Ujian dalam Pernikahan Saat Cinta Diuji oleh Keadaan
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ujian dalam Pernikahan
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Rumah tangga yang diuji bukan berarti rumah tangga yang gagal. Setiap keluarga memiliki bagian ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan ekonomi, ada yang diuji dengan anak, ada yang diuji dengan mertua dan keluarga besar, ada yang diuji dengan jarak, ada yang diuji dengan sakit, dan ada pula yang diuji dengan sifat pasangan yang belum mudah dipahami.
Yang membedakan bukan ada atau tidaknya ujian, tetapi bagaimana suami dan istri menghadapinya. Apakah mereka saling menyalahkan atau saling menguatkan? Apakah mereka semakin jauh dari Allah atau semakin mendekat kepada-Nya? Apakah ujian menjadi api yang membakar rumah, atau menjadi jalan yang mematangkan cinta dan iman?
Allah berfirman:
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji?" (QS. Al-'Ankabut: 2)
1. Ujian Ekonomi Jangan Menjadi Sebab Saling Merendahkan
Saudaraku kaum muslimin,
Salah satu ujian besar dalam pernikahan adalah ekonomi. Ketika rezeki sempit, kebutuhan banyak, pekerjaan tidak stabil, atau hutang mulai menekan, rumah tangga mudah panas. Suami merasa berat, istri merasa khawatir, dan lisan bisa berubah menjadi saling menyalahkan.
Dalam keadaan seperti itu, suami harus tetap bertanggung jawab mencari nafkah halal, dan istri hendaknya menjadi penguat, bukan perendah. Istri pun berhak menyampaikan kebutuhan, tetapi dengan adab. Suami pun harus jujur dan terbuka, bukan lari dari tanggung jawab. Musyawarah, doa, ikhtiar, dan qanaah harus berjalan bersama.
Allah berfirman:
"Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan." (QS. Ath-Thalaq: 7)
Saat keadaan berat, jangan beratkan rumah dengan hinaan.
Saling kuatkan, karena Allah mampu membuka jalan dari arah yang tidak disangka.
2. Ujian Anak dan Keturunan Membutuhkan Sabar yang Panjang
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada pasangan yang diuji belum dikaruniai anak. Ada yang dikaruniai anak, tetapi diuji dengan kesehatan, pendidikan, pergaulan, atau sifat anak yang membutuhkan kesabaran. Semua ini bukan perkara ringan. Tetapi jangan jadikan anak atau belum hadirnya anak sebagai sebab saling menyalahkan.
Anak adalah amanah, dan keturunan adalah pemberian Allah. Yang belum mendapat anak hendaknya tetap berdoa, berikhtiar, dan saling menguatkan. Yang sudah mendapat anak hendaknya tidak lupa bahwa mendidik anak membutuhkan kerja sama, bukan saling lempar tanggung jawab.
Allah berfirman:
"Milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia menganugerahkan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan menganugerahkan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki." (QS. Asy-Syura: 49)
3. Perbedaan Karakter Jangan Menjadi Api Pertengkaran
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Suami dan istri datang dari latar belakang yang berbeda. Cara bicara berbeda, kebiasaan berbeda, cara menyelesaikan masalah berbeda, cara menunjukkan cinta pun bisa berbeda. Pada awalnya perbedaan tampak kecil, tetapi setelah lama hidup bersama, perbedaan itu bisa menjadi ujian.
Islam mengajarkan agar perbedaan dihadapi dengan rahmat. Jangan menuntut pasangan menjadi salinan diri kita. Belajarlah memahami, menasihati, dan menyesuaikan selama tidak melanggar syariat. Rumah tangga bukan tempat memaksa pasangan menjadi sempurna menurut selera kita, tetapi tempat dua insan saling belajar karena Allah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu akhlak darinya, ia akan ridha pada akhlak yang lain." (HR. Muslim)
Ingatlah juga kebaikan, pengorbanan, dan kesetiaannya.
Cinta yang matang belajar melihat dengan adil.
4. Ujian Keluarga Besar Perlu Adab dan Batasan
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Dalam pernikahan, ujian tidak selalu datang dari suami dan istri. Kadang datang dari keluarga besar, mertua, ipar, adat, atau campur tangan yang berlebihan. Di sinilah rumah tangga membutuhkan adab, kebijaksanaan, dan batasan yang baik.
Berbakti kepada orang tua tetap wajib. Memuliakan mertua adalah akhlak. Tetapi suami dan istri juga perlu menjaga kehormatan rumah tangganya. Jangan membuka semua masalah kepada banyak orang. Jangan menjadikan keluarga besar sebagai alat menekan pasangan. Selesaikan masalah dengan bijak, bukan dengan memperbesar api.
Allah berfirman:
"Perdamaian itu lebih baik." (QS. An-Nisa: 128)
5. Jadikan Ujian sebagai Jalan Kembali kepada Allah
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ujian rumah tangga akan terasa lebih berat bila Allah dilupakan. Tetapi bila suami dan istri kembali kepada Allah, ujian dapat menjadi sebab turunnya rahmat. Keduanya memperbaiki shalat, memperbanyak istighfar, saling mendoakan, menjaga lisan, dan mencari solusi dengan syariat.
Jangan menunggu rumah hampir runtuh baru mengingat Allah. Hadirkan Allah sejak awal. Bila ada masalah, shalatlah. Bila hati panas, berwudhulah. Bila lisan ingin melukai, diamlah. Bila pasangan lemah, doakanlah. Bila jalan buntu, kembalilah kepada Allah yang membuka semua jalan.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)
Bila rumah terasa berat, kuatkan dengan shalat.
Bila hati mulai jauh, dekatkan dengan doa.
Karena Allah mampu memperbaiki yang menurut manusia hampir mustahil.
Penutup Muhasabah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari kita periksa rumah tangga kita. Apakah ujian membuat kita saling menguatkan atau saling menyalahkan? Apakah kesempitan membuat kita semakin dekat kepada Allah atau semakin kasar kepada pasangan? Apakah masalah keluarga membuat kita menjaga adab atau membuka aib tanpa batas?
Ingatlah, cinta dalam pernikahan akan diuji oleh keadaan. Tetapi ujian tidak harus menghancurkan rumah. Ujian dapat menjadi jalan mematangkan iman, menguatkan sabar, melembutkan hati, dan memperdalam doa. Rumah tangga yang kuat bukan yang tidak pernah diuji, tetapi yang selalu tahu jalan pulang kepada Allah.
Jangan jadikan ujian sebagai sebab kami saling menyakiti.
Lapangkan rezeki kami, sabarkan hati kami, dan lembutkan lisan kami.
Jaga anak keturunan kami dan perbaiki hubungan keluarga kami.
Jadikan setiap ujian sebagai jalan kami semakin dekat kepada-Mu.
Sebab pernikahan yang diberkahi bukan yang bebas dari ujian, tetapi yang tetap kembali kepada Allah ketika cinta sedang diuji oleh keadaan.
Semoga Allah menguatkan rumah tangga kaum muslimin, memperbaiki hubungan suami istri, menyelesaikan masalah keluarga kita dengan rahmat, menjadikan rumah kita sakinah, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.
Khutbah Kedua
Semoga Bermanfaat bagi Ummat
SIPULANA Digital Khutbah Kit