Sebelum Nama Kita Dipanggil Pulang
Jumat

Sebelum Nama Kita Dipanggil Pulang

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Sebelum Nama Kita Dipanggil Pulang

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kematian bukan cerita orang lain. Kematian adalah giliran yang sedang berjalan menuju kita. Kita tidak tahu kapan nama kita dipanggil. Kita tidak tahu di tempat mana napas terakhir berhenti. Kita tidak tahu apakah masih sempat meminta maaf, bertaubat, atau memperbaiki shalat.

Karena itu, orang beriman tidak menunggu kematian untuk sadar. Ia menjadikan setiap hari sebagai kesempatan memperbaiki diri. Ia tahu bahwa umur bukan sekadar waktu untuk hidup, tetapi waktu untuk menyiapkan perjumpaan dengan Allah.

Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan balasanmu." (QS. Ali 'Imran: 185)

Ayat ini mengingatkan bahwa kematian adalah kepastian, sedangkan balasan sempurna ada di akhirat. Maka jangan habiskan hidup hanya untuk yang akan ditinggalkan.

1. Nama Kita Sudah Ada dalam Ilmu Allah

Saudaraku kaum muslimin,

Ajal bukan kejadian yang datang secara kebetulan. Semuanya telah berada dalam ketentuan Allah. Tidak ada yang mati terlalu cepat, dan tidak ada yang hidup melewati batas yang Allah tetapkan. Bila waktunya tiba, tidak ada yang bisa menahan.

Manusia bisa menjaga kesehatan, bisa berobat, bisa berhati-hati dalam perjalanan, dan itu semua bagian dari ikhtiar. Namun pada akhirnya, hidup dan mati tetap di tangan Allah. Karena itulah hati harus selalu siap, bukan dengan ketakutan yang membuat putus asa, tetapi dengan iman dan amal yang membuat tenang.

Allah berfirman:

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

"Apabila ajal mereka telah datang, mereka tidak dapat menundanya sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya." (QS. Al-A'raf: 34)

Bila ajal tidak bisa ditunda, maka taubat jangan ditunda.
Bila kematian bisa datang kapan saja, maka shalat jangan ditinggalkan.
Bila hidup ini titipan, maka gunakanlah sebelum diambil kembali.

2. Jangan Menunda Taubat

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di antara penyakit hati yang paling berbahaya adalah suka menunda. Nanti kalau tua baru bertaubat. Nanti kalau lapang baru ke masjid. Nanti kalau hati siap baru berubah. Padahal tidak ada jaminan bahwa nanti itu akan datang.

Berapa banyak manusia yang menunda taubat, lalu ajal datang sebelum ia sempat kembali. Berapa banyak yang berkata masih ada waktu, tetapi waktu berhenti tanpa izin darinya. Maka jangan jadikan kata “nanti” sebagai penghalang antara kita dan ampunan Allah.

Allah berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)

Taubat bukan untuk ditunda sampai hari tua. Taubat adalah kebutuhan harian seorang hamba yang sadar bahwa dirinya lemah dan selalu membutuhkan ampunan Allah.

3. Perbaiki Shalat Sebelum Dishalatkan

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Selama ini kita sering mendengar azan. Suatu hari nanti, bukan lagi azan yang memanggil kita berdiri, tetapi manusia lain yang berdiri untuk menshalatkan jenazah kita. Selama ini kita bisa memilih untuk datang ke masjid. Suatu hari nanti, kita akan dibawa ke masjid dalam keadaan tidak bisa memilih.

Maka perbaiki shalat sebelum dishalatkan. Jawab panggilan azan sebelum panggilan kematian datang. Rukuk dan sujudlah selama tubuh masih mampu. Sebab shalat adalah bekal pertama yang sangat kita butuhkan dalam perjalanan panjang setelah kematian.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ

"Sesungguhnya amal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalatnya." (HR. Tirmidzi)

Jangan biarkan sajadah menjadi saksi bahwa kita jarang bersujud.
Jangan biarkan azan menjadi saksi bahwa kita sering menunda.
Jangan biarkan umur habis, sementara shalat belum kita perbaiki.

4. Maafkan dan Minta Maaf Sebelum Terlambat

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Sebelum nama kita dipanggil pulang, bersihkan hubungan dengan manusia. Minta maaf kepada orang tua, pasangan, anak, saudara, tetangga, dan siapa pun yang pernah kita sakiti. Jangan tunggu jenazah terbujur baru menangis karena belum sempat memaafkan.

Banyak hati yang berat karena dendam. Banyak hubungan yang rusak karena gengsi. Banyak saudara yang berjauhan karena satu ucapan. Padahal kematian bisa datang sebelum hati sempat berdamai.

Allah berfirman:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

"Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah." (QS. Asy-Syura: 40)

Memaafkan bukan berarti luka tidak pernah ada. Memaafkan adalah memilih akhirat lebih besar daripada dendam dunia. Minta maaf bukan tanda hina, tetapi tanda hati yang ingin bersih sebelum kembali kepada Allah.

5. Bekal Terbaik adalah Hati yang Kembali kepada Allah

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ketika seseorang dipanggil pulang, ia tidak membawa rumah, kendaraan, gelar, jabatan, atau simpanan harta. Semua tinggal. Yang ikut hanyalah amal. Yang menemani hanyalah iman. Yang menolong hanyalah rahmat Allah.

Maka jangan sibuk memperindah dunia, tetapi lupa memperindah hati. Jangan sibuk mengumpulkan bekal perjalanan dunia, tetapi lupa bekal perjalanan akhirat. Dunia hanya tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tempat kembali.

Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

"Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)

Bekal pulang bukan hanya kain kafan.
Bekal pulang adalah shalat yang dijaga.
Bekal pulang adalah taubat yang jujur.
Bekal pulang adalah sedekah yang ikhlas.
Bekal pulang adalah hati yang mencintai Allah.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Sebelum nama kita dipanggil pulang, mari kita pulang kepada Allah dengan taubat. Sebelum jasad dimandikan, mari kita bersihkan hati. Sebelum manusia menshalatkan kita, mari kita jaga shalat. Sebelum tanah menutup tubuh kita, mari kita tanam amal saleh.

Jangan tunggu kematian untuk sadar. Jangan tunggu kehilangan untuk bersyukur. Jangan tunggu sakit untuk ingat Allah. Jangan tunggu kubur untuk menyesal. Hari ini kita masih hidup, dan hidup hari ini adalah kesempatan besar.

Pulanglah kepada Allah sebelum dipanggil pulang.
Perbaikilah shalat sebelum dishalatkan.
Bersihkan hati sebelum jasad dikafani.
Minta maaf sebelum lisan terkunci.
Bertaubatlah sebelum pintu amal tertutup.

Semoga nama kita kelak dipanggil dalam keadaan husnul khatimah.

Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam ketaatan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, memperbaiki akhir hidup kita, menerangi kubur kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan ridha dan diridhai.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ أَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَنَوِّرْ قُبُورَنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit