Jika lapang engkau sombongkan, nikmat pun mudah disingkirkan.
ika sempit engkau sabarkan, pertolongan dekat, hati ditenangkan.
Syukur itu bukan hanya ucapan di bibir, tetapi kesadaran yang menetap di hati, lalu terlihat dalam sikap. Syukur membuat kita tidak mudah mengeluh, tidak gampang iri, dan tidak terus-menerus membandingkan hidup dengan hidup orang lain. Orang yang bersyukur tahu: setiap orang punya ujian, dan setiap ujian punya pelajaran.
Saat lapang, syukur diuji dengan kesombongan. Ketika rezeki bertambah, usaha lancar, atau pujian datang, jangan sampai hati merasa paling aman. Nikmat akan lebih lama menetap bila dirawat dengan rendah hati dan berbagi. Jika ada kelapangan, ringankan beban orang lain; jika ada kelebihan, jadikan ia jalan manfaat.
Saat sempit, syukur diuji dengan putus asa. Di fase ini, kita belajar bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana. Namun bukan berarti Allah jauh. Kadang Allah menahan sesuatu agar kita kembali memeriksa diri, meluruskan niat, dan memperbaiki cara. Kesulitan sering mengajari yang tidak diajarkan oleh kenyamanan: ketulusan, ketahanan, dan kedewasaan.
Syukur di saat sempit adalah kemampuan melihat celah kebaikan: masih ada napas, masih ada kesempatan memperbaiki diri, masih ada pintu doa yang terbuka. Syukur di saat lapang adalah kemampuan menahan diri dari pamer, menahan hati dari meremehkan, dan menahan tangan dari mengambil yang bukan hak.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, dalam sempit dan lapang.