Toleransi dalam Bingkai Iman Teguh Berakidah, Santun Bermasyarakat
Jumat

Toleransi dalam Bingkai Iman Teguh Berakidah, Santun Bermasyarakat

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Toleransi dalam Bingkai Iman

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Toleransi dalam Islam bukanlah menganggap semua keyakinan sama. Toleransi juga bukan mengorbankan akidah demi diterima manusia. Toleransi adalah kemampuan hidup berdampingan dengan adab, menjaga hak sesama, tidak menzalimi, tidak memaksa, tidak menghina, dan tetap berpegang teguh pada ajaran Allah.

Seorang muslim beriman bahwa Islam adalah jalan kebenaran. Pada saat yang sama, ia juga diperintahkan berlaku adil, berbuat baik, menjaga perjanjian, menghormati hak warga, dan tidak menyakiti orang lain tanpa hak. Akidah yang lurus harus melahirkan akhlak yang indah, bukan kebencian yang merusak.

Allah berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

"Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat." (QS. Al-Baqarah: 256)

Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah tidak dibangun di atas paksaan. Kebenaran disampaikan dengan ilmu, hikmah, dan akhlak, bukan dengan kezaliman.

1. Teguh Akidah, Tidak Mencampuradukkan Keyakinan

Saudaraku kaum muslimin,

Toleransi tidak berarti mengaburkan batas akidah. Seorang muslim wajib menjaga tauhid, shalat, ibadah, dan keyakinannya. Kita menghormati hak orang lain untuk hidup aman, tetapi kita tidak boleh mencampuradukkan ibadah dan keyakinan. Kita berbuat baik kepada sesama warga, tetapi tetap jelas bahwa ibadah kita hanya kepada Allah.

Inilah prinsip yang harus dipahami agar umat tidak bingung. Dalam urusan sosial, kita berlaku baik dan adil. Dalam urusan akidah dan ibadah, kita tetap teguh. Dengan demikian, toleransi tidak merusak iman, dan keteguhan iman tidak merusak kerukunan.

Allah berfirman:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun: 6)

Akidah harus jelas.
Ibadah tidak boleh dicampuradukkan.
Namun dalam hubungan sosial, Islam tetap memerintahkan akhlak, keadilan, dan kebaikan.

2. Berbuat Baik kepada Sesama Warga

Jamaah yang dirahmati Allah,

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita bertetangga dengan banyak orang. Ada yang berbeda suku, adat, pilihan, bahkan keyakinan. Islam tidak melarang kita berbuat baik kepada mereka selama mereka hidup damai, tidak memerangi agama, dan tidak mengusir kita dari tempat tinggal. Kebaikan kepada sesama adalah bagian dari akhlak Islam.

Berbuat baik bisa berupa menjaga tetangga dari gangguan, membantu saat musibah, berkata sopan, berlaku jujur dalam transaksi, menjaga keamanan lingkungan, menghormati hak umum, dan tidak menyebarkan kebencian. Inilah wajah Islam yang rahmatan lil 'alamin: tegas dalam tauhid, indah dalam muamalah.

Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik dan adil kepada sesama warga yang hidup damai adalah bagian dari ajaran Islam.

3. Jangan Menghina Keyakinan Orang Lain

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Menjaga akidah tidak berarti boleh menghina keyakinan orang lain. Islam melarang ucapan yang memancing permusuhan dan mendatangkan kerusakan yang lebih besar. Dakwah harus disampaikan dengan hikmah, bukan dengan cacian. Kebenaran harus dijelaskan dengan ilmu, bukan dengan penghinaan.

Di tengah masyarakat majemuk, satu ucapan kasar bisa memicu luka panjang. Satu hinaan bisa menimbulkan balasan. Satu provokasi bisa mengganggu kerukunan. Maka jagalah lisan. Jangan jadikan agama sebagai alasan untuk berkata kotor. Agama yang suci harus disampaikan dengan akhlak yang suci pula.

Allah berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

"Janganlah kamu mencaci sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena nanti mereka akan mencaci Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu." (QS. Al-An'am: 108)

Dakwah bukan cacian.
Keteguhan iman bukan kekasaran.
Kebenaran harus dijaga dengan ilmu, hikmah, dan akhlak.

4. Kerukunan adalah Nikmat yang Harus Dijaga

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Kerukunan adalah nikmat besar. Dengan kerukunan, masyarakat dapat bekerja, belajar, beribadah, berdagang, dan membangun negeri dengan tenang. Jika kerukunan hilang, yang datang adalah curiga, takut, permusuhan, dan kekacauan. Karena itu, menjaga kerukunan adalah bagian dari menjaga kemaslahatan umum.

Namun kerukunan bukan berarti diam terhadap kezaliman. Kerukunan harus berdiri di atas keadilan. Semua pihak harus menjaga hak masing-masing, tidak memaksa, tidak menghina, tidak mengganggu ibadah, dan tidak merusak ketertiban. Kerukunan yang sehat lahir dari keadilan, bukan dari paksaan atau kemunafikan.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

"Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Kita dapat bekerja sama dalam kebaikan sosial, kemanusiaan, keamanan, dan kemaslahatan umum, tanpa mencampuradukkan akidah dan ibadah.

5. Toleransi Tidak Boleh Menjadi Lemah terhadap Kemungkaran

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ada pula yang keliru memahami toleransi. Mereka mengira toleransi berarti semua hal harus dibiarkan. Padahal Islam mengajarkan kasih sayang sekaligus amar makruf nahi mungkar. Kita harus santun, tetapi tidak boleh membenarkan kemaksiatan. Kita harus ramah, tetapi tidak boleh meninggalkan prinsip agama. Kita harus menjaga kerukunan, tetapi tidak boleh menjual akidah.

Jika ada kemungkaran, nasihatilah dengan cara yang baik. Jika ada pelanggaran, tempuhlah jalan yang benar. Jika ada perbedaan, hadapilah dengan ilmu dan adab. Jangan ekstrem dalam sikap: jangan keras tanpa hikmah, dan jangan lunak sampai kehilangan prinsip.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

"Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik." (QS. An-Nahl: 125)

Hikmah adalah jalan tengah yang mulia:
tegas menjaga prinsip,
santun menjaga hubungan,
dan bijak dalam memperbaiki keadaan.

6. Jadilah Muslim yang Menenteramkan Lingkungan

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Seorang muslim hendaknya menjadi sebab tenteramnya lingkungan. Tetangga merasa aman dari gangguannya. Masyarakat percaya kepada kejujurannya. Orang berbeda tidak takut terhadap kezalimannya. Ia dikenal sebagai pribadi yang menjaga ibadah, menjaga amanah, menjaga lisan, dan membawa manfaat.

Inilah nasionalisme yang indah dalam bingkai iman: mencintai negeri dengan menjadi warga yang baik, tetangga yang aman, pekerja yang jujur, anggota masyarakat yang adil, dan muslim yang menebar rahmat. Bangsa yang majemuk membutuhkan umat yang dewasa, berilmu, dan berakhlak.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Keselamatan dari lisan dan tangan adalah akhlak dasar. Dalam kehidupan berbangsa, akhlak ini harus meluas menjadi sikap tidak menzalimi, tidak memfitnah, dan tidak mengganggu ketenteraman umum.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah akidah kita sudah teguh? Apakah akhlak kita kepada sesama sudah santun? Apakah kita mampu berbeda tanpa menghina? Apakah kita mampu hidup rukun tanpa mencampuradukkan ibadah? Apakah kehadiran kita menenteramkan lingkungan atau justru menambah permusuhan?

Toleransi dalam bingkai iman adalah jalan keseimbangan. Kita tidak mengorbankan tauhid, tetapi juga tidak menzalimi manusia. Kita menjaga ibadah, tetapi juga menjaga muamalah. Kita tegas dalam prinsip, tetapi lembut dalam akhlak. Dengan sikap seperti ini, umat Islam dapat menjadi penjaga kerukunan dan kekuatan moral bagi bangsa.

Ya Allah, teguhkan akidah kami di atas tauhid dan sunnah Rasul-Mu.
Indahkan akhlak kami dalam bermasyarakat dan berbangsa.
Jauhkan kami dari sikap mencampuradukkan keyakinan, dan jauhkan kami pula dari kekasaran, kezaliman, kebencian, serta penghinaan kepada sesama.
Jadikan negeri kami negeri yang rukun, aman, adil, dan diberkahi.
Bimbing kami agar mampu hidup bersama dalam kebaikan tanpa kehilangan prinsip iman.

Sebab toleransi dalam bingkai iman adalah kemuliaan: teguh dalam akidah, santun dalam muamalah, adil dalam bermasyarakat, dan bijak dalam merawat kedamaian bangsa.

Semoga Allah menjaga iman kita, memperbaiki akhlak kita, merukunkan masyarakat kita, melindungi negeri kita dari fitnah dan permusuhan, menerima amal kita, mengampuni dosa kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخُلُقِ وَالْعَدْلَ وَالْحِكْمَةَ، اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَمُجْتَمَعَنَا وَبَلَدَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُصْلِحِينَ الرُّحَمَاءِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الظَّالِمِينَ وَلَا مِنَ الْمُفْسِدِينَ، وَاحْفَظْ بَلَدَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit