Suami sebagai Pemimpin Amanah, Bukan Kesempatan untuk Berkuasa
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Suami sebagai Pemimpin
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam memuliakan rumah tangga dengan tatanan. Setiap rumah memerlukan arah. Setiap keluarga memerlukan penanggung jawab. Maka Allah menjadikan suami sebagai pemimpin dalam keluarga. Tetapi kepemimpinan ini tidak boleh dipahami sebagai hak untuk menyakiti, membentak, merendahkan, atau memaksa tanpa adab.
Seorang pemimpin sejati bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling besar tanggung jawabnya. Bukan yang paling ditakuti karena marahnya, tetapi yang paling dipercaya karena adil dan kasih sayangnya. Suami yang baik tidak menjadikan ayat kepemimpinan sebagai alat menekan istri, tetapi sebagai pengingat bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah berfirman:
"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (QS. An-Nisa: 34)
1. Pemimpin Keluarga Akan Ditanya oleh Allah
Saudaraku kaum muslimin,
Jabatan suami sebagai pemimpin bukan hanya dilihat oleh manusia. Allah melihat bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Allah melihat apakah ia menunaikan nafkah dengan halal, apakah ia menjaga shalat keluarganya, apakah ia mendidik anaknya, apakah ia lembut kepada istrinya, dan apakah ia adil dalam mengambil keputusan.
Banyak suami ingin ditaati, tetapi lupa bahwa sebelum meminta ketaatan, ia harus menjadi pribadi yang layak dipercaya. Ketaatan dalam rumah tangga tidak dibangun dengan ketakutan semata, tetapi dengan keadilan, tanggung jawab, dan keteladanan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Keluarga adalah amanah Allah.
Dan amanah akan ditanya satu per satu di hadapan-Nya.
2. Kepemimpinan Suami Harus Dihiasi Kasih Sayang
Jamaah yang dirahmati Allah,
Suami yang kuat bukan suami yang kasar. Suami yang tegas bukan suami yang zalim. Dalam Islam, kekuatan harus dibimbing oleh rahmat. Ketegasan harus dijaga dengan adab. Kepemimpinan harus dihiasi dengan kasih sayang.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah pemimpin terbaik, namun beliau paling lembut kepada keluarganya. Beliau tidak memimpin dengan penghinaan. Beliau tidak membangun rumah dengan kekerasan. Beliau menjadi teladan bahwa kemuliaan laki-laki tampak dari akhlaknya kepada orang yang paling dekat dengannya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku." (HR. Tirmidzi)
3. Nafkah adalah Amanah, Bukan Sekadar Uang
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di antara tanggung jawab besar suami adalah nafkah. Nafkah bukan hanya memberi uang, tetapi mencukupi kebutuhan keluarga dengan cara halal, menjaga kehormatan, menyediakan rasa aman, dan tidak menggunakan nafkah sebagai alat untuk merendahkan pasangan.
Nafkah yang halal akan membawa keberkahan. Mungkin jumlahnya tidak selalu besar, tetapi bila halal dan disertai tanggung jawab, ia bisa menumbuhkan ketenangan. Sebaliknya, harta yang haram atau nafkah yang diberikan dengan menyakiti hati akan menghilangkan keberkahan rumah.
Allah berfirman:
"Hendaklah orang yang lapang rezekinya memberi nafkah menurut kelapangannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya." (QS. Ath-Thalaq: 7)
Nafkah adalah ibadah.
Setiap rupiah halal yang diberikan untuk keluarga bisa menjadi pahala bila diniatkan karena Allah.
4. Suami Memimpin dengan Musyawarah, Bukan Ego
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Kepemimpinan tidak berarti semua keputusan harus lahir dari ego suami. Rumah tangga membutuhkan musyawarah, mendengar, memahami, dan menghargai pandangan pasangan. Istri bukan sekadar pelengkap yang tidak boleh bicara. Ia adalah pasangan hidup, ibu bagi anak-anak, dan sahabat dalam perjalanan menuju Allah.
Banyak masalah rumah tangga membesar karena suami merasa selalu benar. Padahal pemimpin yang baik bukan yang tidak pernah mendengar, tetapi yang mampu menimbang dengan adil. Musyawarah tidak mengurangi wibawa suami. Justru musyawarah menunjukkan kematangan iman dan akhlak.
Allah memuji orang beriman:
"Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka." (QS. Asy-Syura: 38)
5. Pemimpin yang Baik Menjaga Keluarga dari Neraka
Jamaah yang dirahmati Allah,
Tanggung jawab suami bukan hanya memastikan keluarga makan dan tinggal dengan layak. Lebih dari itu, ia harus menjaga keluarganya dari api neraka. Ia mengajak kepada shalat, mengingatkan dengan lembut, menanamkan tauhid, menjaga pergaulan, dan menjadi teladan dalam ketaatan.
Jangan sampai seorang suami hanya sibuk membangun rumah secara fisik, tetapi lupa membangun iman penghuninya. Jangan sampai ia bangga memberi dunia kepada anak dan istrinya, tetapi lalai menuntun mereka kepada akhirat. Rumah yang paling berhasil adalah rumah yang penghuninya saling menolong untuk selamat di sisi Allah.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)
Ia juga bertanya: sudah shalat belum?
Ia tidak hanya mencari dunia untuk keluarga.
Ia juga menuntun keluarganya menuju surga.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Wahai para suami, mari kita periksa diri. Apakah kepemimpinan kita membuat keluarga merasa aman atau takut? Apakah lisan kita meneduhkan atau melukai? Apakah nafkah kita halal dan penuh tanggung jawab? Apakah kita menjadi teladan shalat, akhlak, dan taqwa di rumah?
Jangan menjadikan kepemimpinan sebagai alasan untuk berkuasa tanpa kasih sayang. Jangan menjadikan ayat sebagai alat menekan, tetapi jadikan ayat sebagai pengingat amanah. Suami yang paling mulia bukan yang paling ditakuti, tetapi yang paling bertanggung jawab, paling adil, paling lembut, dan paling takut kepada Allah dalam mengurus keluarganya.
Lembutkan hati mereka kepada istri dan anak-anaknya.
Berkahilah nafkah mereka dan jauhkan dari yang haram.
Jadikan rumah mereka tempat tumbuhnya iman, kasih sayang, dan ketaatan.
Jangan jadikan kepemimpinan sebagai kesombongan, tetapi sebagai jalan pengabdian kepada-Mu.
Sebab suami yang sejati bukan yang hanya mampu memimpin rumah, tetapi yang mampu menuntun keluarganya menuju Allah.
Semoga Allah memperbaiki para suami, menguatkan para istri, memberkahi rumah tangga kaum muslimin, menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit