Ulama dan Pejuang Bangsa Meneladani Keikhlasan Para Pendahulu
Jumat

Ulama dan Pejuang Bangsa Meneladani Keikhlasan Para Pendahulu

Habib Ismail Al Qadri 06 Jul 2026
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah Pertama

Ulama dan Pejuang Bangsa

Ulama dan pejuang adalah dua kekuatan yang sering bertemu dalam sejarah umat dan bangsa. Ulama membimbing dengan ilmu, fatwa, nasihat, doa, dan keteladanan. Pejuang bergerak dengan keberanian, pengorbanan, dan kesungguhan. Ketika ilmu dan keberanian berjalan bersama, perjuangan menjadi lebih terarah dan tidak kehilangan nilai.

Namun yang paling penting dari semua perjuangan adalah keikhlasan. Tanpa ikhlas, perjuangan berubah menjadi pencarian nama. Tanpa amanah, kekuasaan berubah menjadi alat kepentingan. Tanpa takwa, kemenangan dapat melahirkan kesombongan. Karena itu, mengenang para pendahulu harus membawa kita kepada muhasabah, bukan sekadar kebanggaan.

Allah berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 23)

Perjuangan sejati lahir dari kejujuran kepada Allah: berjanji untuk membela kebenaran, lalu membuktikannya dengan amal dan pengorbanan.

1. Jangan Melupakan Jasa Orang-Orang yang Berbuat Baik

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Islam mengajarkan kita untuk berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara kebaikan. Orang yang melupakan jasa manusia mudah menjadi generasi yang sombong. Ia menikmati hasil perjuangan tanpa rasa syukur, bahkan kadang merusak apa yang telah dibangun dengan susah payah.

Mengingat jasa ulama dan pejuang bukan berarti mengultuskan manusia. Kita tetap meyakini bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Namun Allah juga memerintahkan kita menghargai sebab-sebab kebaikan. Para pendahulu yang berjuang dengan ikhlas layak dikenang, didoakan, dan diteladani semangatnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Menghargai jasa pendahulu adalah bagian dari syukur.
Meneladani kebaikan mereka adalah bentuk syukur yang lebih tinggi.

2. Ulama Menjaga Arah Perjuangan dengan Ilmu

Saudaraku kaum muslimin, perjuangan tanpa ilmu mudah kehilangan arah. Keberanian tanpa bimbingan agama bisa berubah menjadi kemarahan. Semangat tanpa hikmah bisa berubah menjadi kerusakan. Karena itu, ulama memiliki peran besar dalam menjaga umat agar perjuangan tetap berada di jalan yang benar.

Ulama mengajarkan tauhid, menguatkan sabar, menanamkan keberanian, mengingatkan halal dan haram, serta menjaga agar umat tidak tertipu oleh hawa nafsu dan kepentingan dunia. Dalam membangun bangsa hari ini, kita tetap membutuhkan ilmu ulama agar kemajuan tidak kehilangan akhlak dan kekuasaan tidak kehilangan amanah.

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ilmu yang benar melahirkan rasa takut kepada Allah. Dari rasa takut itulah lahir amanah, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.

3. Pejuang Sejati Mengorbankan Diri, Bukan Mencari Pujian

Jamaah yang dirahmati Allah, pejuang sejati tidak hanya berbicara tentang pengorbanan. Ia memberi waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa demi kemaslahatan yang lebih besar. Banyak dari mereka tidak sempat menikmati hasil perjuangan. Banyak pula yang namanya tidak dikenal luas, tetapi Allah mengetahui amal mereka.

Hari ini, medan perjuangan kita berbeda. Tidak semua orang diminta mengangkat senjata. Namun semua orang diminta berkorban untuk kebaikan: jujur dalam pekerjaan, mendidik anak, menolong yang lemah, menjaga persatuan, menolak korupsi, memakmurkan masjid, dan membangun masyarakat dengan akhlak. Itulah perjuangan harian yang tidak boleh diremehkan.

Allah berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ

“Apa saja kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah.” (QS. Al-Baqarah: 110)

Perjuangan yang ikhlas tidak pernah hilang.
Walau manusia lupa, Allah tetap mencatatnya.

4. Keikhlasan adalah Ruh Perjuangan

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, keikhlasan adalah rahasia besar dalam amal. Ada amal yang tampak besar di mata manusia, tetapi kecil di sisi Allah karena penuh riya. Ada amal yang terlihat sederhana, tetapi besar di sisi Allah karena lahir dari hati yang bersih. Maka jangan hanya bertanya, “Apa yang telah kita lakukan?” tetapi tanyakan juga, “Untuk siapa kita melakukannya?”

Dalam membangun bangsa, keikhlasan sangat dibutuhkan. Pejabat bekerja bukan untuk pencitraan. Guru mengajar bukan sekadar gaji. Ulama berdakwah bukan untuk pujian. Warga membantu bukan agar disebut berjasa. Semua dilakukan karena Allah dan untuk kemaslahatan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ikhlas membuat amal sosial menjadi ibadah. Tanpa ikhlas, kebaikan mudah berubah menjadi alat mencari nama.

5. Jangan Mengkhianati Amanah Para Pendahulu

Jamaah Jumat yang berbahagia, para pendahulu berjuang agar generasi setelahnya hidup lebih baik. Mereka tidak ingin negeri ini dirusak oleh kebodohan, perpecahan, korupsi, kemalasan, narkoba, judi, dan hilangnya akhlak. Maka mengkhianati amanah mereka bukan hanya dengan melupakan sejarah, tetapi juga dengan merusak masa depan.

Jika kita menikmati kemerdekaan tetapi malas beribadah, malas belajar, tidak jujur bekerja, menyebarkan fitnah, dan merusak masyarakat, maka kita tidak sedang meneruskan perjuangan. Kita justru membebani bangsa. Amanah para pendahulu harus dijawab dengan amal saleh, pendidikan, persatuan, kejujuran, dan pengabdian.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)

Kemerdekaan adalah amanah.
Ilmu adalah amanah.
Jabatan adalah amanah.
Hidup di negeri ini juga amanah yang akan ditanya oleh Allah.

6. Meneruskan Perjuangan dengan Ilmu, Akhlak, dan Amal

Saudaraku kaum muslimin, generasi hari ini harus meneruskan perjuangan dengan cara yang sesuai zamannya. Anak muda berjuang dengan belajar dan menjaga akhlak. Orang tua berjuang dengan mendidik keluarga. Guru berjuang dengan ilmu. Pedagang berjuang dengan kejujuran. Aparat berjuang dengan menjaga keamanan. Pemimpin berjuang dengan keadilan. Ulama berjuang dengan dakwah dan nasihat.

Jangan merasa tidak punya peran. Setiap orang memiliki medan amal. Bahkan kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Negeri yang kuat bukan hanya dibangun oleh tokoh besar, tetapi oleh jutaan warga kecil yang jujur, sabar, disiplin, dan bertakwa.

Allah berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Bekerjalah kalian, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaan kalian.” (QS. At-Taubah: 105)

Meneruskan perjuangan bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi mengisi hari ini dengan amal yang diridhai Allah.

7. Doakan Para Pendahulu dan Jadilah Penerus Kebaikan

Jamaah yang dimuliakan Allah, jangan lupakan doa untuk para pendahulu. Doakan ulama, pejuang, guru, orang tua, dan orang-orang saleh yang telah berjasa. Semoga Allah menerima amal mereka, mengampuni kekurangan mereka, dan membalas pengorbanan mereka dengan kebaikan yang berlipat.

Namun doa saja belum cukup jika kita tidak meneruskan kebaikan. Jadilah generasi yang menjaga masjid, menjaga ilmu, menjaga persatuan, menjaga akhlak, dan menjaga negeri. Jangan menjadi generasi yang hanya bangga dengan sejarah, tetapi miskin kontribusi. Kemuliaan pendahulu harus menjadi pemacu amal, bukan sekadar bahan cerita.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

“Orang-orang yang datang setelah mereka berkata: Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Doakan pendahulu dengan tulus.
Teladani keikhlasan mereka dengan amal.
Lanjutkan kebaikan mereka dengan amanah.

Penutup Muhasabah

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita sudah menghargai jasa ulama dan pejuang? Apakah kita sudah mendoakan para pendahulu? Apakah kita meneruskan amanah mereka dengan kejujuran dan amal saleh? Ataukah kita hanya menikmati hasil perjuangan tanpa mau berkorban?

Ulama dan pejuang bangsa telah meninggalkan teladan besar: ilmu, keberanian, keikhlasan, pengorbanan, dan cinta kepada kebaikan. Tugas kita hari ini adalah menjaga amanah itu. Bukan dengan kesombongan sejarah, tetapi dengan ketakwaan, pendidikan, persatuan, kerja jujur, dan kepedulian kepada masyarakat.

Ya Allah, ampunilah para ulama, pejuang, guru, orang tua, dan seluruh pendahulu kami yang telah berjasa bagi agama dan negeri ini.
Terimalah amal mereka, balaslah pengorbanan mereka, dan jadikan kami generasi yang mampu meneruskan kebaikan mereka.
Jauhkan kami dari sifat melupakan jasa, mengkhianati amanah, mencari pujian, dan merusak negeri dengan dosa serta kelalaian.
Bimbing kami agar membangun bangsa dengan iman, ilmu, akhlak, keikhlasan, dan amal saleh.

Sebab meneladani ulama dan pejuang bukan hanya mengenang nama mereka, tetapi meneruskan keikhlasan, amanah, dan pengorbanan mereka dalam kehidupan hari ini.

Semoga Allah menerima amal kita, mengampuni dosa kita, memberkahi negeri kita, menjaga persatuan kita, dan memanggil kita kelak dalam keadaan husnul khatimah.

Khutbah Kedua

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَصَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِعُلَمَائِنَا وَمُعَلِّمِينَا وَآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَمَنْ سَبَقَنَا بِالْإِيمَانِ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُخْلِصِينَ وَالْمُجَاهِدِينَ وَالْمُصْلِحِينَ، وَاجْعَلْنَا خَلَفًا صَالِحًا لَهُمْ فِي الْخَيْرِ وَالْأَمَانَةِ، وَاحْفَظْ بَلَدَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْفِتَنِ وَالْفَسَادِ، وَاغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Semoga Bermanfaat bagi Ummat

SIPULANA Digital Khutbah Kit