kekurangan Pasangan dengan Mata Rahmat

Jamaah yang dirahmati Allah,

Melihat pasangan dengan mata rahmat berarti menyadari bahwa ia sedang bertumbuh. Mungkin ia belum sempurna dalam bicara, belum sempurna dalam mengatur emosi, belum sempurna dalam tanggung jawab, atau belum sempurna dalam memahami kita. Tetapi selama ia mau belajar dan tidak menolak kebaikan, berilah ruang untuk berubah.

Doakan pasangan. Jangan hanya mengeluhkannya. Bimbing pasangan. Jangan hanya menuntutnya. Syukuri kebaikannya. Jangan hanya menghitung salahnya. Sebab banyak pasangan menjadi lebih baik bukan karena terus dicela, tetapi karena merasa dihargai, didoakan, dan diberi kesempatan memperbaiki diri.

Doa orang-orang beriman:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)

Doakan pasangan sebelum mengeluhkannya.
Bimbing dengan lembut sebelum menghukumnya dengan kata-kata.
Ingat kebaikannya sebelum membesar-besarkan kekurangannya.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita periksa hati. Apakah kita terlalu keras kepada kekurangan pasangan? Apakah kita lebih banyak menuntut daripada memperbaiki diri? Apakah kita sering membandingkan pasangan dengan orang lain? Apakah kita masih mampu melihat kebaikannya di tengah kekurangannya?

Ingatlah, pasangan kita tidak sempurna. Tetapi kita pun tidak sempurna. Rumah tangga bukan tempat dua manusia sempurna bertemu, melainkan tempat dua hamba Allah saling belajar, saling menasihati, saling memaafkan, dan saling menuntun menuju kebaikan.

Ya Allah, lapangkan hati kami menghadapi kekurangan pasangan kami.
Jadikan kami suami dan istri yang sabar, adil, dan penuh rahmat.
Jauhkan kami dari kebiasaan membandingkan, mencela, dan merendahkan.
Ajarkan kami memperbaiki dengan hikmah dan menasihati dengan kelembutan.
Jadikan rumah kami tempat tumbuhnya sabar, maaf, syukur, dan kasih sayang.

Sebab rumah tangga yang kuat bukan dibangun oleh pasangan yang sempurna, tetapi oleh dua hati yang mau saling memperbaiki karena Allah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang sabar, pasangan yang penuh rahmat, keluarga yang sakinah, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَزَوْجَاتِنَا، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ وَالْحِلْمَ وَحُسْنَ الْعِشْرَةِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ سَكِينَةٍ وَمَوَدَّةٍ وَرَحْمَةٍ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit